Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
57


__ADS_3

Seorang pria jangkung terlihat berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong gelap rumah sakit dan di ikuti oleh asisten pribadi nya di belakang yang berusaha mensejajarkan langkah dengan Bos nya agar tidak ketinggalan.


Vino mendapat kabar dari Zahra bahwa Keisya sudah siuman setelah melalui masa kritisnya selama dua minggu sehabis operasi, bukan main senangnya Vino mendengar kabar itu sampai klien nya pun dia tinggalkan di perusahaan, tapi untung saja klien nya tersebut bisa memahami kondisi hatinya.


Keisya kini sudah dipindahkan ke ruang rawat VVIP yang dipesankan khusus untuknya oleh Vino, dan dia sekarang sedang menuju keruangan Keisya.


Vino menyentuh gagang pintu dan menariknya ke bawah, terpampang lah Keisya yang sedang duduk melamun di ranjang rumah sakit ditemani oleh Zahra di sampingnya. Vino mengernyit bingung, bukannya senyuman yang dipersembahkan oleh Keisya padanya tetapi malah wajah murung dan terlihat sedih. Perlahan Vino mendekat untu menyapa.


"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Vino seraya mengelus rambut Keisya yang terurai.


"Belum, Keisya masih pingsan," Zahra yang menyahut karena pertanyaan Vino sangat tidak masuk akal, udah tau istrinya sadar masih ditanya kek gitu. Vino mendelik ke arah Zahra yang hanya terkekeh geli.


Keisya menatap Vino, bisa Vino lihat kesedihan dimata Keisya. Baik, Vino paham pasti ini masalah bayi mereka.


"Sudah ya jangan terlalu dipikirkan nanti kamu malah tambah sakit," Vino mencium pucuk kepala Keisya lalu membantunya untuk tiduran lagi.


Vino mendesah pelan, tidak tega juga rasanya melihat Keisya murung begini dia kan jadi ikutan sedih, semula Vino yang sudah berusaha ikhlas dan menerima dengan lapang dada malah dibuat sedih lagi sekarang, nah kan muncul rasa gak ikhlas nya. Tapi mau bagaimanapun keadaan tidak bisa dirubah semudah itu, karena ini menyangkut takdir Tuhan.


"Kamu gak balik ke Kantor kan? Kalo gak balik Mama mau nitip Keisya, Mama harus ke butik sekarang," Zahra membuyarkan lamunan Vino.


"Mama pergi saja biar Vino yang jaga Keisya."


Zahra mengangguk lalu meraih tas nya diatas nakas.


"Sayang, Mama balik dulu ya. Jangan khawatir Mama akan kesini lagi nanti," Zahra mencium pipi kanan dan kiri Keisya dan langsung pergi. Keisya masih tak bergeming, sepertinya berita buruk itu sudah merenggut kesadaran otak nya sehingga dia tidak bisa mengontrolnya. Vino duduk dikursi yang disediakan disamping ranjang Keisya, sementara Aldi duduk disofa sebelah timur seraya memainkan ponselnya mengusir rasa bosan dan mengalihkan pandangan dan pikiran agar tidak terfokus pada majikannya yang sedang bermesraan dengan istrinya yah walaupun Keisya tak terlalu merespon tapi tetap saja Aldi merasa seperti nyamuk disini, main handphone aja biar gak kelihatan jones nya.

__ADS_1


"Kamu sudah makan?" tanya Vino basa-basi. Keisya mengangguk pelan tapi pandangannya entah kemana.


"Mau makan lagi gak? Biar Aldi yang belikan makanan kesukaan kamu," tawar Vino dengan senyum lembut ia tampilkan agar bisa sedikit mengusir kesedihan istri kecilnya. Keisya merespon dengan gelengan kepala tanda ia tidak mau makan lagi.


"Jangan seperti ini Kei, aku tidak tega melihatmu. Tolong lupakan semuanya dan mari memulai lembaran baru, biarlah semuanya berlalu. Aku juga sedih dan tidak terima tapi mau bagaimana lagi, jika Tuhan sudah berkehendak seperti itu," Vino bebicara panjang lebar. Seketika tangis Keisya pecah, dia menangis tersedu-sedu. Vino jadi merasa bersalah kemudian merengkuh tubuh lemah itu dan membawanya ke dalam dekapan hangat yang sudah dirindukan Keisya selama ini. Vino beralih melirik Aldi, paham akan tatapan Bos nya Aldi keluar ruangan dan membiarkan sedikit ruang untuk kedua majikannya bertukar pikiran masing-masing.


"Maafkan Keisya, Keisya yang salah," akhirnya Keisya mengeluarkan suaranya dan terus saja menyalahkan dirinya sendiri.


"Andai saja Kei tidak keluar hari itu semua ini tidak akan terjadi," sambungnya lagi, jas Vino basah oleh air mata Keisya.


"Sssttt! Tidak ada yang salah, jadi jangan terus menyalahkan diri sendiri. Aku kan sudah bilang ini semua adalah takdir, kita percayakan semuanya pada yang di atas pasti dibalik semua cobaan ini akan ada sesuatu hal bahagia yang menanti," Vino mengelus kepala Keisya dan sesekali memciumnya lembut.


Setelah tangisnya agak mereda dan tidak terdengar suara isakan lagi, Vino merenggangkan pelukan mereka, ternyata Keisya tertidur, nafasnya mulai teratur. Keisya sepertinya kelelahan makanya tertidur. Perlahan Vino membaringkan tubuh Keisya di ranjang agar Keisya bisa tidur dengan tenang. Vino melangkah keluar menemui Aldi diluar.


"Aldi sebaiknya kamu kembali ke kantor sekarang."


Sebenarnya daritadi Aldi ingin kembali ke perusahaan namun belum disuruh sama Vino jadi nunggu disuruh aja biar kelihatan rajinnya, disuruh dulu baru nurut. Memang asisten yang berbakti.


Oke untuk kedua orang tua Keisya sudah tau dari kemarin tentang berita ini awalnya juga mereka shock dan sangat marah dan tidak terima, mereka langsung menyalahkan keluarga Zahra karena dianggap tidak becus menjaga menantunya namun amarah mereka hanya sejenak, Vino mewakili kedua orang tuanya memohon maaf karena tidak begitu memperhatikan Keisya, sampai Vino pun harus berlutut dihadapan mereka karena menyesal. Dan finally mereka semua baikan lagi setelah Erna bisa menerima semuanya. Selama Keisya koma Erna dan Herman setiap hari mengunjungi Keisya, kadang mengajak nya berbicara walaupun tidak direspon sama sekali.


***


"Kapan aku bisa pulang? Aku tidak suka disini," tutur Keisya menatap Vino mengharapkan jawaban.


"Kamu kan masih belum sembuh total jadi tunggu beberapa minggu ke depan ya," Vino meletakkan mangkuk bubur yang masih tersisa sedikit diatas nakas, dia baru saja selesai menyuapi Keisya makan malam.

__ADS_1


"Suasana disini tidak enak, aku mau pulang," Keisya terus merengek ingin pulang.


"Iya iya kita pasti akan pulang tapi tunggu kamu sembuh dulu."


"Aku sudah sembuh, lihatlah aku sudah bisa bergerak bebas," ujar nya seraya menggerakkan tubuhnya dengan lincah membuat Vino gemas melihatnya.


"Nanti akanku tanyakan pada dokter kapan kamu bisa pulang yah."


Keisya memanyunkan bibirnya lalu kembali menghempaskan tubuhnya diatas ranjang.


"Hello epribadih, Mommy yang cantik, anggun dan membahana datang dengan membawa sekarung kebahagiaan," suara cempreng yang tentu saja sudah dikenal oleh keduanya langsung menoleh kearah pintu menampakkan Zahra yang berjalan dengan anggun ala-ala model red carpet memasuki ruangan ditangannya ia tenteng sebuat bungkusan yang Vino dan Keisya tidak tau apa isinya.


"Huhu sayang, Mama kangen banget sama kamu," Zahra menghambur memeluk Keisya.


"Padahal tadi siang sudah ketemu, lebay banget," cicit Vino.


"Dih kalo iri bilang, sewot amat jadi orang. Anak siapa sih kamu," Zahra menatap julid ke arah Vino.


"Anak kang Mamat penjual bakso keliling depan komplek," jawab Vino dengan wajah judes.


"Oh pantesan sifatnya nular," ujar Zahra.


"Ngapain masih disini? Sana tolongin Bapak kamu jual bakso!" Zahra mengusir Vino.


"Mah jangan bercanda deh."

__ADS_1


"Lah siapa yang bercanda, kan kamu sendiri yang bilang."


Vino berdecak sebal.


__ADS_2