Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
Eps 21


__ADS_3

Ratih segera masuk kedalam kamarnya, melemparkan tasnya begitu saja.


Ia berbaring di tempat tidur dan memandang langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Pikirannya masih memikirkan ucapan ibunya barusan. Jika ibu nya memang benar telah mengetahui rahasianya mengapa ibunya tetap kekeh masih mau menjodohkannya.


Sedetik kemudian terdengar suara pintu terketuk. Ratih yang seolah kehilangan tenaganya memilih diam. Pintu dibuka dan masuk lah ibu Ratih kemudian.


"Ratih, kamu marah sama ibu nak?"


"Enggak."


Ratih menelungkupkan wajahnya diatas bantal. Rasanya ia ingin sekali menangis,sebenarnya ia akan baik-baik saja jika ia dibiarkan sendiri saja seperti tadi. Berbeda jika ada yang mengajaknya berbicara.


"Maafin ibu nak,"


"Iya"


"Ibu tau keadaan kamu sekarang, tapi setidaknya kamu-" ucapan ibu Ratih terpotong.


"Buu, jika ibu memang sudah tau keadaan Ratih sekarang kenapa ibu tetap kekeh mau menjodohkan Ratih? kenapa buu,?" tanya Ratih dalam isaknya.


"Makannya dengerin penjelasan ibu dulu."


Ibu Ratih mengelus pundak anaknya meminta membalik kan badan dan mendengarkan penjelasannya.

__ADS_1


"Nak, kamu adalah harapan ibu sekarang. Setelah keberhasilan adikmu Ani yang sekarang sudah bisa mengejar impiannya kuliah di luar Negeri. Ibu hanya ingin yang terbaik buat kamu nak."


"Ini terbaik buat ibu, bukan buat Ratih. Jika dia nanti tau keadaan Ratih yang sudah kehilangan mahkota dia pasti akan menyiksa Ratih bu,Ratih tidak mau." isaknya ter dengar mengeras dalam pelukkan sang ibu.


"Apa kamu tau, siapa yang menolong mu ketika kecelakaan itu terjadi?" tanya Ibu Ratih dibalas gelengan kepala Ratih.


"Dia Alvin nak,dia juga yang telah mendonorkan ginjal nya untuk mu ketika Dokter memvonis kerusakan pada ginjalmu waktu itu. Dia begitu mengerti keadaanmu walupun ibu tau kalian belum saling mengenal, ibu telah memikirkan ini bertahun-tahun dan matang. Dia akan menerima keadaanmu sayang, percaya pada ibu nak. Jangan buat ibu kecewa karena bagaimanapun dia juga yang telah menyelamatkan nyawamu."


"Tapi bu," Ucapan Ratih terhenti ketika satu jari menutup mulutnya.


"Huusstt, belajar perlahan. Ibu akan membantumu untuk bisa akrab dengan Alvin, kamu tidak perlu kawatir soal orang tuanya. Karena orang tua alvin adalah sahabat baik ibu dan alhmarhum ayahmu,mereka juga sudah mengerti kondisimu." tutur ibu Ratih.


Sebenarnya berat Ratih menerima semua ini, namun demi kebahagiaan ibunya akhirnya Ratih luluh dan mau menerima perjodohan ini.


"Jadi, ini artinya kamu menerima Alvin nak?" tanya nya meyakinkan jawaban anaknya itu.


"Tapi, dengan dia harus mau menerima syarat-syarat yang Ratih ajukan." Ucap Ratih membuat ibunya penasaran.


"Syarat? itu tidak masalah yang terpenting anak ibu ini mau menerima perjodohan ini,terima kasih sayang." ucap ibu Ratih seraya memeluk erat tubuh mungil Ratih.


****


"Heh, makannya yang bener.Masa cuma roti tawar doang? cuma pake selai aja."

__ADS_1


Alvin meletakkan kembali roti yang hendak ia suapkan, lalu mengerucutkan bibirnya. "Terus aku makan apa?"


Ratih mendengus kesal lalu membuka pintu lemari pendingin yang ada dirumah itu. Diambilnya sebutir telur, fillet daging sapi, tomat dan selada yang tampak segar.


"Tunggu, aku goreng telur sama dagingnya dulu. Kamu tidak terburu-buru kan?" tanya Ratih sembari menatap jam tangannya. Masih pukul enam lebih seperempat.


"Tentu tidak." Jawab Alvin dengan terus memperhatikan Ratih yang sedang menggoreng telur dan daging dengan senang.Rasanya ia jadi ingin cepat-cepat menikahi wanita yang ada di depannya kini. Ya, sejak pagi Ratih sudah berada di rumah Alvin dengan alamat yang sudah ditulis dalam secarik kertas oleh ibu Ratih tentunya.


Sebenarnya Ratih sempat mengomel dan protes panjang kali lebar karena tidurnya terganggu, tetapi lagi-lagi ia dibuat tidak enak hati jika menolak permintaan ibunya itu dan membuatnya terpaksa pergi kerumah Alvin.Hitung-hitung tanda maaf dan penerimaan perjodohan nya.Ratih merasa ibunya ini terlalu berlebihan.


Setelah selesai Ratih menyiapkan sandwich dengan irisan telur dan daging, lengkap dengan selada dan irisan tomat. Ia menyajikan pada Alvin yang kini sedang menopang dagu.


"Nih, dimakan!" perintahnya


"Terima kasih."


Alvin memakan sandwich nya dengan lahap,meskipun pikirannya entah sedang dimana. Ia tersenyum,sebenarnya ia telah jatuh hati dengan Ratih ketika ia tak sengaja bertemu di kafe tempo lalu dan membayangkan jika ia sudah ber rumah tangga dengan wanita di depan nya kini pasti dia akan sangat bahagia alhasil,sekarang ia jadi tidak ingin jauh-jauh dari Ratih.


Sungguh halu Alvin yang luar biasa di pagi ini.


Bersambung...


Jangan lupa Vote Komen/saran dan like nya, Terima kasih ๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2