Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
52


__ADS_3

"Om minta makan dong, Keisya lapar," rengek Keisya pada salah satu berandal yang ditugaskan buat ngejaga Keisya disatu ruangan itu.


"Dih emang gue orang tua lo? Minta sama emak lo sono," ketus nya. Tubuhnya banyak dengan tato namun wajahnya tidak terlalu sangar dan terkesan dibuat-buat agar lawannya takut dengannya.


"Kan Keisya ada disini sama Om, jadi mintanya sama om lah gimana sih," protes Keisya. Yang bener saja nih penculiknya padahal mereka yang bawa Keisya kesini.


"Lah iya juga ya, ehh bukan gue yang culik lo bocah. Gue gak niat buat culik lo, rekan gue tuh yang stres pake acara nyulik segala kayak sudah berpengalaman saja," ujar nya lagi seraya membuang puntung rokoknya.


"Sama aja sih, Om juga ikutan. Ya udah sini mana makanannya," Keisya kembali merengek.


"Makan batu mau?"


"Ahh Om gak asik, candaannya garing," kekeh Keisya.


"Gue gak bercanda, gue serius."


"Eh ngomong-ngomong kok lo tenang banget deh perasaan daritadi, padahal lagi diculik loh harusnya kan panik," pria itu menghampiri Keisya lalu kemudian jongkok dihadapan gadis itu.


"Kalo takut sih iya. Tapi Keisya yakin semua keluarga Keisya akan datang buat selamatin Keisya," Keisya menampilkan senyum manisnya. Sementara pria itu hanya mengernyit heran tidak mengerti jalan pikiran Keisya. Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan lelaki dengan badan sedikit kekar dan tato memenuhi lengannya, tangannya menenteng sebuah tas kresek sepertinya dia membawa sesuatu.


"Nih makan!" pria yang lainnya tadi menyerahkan tas kresek tadi kedepan wajah Keisya. Keisya hanya menatapnya bingung.


"Gak mau ambil hah? Gak laper?" tanya dia lagi seraya menggoyangkan tas kresek itu. Keisya menghela nafas kesal.


"Ya gimana Keisya bisa ambil sedangkan kaki sama tangan Keisya diikat, mau ambil pake mulut kan gak estetik," dengus nya. Pria itu berfikir sebentar, ada benarnya juga dia sendiri yang bodoh.


"Lo malu-maluin banget jadi orang," sahut pria yang tengah jongkok depan Keisya.

__ADS_1


"Ya mana gue tau, gue tadi cuma gak fokus aja jadinya gini," elaknya.


"Halah bilang aja lo lemot," pria itu langsung meraih tas kresek dari tangan temannya lalu menatap Keisya kembali. Keisya sudah berbinar melihat yang ada didalam bungkusan itu.


"Om lepasin tangan Keisya, Keisya mau makan sekarang," rengeknya lagi. Pria itu menatap satu sama lain berusaha mempertimbangkan permintaan Keisya.


"Sudah lah tenang saja, Keisya gak bakal kabur kok cuma mau makan doang, lagian kalo Keisya kabur juga pasti ketangkep lagi," Keisya yang paham arti tatapan mereka berdua langsung menengahi mereka berdua. Keduanya langsung mengangguk menyetujui perkataan Keisya dan segera membuka ikatan ditangan gadis itu agar dia bisa makan. Keisya langsung melahap nasi itu karena dia sudah sangat lapar, sudah seharian penuh belum makan sejak dia diculik. Kedua pria itu hanya menatap Keisya yang tengah makan dengan wajah melongo, gadis dengan badan kecil bisa makan nasi sebanyak itu dengan sekai lahap. Gak tau mereka kalo Keisya lagi hamil, maklum badannya yang kecil jadi perutnya tidak kelihatan membesar, lagian baru 3 bulan juga.


"Nih Om makasih ya, Keisya sudah kenyang," dia menyerahkan bungkus masi itu ke tangan pria yang pertama .


"Gak sekalian lo makan bungkusnya saja," ujarnya malas karena cuma diberi bungkusnya sekalian kek sama nasinya.


"Nggak, Keisya alergi bungkus nasi."


Pria itu memutar bola matanya malas kemudian membuang bungkus nasi ke sembarang tempat. Keisya dengan entengnya menyerahkan kedua tangannya untuk diikat lagi membuat kedua pria itu kembali melongo.


"Om Keisya ngantuk, nyanyiin lagu tidur dong," pinta Keisya seraya memasang puppy eyes.


"Apa liat-liat? Gue geplak mau?" ujarnya geram.


"Om gak cocok jadi galak, wajahnya aja gemoy gitu siapa yang bakalan takut coba," kekeh Keisya.


"Anjir, gue sudah berusaha buat jadi galak sampai lengan gue penuh tato malah dibilang gemoy, sia-sia sudah les gue selama ini."


"Lah Om masih sekolah? Keisya lebih tua dong dari Om karena Keisya sudah lulus, ya udah Keisya panggil adik saja ya biar bagus, nama Om siapa?" tanya Keisya dengan polosnya. Pria itu menggeram kesal, gadis didepannya sudah seperti bayi menurutnya.


"Lo pikir les cuma untuk anak sekolahan hah?"

__ADS_1


"Lah terus les apaan, kan les cuma buat belajar."


"Ada les untuk jadi berandal, lo mau ikutan gak gue bayarin deh," lah si Om malah promosi depan Keisya haha.


"Eh emang boleh? Ada les buat tato juga gak?" Keisya terlihat antusias.


"Jelas ada lah."


"Ihh mau!! Keisya mau request tato gambar upin ipin boleh kan? Sekalian gambar opahnya juga soalnya ngefans berat." Mata Keisya tampak berbinar.


"Ni bocah otaknya kek nya ketinggalan dirumah," pria itu mendesah pelan. Pintu terbuka lebar menampakkan Reno dengan outfit hitamnya melangkah masuk. Tiba-tiba Keisya berubah takut karena masih trauma dengan pria itu saat dirinya dibuat pingsan sampai tiga kali. Reno membuka maskernya kemudian duduk disofa panjanh yang lapuk tempat duduknya para berandal yang lain. Sejenak tatapan mereka berdua bertemu membuat Keisya langsung membuang muka dengan cepat, takut menatap pria itu. Reno yang melihat itu menyeringai seram karena senang telah membuat gadis itu takut dengannya.


"Eh Ren, lo ketemu dimana sih sama nih bocah?" tanya pria itu sembari menghampiri Reno disofa.


"Biasalah, gue cuma nurutin kata pacar gue doang," kekeh Reno sambil menyalakan rokoknya dengan pemantik yang ada disaku hoodie nya. Reno dan Vilia pacaran ya, tapi Vilia gak beneran cinta sama si Reno karena kan dia cintanya sama Vino doang ya kali mau berbagi hati. Lagian ini juga syarat dari Reno kalo Vilia mau jadi pacarnya otomatis Reno akan membantunya menjalankan rencananya, dengan senang hati Vilia menerimanya sayang kan kalo harus ngeluarin duit buat nyewa penjahat untuk nyulik si Keisya jadi Reno dimanfaatin aja mumpung syaratnya gak terlalu membebani pikirannya, itu sih yang ada dipikiran Vilia padahal dia gak tau aja kalo Reno ini tergila-gila padanya hanya saja tidak menunjukkan nya.


"Dih bulol lo jadi orang," sahut pria itu.


"Bulol apaan dah?" Reno menggaruk tengkuknya bingung.


"Bucin tolol," semprotnya yang sukses membuat Reno emosi.


"Terus mau sampai kapan kalian sembunyiin tuh bocah? Kalo polisi tau gue gak ikut campur ya, gue jera masuk tahanan."


"Pengecut banget jadi orang."


"Emangnya lo mau masuk penjara?"

__ADS_1


"Nggak."


"Bang*at!!"


__ADS_2