
"Ada kabar bahagia nih buat kita semua," Zahra memulai topik pembicaraan, karena dirasa semua sudah selesai dengan makannya jadi Zahra mulai saja ngocehnya. Erna dan Herman menunggu apa yang akan disampaikan oleh besannya ini sedangkan Gibran, Keisya dan Vino diam karena mereka sudah tau apa yang akan diucapkan oleh Zahra jadi pura-pura bereaksi penasaran saja.
"Keisya hamil loh," akhirnya keluar juga ucapan yang ditunggu tunggu semua orang. Fitri yang sedang minum air langsung tersedak tetapi sayangnya tidak ada yang peduli mereka semua hanya fokus pada berita yang didengar itu, senyum bahagia tak lupa mereka sunggingkan sebagai rasa bahagianya. Keisya tersenyum tak kalah lebar kala melihat kedua orang tuanya bersyukur dan tak henti hentinya memuja pada yang maha Kuasa atas semua karunia ini. Wajah jengkel Fitri kian terukir.
"Selamat sayang, kamu bakal jadi Mama. Ibu harap kamu selalu jaga kandungan kamu yah," Erna memeluk putrinya dengan erat.
Vino, ekspresinya masih sama. Dingin. Satu kata untuk mengekspresikan sikapnya saat ini. Keisya menoleh sekilas, sejenak tatapan mereka bertemu namun Vino yang duluan memutus pandangan mereka membuat Keisya sedikit kecewa.
"Pas banget ya berita bahagia ini jatuh pada tanggal lahir Keisya, selamat yang kedua kalinya untuk kamu sayang karena sudah berumur 19 tahun," ucap Zahra. Keisya langsung sadar, oh iya ya hari ini kan hari ulang tahunnya kok bisa lupa, Keisya menepuk dahinya pelan.
"Kue nya dulu ya, hadiahnya nyusul besok," Zahra membawakan sebuah kue tart besar yang dia pesan dari temannya yang katanya pandai buat kue, desain kue nya sangat cantik dan bertingkat dua. Kue ini mirip sekali dengan kue pernikahan yang selalu dibuat untuk acara nikahan. Keisya tak bisa berkata-kata karena bahagia, tau gak kenapa? Karena ini baru pertama kali Keisya mendapat perayaan mendadak seperti ini biasanya sih dia rayain sendiri kadang juga dirayain sama kedua orang tuanya tapi gak pake kue pake roti hehe lumayan kan tapi alhamdulillah Keisya bahagia, tapi sekarang dia tak kalah bahagianya sampai air matanya netes sedikit saking terharunya.
"Gak perlu pake lilin ya karena gak boleh berdoa sebelum meniup lilin, haram," Zahra meletakkan kue besar tersebut didepan Keisya yang lain hanya menonton. Vino seperti tidak peduli dia lebih memilih memainkan ponselnya sepertinya dia juga kesal.
"Mau potong sekarang?" tanya Zahra, Keisya menjawab dengan anggukan kepala. Zahra berjalan kedapur untuk mengambil pisau dan piring kecil.
"Vino cepat bantu Keisya potong kuenya," Zahra menyerahkan pisau yang dibawanya dari dapur, dengan malas Vino meraihnya. Karena tidak mau terlihat dingin didepan orang tua Keisya Vino berusaha memaksakan senyumnya.
__ADS_1
"Suapan pertama buat siapa nih?"
"Buat Ibu sama Bapak," jawab Keisya seraya menyuapi Erna dan Herman.
"Terus yang kedua buat Mama sama Papa," Keisya berjalan kearah Zahra dan Gibran lalu menyuapinya dengan kue. Mengutamakan orang tua itu penting ya readers, kalo aku salah maaf ya hehe...
Untuk suapan yang ketiga, Keisya melihat kearah Vino yang tidak sedang menatapnya malah sibuk memotong sisa kue. Agak canggung ya kalo sedang bermasalah begini, saling tatap pun jadi ragu. Vino menerima suapan kue terakhir dari Keisya tanpa senyuman sedikitpun. Fitri yang disana merasa seperti anak yang terbuang karena daritadi tidak dipedulikan. Tanpa pikir panjang Fitri mencomot potongan kue yang sudah dipotong rapi oleh Vino, tanpa disuruh dia sudah memakan dengan lahap. Anggap saja dessert gumam Fitri dalam hati. Semua yang disana bertepuk tangan.
Karena sudah selesai dengan acaranya, mereka semua melanjutkan dengan acara nobar alias nonton bareng diruang tengah, sudah seperti bioskop ya rumah ini. Gak apa-apa yang penting tempatnya luas mau duduk lesehan pun bisa.
"Vino mau kemana?" tanya Zahra membuat yang lain mengalihkan atensinya kearah Vino. Vino sudah siap ingin menaiki anak tangga tapi dicegah oleh Zahra, ditangnnya penuh dengan toples cemilan yang akan disajikan sebagai teman nonton TV biar gak bosan bosan amat.
"Mau ke kamar, ada sesuatu yang harus Vino kerjakan sebentar," jawab Vino datar.
"Loh kamu gak ikut nonton bareng kita?"
"Gak dulu, lagi sibuk," Vino berlalu pergi dan memilih untuk tidak mengiraukan panggilan Zahra yang nyaring ditelinganya namun perlahan hilang karena jaraknya sudah jauh.
__ADS_1
Vino menjambak rambutnya frustasi, sebenarnya dia tidak tega mendiami Keisya dan Vino sadar ini semua salahnya tapi untuk sementara Vino juga butuh waktu untuk sendiri sepertinya, jika dia tahan untuk tidak menatap Keisya tentunya.
"Kei boleh kesini sebentar," Zahra memanggil Keisya dengan suara pelan takut mengganggu tamunya yang sedang asik nonton film horor.
"Ada apa Mah?" tanya Keisya setelah sampai didepan Zahra.
"Kamu ada masalah sama Vino, kok Mama lihat dari tadi kalian diem dieman terus biasanya kan Vino manja banget sama kamu apalagi ini hari ulang tahun kamu?" Ternyata Zahra sudah memperhatikan gerak-gerik aneh dari mereka berdua. Keisya menunduk, mau jujur malu juga karena permasalahannya ini sedikit vulgar.
"Gak ada kok Mah, kita baik-baik saja. Kak Vino mungkin sedikit lelah," jawab Keisya setegar mungkin. Volume TV cukup besar jadi percakapan mereka gak kedengeran.
"Memangnya Vino habis ngapain sampai lelah gitu, orang dia kerja aja nggak tadi pagi kan dia nemenin kamu dirumah seharian. Udah Keisya jujur saja sama Mama, siapa tau Mama bisa tolongin selesaikan masalah kalian berdua jika Vino gak mau bisa Mama marahin bila perlu coret namanya dari KK, kamu jujur saja yah jangan takut Mama gak bakalan ngehujat kamu, Mama juga akan bersikap adil tidak akan memihak salah satu diantara kalian kecuali kalau ada satu pihak yang salah baru Mama bela pihak yang benar," jelas Zahra membujuk agar Keisya bercerita. Ini kok lebih kayak lagi di persidangan ya. Keisya memutar otaknya, cerita gak yah aduh malu pastinya. Takut membuat Mama mertuanya penasaran akhirnya Keisya membuka suara dan menceritakan semuanya walaupun wajahnya sudah memerah menahan malu, melihat ekspresi Keisya yang malu-malu Zahra mengusap pundaknya seolah mengatakan 'tidak apa-apa ceritakan saja semuanya tidak perlu malu' kurang lebih begitu lah ya. Zahra manggut-manggut setelah mendengar akar pemasalahan dari semua yang ia perhatikan daritadi, susah sih buat memutuskan siapa yang salah disini karena keduanya sama-sama salah. Tapi lebih ke Vino yang salah sih. Coba saja dia tidak melakukan hal itu pasti sikap Keisya tidak ketus. Tau ah Zahra juga ikutan pusing, yang tadinya mau memberi saran dia juga yang bingung.
****
Huhu maaf jika episode satu ini gak jelas😭🙏.
Jangan lupa komen!!
__ADS_1