Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
65


__ADS_3

"Eh bocah mau kemana?" Keisya lantas segera menoleh karena pergerakan nya diketahui oleh sang suami, perlahan dia membalikkan tubuhnya menghadap ke belakang, mendapati Vino yang tatapannya masih pada laptop nya. Keisya mendengus kesal.


"Mau kabur?"


"Nggak, mau jalan-jalan doang disekitar sini. Bosen banget didalam," jawabnya.


"Terus kenapa gak izin dulu, itu sama artinya dengan kabur kan?" Vino menaikkan sebelah alisnya mengintrogasi istrinya yang tengah duduk tanpa dosa didepannya.


"Tidak juga, lagian siapa suruh sibuk, jadi merasa terabaikan," Keisya menatap sekitar berusaha agar tatapannya tidak bertemu dengan Vino.


"Ya sudah, kamu mau apa ngomong aja!" Vino kini fokus menatap manik mata Keisya.


"Mau jalan-jalan, mau ke taman belakang. Kata Bapak disama tempatnya bagus banget bisa buat menyendiri merenungi nasib," jelas Keisya seraya bersidekap dada. Vino menghela nafas pelan kemudian terlihat menghubungi seseorang melalui ponselnya.


"Aldi tolong temani Keisya ke taman belakang, katanya mau jalan-jalan."


"Aku gak mau ditemani, maunya sendiri. Namanya juga menyendiri ya sendiri kok malah nyuruh orang, gak gak aku gak mau," ucapnya kesal.


"Jangan ngebantah, kita gak tau kan kalo ada orang jahat yang berniat culik kamu kayak dulu lagi, siapa tau dia nyamar jadi karyawan disini terus nangkep kamu gimana? Sudah lah aku lagi gak mau berurusan sama penjahat, jadi sebaiknya nurut aja. Tuh Aldi sudah datang, kamu ikuti saja dia."


Keisya mendelik tidak suka pada Vino, mengganggu harinya saja. Lebih baik dia tidak usah ikut tadi.


Vino terkekeh pelan melihat wajah kesal Keisya, tapi setidaknya begini cara dia melindungi istrinya untuk menghindari kejadian yang sama terulang lagi, karena kan kita tidak tau bahaya apa yang tengah mengingai selanjutnya.

__ADS_1


***


"Kita mau kemana sebenarnya ini Nona, sudah dari tadi kita memutari bangunan besar ini, kalo Nona mau tawaf kenapa nggak ke Makkah saja," ujat Aldi yang mulai sudah cape karena sudah tiga kali dia mengikuti Keisya memutari perusahaan, mana luas banget lagi. Keisya memutar bola matanya malas, nampaknya orang ini belum capek juga, padahal Keisya sengaja biar nih orang lelah dan gak ikutin Keisya lagi tapi malah dia duluan yang kewalahan. Keisya duduk dibangku panjang dekat air mancur ditaman belakang, Aldi pun demikian mengikuti gerak gerik Keisya dan duduk manis disamping nya tapi agak jauhan dikit kalo deket deket bisa babak belur ditonjok Vino dikira orang ketiga ntar.


Sambil menunggui istri sang majikan yang lagi santai memandangi air mancur dengan patung ikan diatasnya, Aldi membuka ponselnya untuk mengusir rasa bosan dam canggung karena hanya berduaan doang disini, karyawan yang lain gak ada yang berlalu lalang disini karena memang bukan waktu istirahat sekarang, jadi mereka benar-benar berdua sekarang.


"Kak Aldi udah lama kerja ya sama Kak Vino?" pertanyaan tiba-tiba membuat Aldi menoleh cepat.


"Lumayan lama, sekitar lima tahun yang lalu," jawab Aldi mulai mengingat memori saat pertama kali dia jadi asisten pribadi Vino. Keisya takjub ternyata sudah lumayan lama dan Aldi begitu betah bekerja dengan suaminya yang notabennya dingin dan suka menindas.


"Selama bekerja dengan Kak Vino, kak Aldi sering dibuat kesal atau marah gak?"


"Oh sering banget tiap hari bahkan tiap waktu ada aja kelakuannya yang bikin kesal, tapi apalah daya mau ngelawan juga bisa-bisa saya dipecat," ujarnya mengadu, entah kenapa dia bisa seterbuka ini dengan orang baru apalagi ini istri Bos nya Aldi gak takut apa kalo Keisya mengadu tentang ucapannya tadi.


"Kak Aldi seumuran dengan kak Vino?"


"Saya dua tahun lebih muda darinya, saya kan masih ganteng," Aldi tersenyum lima jari menunjukkan deretan giginya yang rapi.


"Kak Aldi sudah punya pacar? Atau sudah punya tunangan, maaf kalo pertanyaannya agak lancang," Keisya malu sendiri dengan omongannya.


"Pacar? Tentu saja tidak punya haha! Saya tidak mau memikirkan hal seperti itu dulu, saya hanya ingin fokus bekerja dan bekerja ini juga demi keluarga terutama Ibu saya, saat ini beliau sedang berjuang dirumah sakit tentu saja biaya operasinya gak murah, saya sampai menjual motor kesayangan saya untuk biaya pengobatan beliau," Aldi menunduk, dia rasa sudah menceritakan banyak sekali tentang kehidupan pribadinya pada orang yang baru saja dekat dengannya. Keisya tertegun, ternyata dibalik wajah cerianya ada kisah yang kelam juga.


"Maaf kak, aku gak bermaksud menyinggung hal itu," Keisya terlihat panik hingga mengundang tawa lucu dari Aldi.

__ADS_1


"Tenang saja, itu bukan masalah besar. Lagipula ibu saya sekarang sudah dipindahkan ke ruang rawat, tapi mustahil bagi penyakitnya untuk kambuh lagi, kata dokter Ibu saya masih ada harapan untuk sehat jadi saya tidak terlalu khawatir lagi walaupun kapan saja penyakit itu datang menyerang tapi saya yakin ibu saya bisa sembuh secepatnya," senyum cerah Aldi tampilkan agar membuat sang penanya tidak merasa bersalah. Keisya bisa bernafas lega setidaknya dia tidak menyakiti hati Aldi.


***


Keisya berjalan dikoridor, tempatnya lumayan sepi karena jalan disini kan khusus untuk sang Bos alias Vino suaminya, jadi jarang-jarang ada karyawan lain yang melalui nya. Keisya menenteng sebuah paperbag coklat sambil bersenandung merdu.


"Halo Pak suami, aku kembali," Keisya membuka pintu dan mendapati Vino tengah menandatangani berkas penting.


"Habis kemana sama Aldi?" tanya Vino datar.


"Di taman belakang, ngomongin hal-hal seru kadang juga ada sedihnya, emangnya kenapa?" Keisya meletakkan paperbag tadi ke atas meja kemudian ia sendiri duduk diatas sofa.


"Kak nih aku beliin kopi sama cake tiramisu," Keisya menyerahkan sepotong cake rasa tiramisu dan satu gelas kopi cappucino dan menyajikannya di depan Vino. Vino hanya melirik sebentar kemudian kembali fokus.


"Gak mau ya? Kalo gak mau biar aku yang makan."


"Taruh saja disana, aku sibuk," jawabnya. Keisya mengerucutkan bibirnya.


"Aku cuma mau nganterin kakak ini doang, aku mau keluar lagi nyusul kak Aldi diluar katanya dia mau bawa aku ke restoran ayam yang terkenal itu, boleh ya kak," mata Keisya berbinar.


"Sejak kapan kalian seakrab itu, sampai panggil 'kak' segala," Vino tersenyum miring merasa aneh dengan panggilan Keisya ke Aldi.


"Sejak tadi, ternyata kak Aldi asik juga diajak gibah. Orangnya cepat bersosialisasi," jelasnya. Vino menghela nafas mendengar cerita Keisya.

__ADS_1


"Jadi boleh pergi gak nih? Janji gak akan keluyuran, cuma makan doang habis itu balik kesini." Vino mengangguk sebagai jawaban gak ada gunannya juga ngelarang, lagipula dia percaya kok jika asistennya itu tidak akan melakukan hal diluar nalar yang membuatnya sakit hati mungkin. Keisya berjingkark heboh tak lupa mencium pipi kanan dan kiri Vino sebagai ucapan terima kasih, dan Vino hanya bisa menggelengkan kepalanya.


__ADS_2