Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
73


__ADS_3

"Sekarang kakak akan kemana dengan koper itu?" tanya Keisya setelah merasa Fitri mulai tenang.


"Aku akan pergi sejauh mungkin, aku malu tinggal dengan mereka lagi, bahkan minta maaf saja tidak cukup untuk membayar semua kesalahanku pada mereka," Fitri menautkan jarinya memikirkan tempat yang akan ia tempuh untuk menghindat sementara.


"Bagaimana kalo tinggal disini saja?" tawaran Keisya sangat bagus, tapi tidak. Fitri tidak mungkin tinggal disini, ini sama saja merepotkan. Fitri menggeleng pelan, menatap manik mata Keisya lekat.


"Nggak Kei, aku akan pergi dari kota ini. Tolong sampaikan rasa terima kasih dan maaf ku untuk Ibu sama Bapak, aku belum sempat menemui mereka karena rasa malu dan marah sudah menguasai diriku, jadi aku tidak punya pilihan lain selain kabur, aku mengemasi barang-barangku dan langsung kesini," jelas Fitri, air matanya kembali turun.


"Kakak gak bisa pergi gitu aja, Ibu sama Bapak sangat menyayangi kak Fitri, jika mereka tau kakak pergi mereka pasti akan sangat sedih terutama Ibu, setiap malam sebelum aku tidur Iu selalu menceritakan bagaimana prestasi yang kakak dapatkan waktu sekolah, aku jadi termotivasi untuk mengikuti jejak kakak. Disetiap cerita Ibu, nama kakak tidak pernah tertinggal, sebegitu sayangnya mereka sama kakak."


Fitri tersenyum bahagia mendengar penuturan Keisya, ada sedikit kehangatan menyelimuti hatinya yang selama ini ditutupi oleh kebencian.


"Aku bahagia mendengarnya. Tapi Keisya, disini aku yang salah. Aku butuh menenangkan diri dulu, aku tidak tau kapan aku akan kembali lagi yang jelas aku akan menemui mereka berdua jika aku sudah siap."


"Ngomong-ngomong, masalah itu apa kakak diceritakan atau tidak sengaja mendengarnya?" Keisya menggigit bibir bawahnya takut salah bicara.


"Aku tidak sengaja mendengarnya saat aku hendak masuk rumah malam itu. Jujur saja hari itu aku sangat marah dan emosi karena mereka tidak mau jujur akan hal ini tapi disisi lain aku merasa bersyukur karena bisa merasakan kasih sayang orang tua terhadapku walaupun aku bukan anak kandung," Fitri tersenyum kecut.


Fitri melirik ponselnya, ada notif masuk sepertinya dari temannya.


"Kei, aku harus berangkat sekarang temanku sepertinya sudah menunggu lama. Sekali lagi aku minta maaf dan sampaikan juga pesanku pada mereka, bilang bahwa aku juga sangat menyayanginya. Caraku ini memang salah, tapi jika kamu berada di posisiku pasti kamu akan melakukan hal yang sama," Fitri berdiri diikuti Keisya, sepertinya gadis kecil itu belum siap melepas kepergian kakaknya.


"Kak, tidak bisakah kita menemui mereka dulu, aku takut mereka sedih," Keisya memainkan jarinya ragu dengan ucapan tadi.


"Tidak bisa Kei, ini sudah keputusanku. Tapi aku janji akan kembali dan menemui mereka lagi termasuk kamu, aku pergi ya. Jaga diri baik-baik, jangan durhaka sama suami karena itu gak boleh," sejenak Fitri merengkuh tubuh kecil itu ke pelukannya sebagai tanda perpisahan sembari memberinya nasihat. Keisya tidak bisa menahan tangisnya, dan seketika pecah kala Fitri sudah memijakkan kaki keluar rumah, disana tampak sebuah mobil yang diduga adalah teman Fitri tengah melambai kearahnya.


....

__ADS_1


....


"Lo beneran mau tinggal di rumah gue?" tanya Sita memastikan seraya mengemudikan mobilnya membelah jalanan, tatapannya fokus ke depan.


"Iya, mumpung rumah lo jauh dikit jadi gue bisa menghindar dari keluarga gue dulu, huh sekarang menyebut mereka keluarga jadi terasa asing di lidah gue," kekeh Fitri.


"Tapi.."


"Tenang aja, gue bakalan kerja mulai besok biar bisa bayar biaya selama gue tinggal di rumah lo," Fitri memotong ucapan Sita


"Bukan itu anjir, gue cuma mau memastikan lo nyaman gak tinggal bareng sama abang gue?" Sita mencebik kesal.


"Ya selama ada lo disana kenapa tidak? Mending gue cuma berdua sama abang lo baru tuh patut dipertimbangkan."


"Ya juga sih, oke deh gimana nyamannya elo," Sita mengedikkan bahunya, sebenarnya ada hal yang ingin ia ungkapkan pada Fitri tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat.


Fitri dihadapkan dengan rumah besar namun tidak sebesar rumah Vino, tapi ideal lah untuk keluarga beruang itu tinggal, maksdunya keluarga Sita. Usai memarkirkan mobilnya di bagasi, Sita bergegas menghampiri Fitri yang masih berdiri didepan rumahnya.


"Sit, rumah lo gede banget," ungkap Fitri jujur.


"Astaga Fitri, kandang kambing ini dibilang gede. Aduh kayaknya lo harus le dokter mata deh," Sita geleng-geleng kepala mendapat pujian dari Fitri, mengingat perempuan didekatnya ini sangat jarang memuji orang termasuk sahabat dekatnya sendiri, karena Fitri dikenal dengan orang yang gengsi tapi gak tau kenapa sikapnya berubah 360 derajat sekarang.


"Lo kali yang harus ke dokter mata," Fitri menoyor kening Sita pelan.


"Udahlah, kita masuk saja gak enak diliat tetangga berdiri depan rumah kayak patung penjaga."


"Disini kamar lo, udah gue rapihin kemarin bareng abang gue jadi gak betantakan lagi," Sita nyengir kuda menampilkan gigi putihnya berderet rapi.

__ADS_1


"Mmm Sit, lo udah minta persetujuan kan sama abang lo kalo gue bakal tinggal disini? Takutnya nanti dia gak terima dan berakhir ngusir gue."


"Santai, abang gue gak masalah kok. Lo mau bawa satu kabupaten tinggal disini juga dia gak bakal marah," Sita mengelus pundak Fitri.


"Syukur deh, gue jadi bisa tenang sedikit untuk sementara. Tapi gue janji setelah gue bisa menghasilkan uang sendiri gue bakal nyari kos dekat sini."


"Lo tinggal selamanya disini juga gak masalah. Ya udah sana ganti baju lo habis itu kita makan soalnya sudah masuk jam makan siang, tadi abang gue masak nasi goreng," tutur Sita lalu pergi membiarkan Fitri terbiasa dengan kamar barunya.


Setelah ganti baju Fitri menghampiri Sita di meja makan, tengah main ponsel. Makanan sudah siap depan mereka tinggal disantap doang.


"Eh Fitri, kenapa gak bilang kalo lo udah sampai," Sita menyimpan ponselnya kemudian mempersilahkan Fitri duduk. Rumah ini sangat sepi, hanya mereka berdua. Bahkan pelayan pun tidak ada.


"Sita, by the way abang lo dimana? Lagi keluar ya?" tanya Fitri disela kunyahan nya. Sita mengangguk mengiyakan.


"Katanya pergi reuni bareng kawannya."


"Berarti lo berdua doang dong sama abang lo disini?"


"Nggak, rame kok disini. Ada cicak, tikus, tokek, nyamuk dan kawan-kawan."


"Sita, gue serius ih," Fitri mendengus.


"Lagian pertanyaan lo konyol banget, namanya juga gue tinggal bareng abang gue ya pasti berdua lah."


***


Mungkin besok up nya agak jarang karena dikejar tugas, pusing banget bingung mau selesaiin yang mana huwaaa😫😫. Lama-lama author depresi nih gara-gara tugas...

__ADS_1


__ADS_2