
Keisya mengetuk kaca mobil yang segera diturunkan oleh Vino. Wajahnya terlihat tidak bersahabat, akan jadi perang dunia ketiga nih batin Keisya.
"Ngapain balik? Pergi aja sono sendiri gak usah pedulikan suamimu yang tidak berguna ini, apalah dayaku yang selalu dilupakan. Gapapa aku ditinggali disini sampai besok, aku rapopo" Vino sok dramatis.
"Dih dramatis banget. Iya deh iya maaf, tadi gak sempat habisnya kangen sama Ibu ya jadi gini."
Vino tidak mempedulikan ucapan Keisya dan masih asik dengan aksi ngambeknya yang dibuat-buat.
"Aduh cara luluhin gimana ya?" Ditengah kebingungan Keisya ada Vino yang tersenyum puas.
"Cium!" ujar Vino tiba-tiba.
"Hah? Apaan?" Keisya terkejut.
"Cara biar aku berhenti ngambek, kalo gak mau ya sudah aku ngambek sampe besok," Vino kembali dengan wajah cemberut nya.
"I-iya tapi ini kan tempat umum," tolak Keisya.
"Masuk dalam mobil dan lakukan tugasmu sayang," Keisya mendengus kesal dan segera jalan memutari mobil. Setelah masuk mobil Vino langsung menyodorkan wajahnya untuk dicium.
Tanpa pikir panjang Keisya mencium pipi Vino sebelah kanan dan kiri.
"Udah, ayo turun!" ajak Keisya.
"Inget ya ini belum selesai, nanti dirumah harus 10 kali lipat."
"Ihh kok gitu, kan tadi udah," Keisya lagi-lagi protes.
"Gak mau tau, harus pokoknya. Nanti aku tagih ya cantik," Vino tersenyum bangga, Keisya mendelik tajam.
Vino meyalami Erna agar terlihat sopan didepan mertua..
__ADS_1
"Ayo semuanya masuk, bapak sepertinya sudah menunggu didalam," Erna mengajak kedua sejoli ini. Keisya tak lupa menyerahkan oleh-oleh dari Zahra berupa buah dan kue buatan rekan mama mertua. Erna menerimanya dengan sungkan, kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan minuman. Herman keluar dengan selimut yang masih melilit tubuhnya.
"Ohh ternyata kalian berdua, kalian sehat kan?" tanya Herman.
"Alhamdulillah sehat Pak, Bapak kondisinya gimana? Kata Ibu maag bapak kambuh lagi? Lain kali bapak jangan tunda makan, Keisya takut nanti maag nya semakin parah," Keisya mendekati bapaknya kemudian memijit pelan kaki Herman agar merasa baikan.
"Kamu gak perlu khawatir Kei, bapak sudah baikan. Bapak juga jera nunda makan, bapak janji akan makan tepat waktu mulai hari ini," ujar Herman yang membuat Keisya sedikit tenang.
"Kak Fitri mana Pak?" tanya Keisya, masih sempat-sempatnya nanyain tentang Fitri.
"Ada dikamarnya."
"Loh kak Fitri gak kuliah?"
"Kata Fitri jam masuknya siang karena dosennya lagi dirumah sakit," jelas Herman. Keisya mengangguk paham.
"Kenapa? Kangen?" Fitri muncul dari kamarnya. Raut wajahnya sedikit bersahabat tapi masih saja ketus menurut Keisya.
"Dih sok akrab," gumam Fitri pelan tapi tetap saja bisa didengar oleh semua yang ada disana. Keisya refleks tertawa kaku. Vino tidak terima jika istrinya dikatai seperti itu meskipun Fitri adalah kakaknya tapi kelakuannya sangat tidak sopan, tidak berperasaan. Ingin sekali rasanya Vino mengatai Fitri dengan keras didepan wajahnya agar berlaku sedikit sopan pada Keisya.
Erna datang membawa tiga gelas berisi teh manis, dan sebagai cemilannya kue yang dibawa Keisya tadi karena Erna belum pergi ke pasar jadi tidak ada apa-apa dirumah. Lanjut mereka berbincang masalah keseharian dan pekerjaan.
"Bapak berhenti saja jadi petugas parkir di perusahaan," tiba-tiba Vino membuka suara, kalimatnya tentu saja membuat yang ada disana hampir salah paham.
"Jadi kak Vino pecat bapak? Kok Kakak tega banget sih," protes Keisya tidak terima, gini nih kalo motong pembicaraan orang ya jadi salah paham.
"Bukan Keisya, makanya denger dulu! Tujuanku itu mau jadiin Bapak sebagai manajer produk di perusahaan mumpung belum ada yang isi," jelas Vino panjang lebar.
"Aduh gimana ya, bapak tidak ahli dalam hal begitu," Herman terdengar ragu.
"Kenapa tidak? Bapak cuma perlu mengarahkan saja pada tim produksi yang lain, bapak juga hanya memeriksa dan menganalisis hasil kerja selama sebulan," ucap Vino lagi.
__ADS_1
"Bapak masih tidak yakin dengan itu, keahlian bapak ya cuma jadi tukang parkir," jawab Herman masih belum menerima tawaran menantunya itu.
"Tapi dengan kondisi bapak yang seperti ini masih mau jadi petugas parkir ditengah panasnya matahari. Tapi jika bapak tetap menolak saya akan mencarikan tempat yang cocok untuk bapak di perusahaan asal jangan jadi petugas parkir lagi, saya khawatir dengan kondisi bapak." Herman begitu tersentuh dengan perhatian Vino.
"Oh iya ada yang mau Keisya sampein ke bapam sama Ibu bahwa nanti sore kak Vino ajak Keisya pergi ke luar negri untuk lima hari saja."
"Kalo itu sih kan terserah kalian berdua saja, yang penting selalu ingat pesan bapak sama ibu harus hati-hati dan sebelum berangkat berdoa dulu meminta perlindungan sama Allah agar perjalanan kalian selalu selamat dan lancar sampai tujuan. Kalian memangnya rencana mau kemana?" tanya Herman.
"Ke Jepang pak, negara impian Keisya," mata Keisya berbibar-binar membayangkan bagaimana nanti dia disana liburan berdua bersama Vino, dan keinginan terbesar Keisya adalah melihat lebih jelas yang namanya bunga sakura itu.
Kening Fitri berkerut tidak suka, sudah muncul wajah irinya.
'Harusnya kan gue yang nikah sama tuan Vino terus liburan bulan madu ke Jepang berdua, itu juga negara impian gue. Dunia memang gak adil. Kenapa harus gue yang ada diposisi ini.' Fitri bergumam menyalahkan takdir.
"Keisya mau ke kamar sebentar, kemas barang-barang yang ketinggalan," Keisya beranjak pergi ke arah kamar. Vino hendak mengikuti tapi dihalangi oleh Keisya. Duduk berhadapan dengan keluarga Keisya membuat Vino canggung karena belum terlalu akrab-akrab banget.
"Bagaimana sikap Keisya dirumah Vino? Dia gak nakal dan cerewet kan?" tanya Herman sambil berbisik. Herman tau betul gimana sifat putri nya itu, kalo gak rewel ya berisik plus cerewet.
"Tidak kok, dia rajin sering membantu Mama memasak dirumah kadang kalo bosen dia beres-beres kanar terus nyuci baju yang padahal itu tugas pelayan dirumah tapi dia tetep ngeyel," jawab Vino.
"Dia memang keras kepala," kekeh Herman.
Keisya selesai mengemasi barang-barangnya dan itu tidak terlalu banyak.
"Pak, Buk! Kami berdua harus pulang sekarang, karena banyak lagi yang belum dipersiakan buat nanti sore."
"Kok cepat sekali?"
"Kami juga kan harus istirahat dulu sebelum berangkat biar gak ketiduran di pesawat."
"Ya sudah, ingat pesan bapak sama ibu selalu meminta perlindungan saat diperjalanan," pesan Erna.
__ADS_1
"Iya pasti kok Buk." Mereka berdua berpamitan pada kedua orang tua, Keisya mendekati Fitri dan hendak memeluknya namun dengan kasar Fitri menepis tangan Keisya lalu pergi ke kamarnya. Sakit? Iya, sikap dia sampai sekarang belum juga berubah. Erna mengelus punggung Keisya menenangkan begitu juga dengan Herman sementara Vino mengepalkan kedua tangannya geram melihat Keisya diperlakukan seperti itu.