
Keisya menusuk nusuk pipi Vino sehingga menimbulkan pergerakan singkat dari empunya yang tengah tidur nyenyak di depannya, Keisya tersenyum senang karenanya. Tumben sekali manusia satu ini belum bangun padahal biasanya dia yang paling awal bangun. Menatap lekat wajah Vino yang seperti bayi saat tertidur, wajah yang sangar dan dingin seketika tertutupi.
"Imut banget si," Keisya geregetan sendiri sampai pengen nyekik leher Vino sampai masuk ke liang lahat. Lagi-lagi tangan mungilnya bergerak jahil, kali ini tangannya mengarah ke hidung mancung Vino, memasukkan tangannya kedalam lubang hidung milik Vino tapi tetap saja dia tidak bergerak sama sekali membuat Keisya geram karena tidak berhasil membangungkan kebo satu ini.
Oke, Keisya masih punya cara terakhir yaitu mengorek kuping Vino dengan jari nya, dia yakin cara ini pasti ampuh, senyum jahil mulai terukir.
"Kita lihat apakah dia bisa menahan serangan ku kali ini, hahaha."
Tangan besar Vino menepis tangan Keisya dari telinga nya membuat Keisya tertawa puas. Vino mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Apa?" tanya Vino setelah selesai mengumpulkan nyawanya yang separuhnya masih berkeliaran di alam mimpi.
"Bangun lah, ini sudah jam 7," jawab Keisya diiringi cengiran khas nya.
"Males." Vino yang merasa jawaba Keisya tidak penting itu kembali memejamkan matanya melanjutkan mimpi indahnya yang sempat terpotong karena ulah nakal si Keisya.
"Aku aduin Mama baru tau rasa," ancam nya.
"Gak sportif banget pake acara ngadu segala, dasar bocah," cibir Vino.
"Dasar om pedofil," Keisya segera berlari ke kamar mandi karena Vino yang sudah ingin menangkapnya karena telah meyebut dirinya om pedofil.
....
Ponsel diatas nakas berdering membuat atensi Keisya teralihkan. Itu ponsel miliknya, ia lalu meraihnya untuk melihat nama sang penelpon, satu nama yang membuat raut wajah Keisya mengerut heran.
"Kak Fitri? Tumben banget nelpon, biasanya gak pernah," nama penelpon itu adalah Fitri sang kakak (angkat). Ini baru pertama kali Fitri menghubunginya selama ini. Dengan perasaan campur aduk ia mengangkatnya.
"Hai, Kei," agak terdengar canggung.
"I-iya kak, tumben. Ada apa?"
"Ada yang mau aku omongin sama kamu."
Aku? Kamu? Kok aneh ya, biasanya Fitri kalo ngomong sama Keisya pasti pake lo-gue.
"Ngomong apa kak?"
__ADS_1
"Bukan lewat telpon, aku akan datang ke rumahmu, hmm maksudku rumah suami kamu, gak sibuk kan?"
"Nggak kok. Kapan kakak dateng?"
"Sekitar pukul 9 aku akan sampai disana, sudah dulu ya aku akan menyelesaikan kuliahku dulu, sampai ketemu," sambungan terputus secara sepihak. Keisya melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 7:30.
Suara pintu kamar mandi terbuka, Keisya menoleh segera yang tentu saja pelakunya adalah Vino yang baru selesai mandi.
"Bicara sama siapa tadi?"
"Oh itu tadi kak Fitri telpon," wajah Keisya terlihat sumringah karena baru saja ditelpon oleh Fitri setelah sekian lama.
"Ngapain?"
"Katanya mau kesini nanti."
"Buat apa?"
"Gak tau, tapi kayaknya ada yang mau diomongin sih tapi aku gak tau apa," Keisya mengedikkan bahu nya.
"Oh."
"Kenapa liatinnya kayak gitu? Ada hutang aku sama kamu?" tanya Vino menyadari tatapan sinis Keisya.
"Iya, hutang tinju seribu kali," berucap seraya mendelik kesal.
"Heh, mau kemana? Cepat pasangkan!" Vino menghentikan langkah Keisya yang hendak keluar kamar, lalu menyodorkan sebuah kemeja.
"Punya tangan berapa kak?" tanya Keisya dengan senyum manis tapi terkesan di paksakan.
"Gak punya. Udah sini pasangin, harus berbakti sama suami, cepat!"
Menghela nafas kasar, lalu berjalan gontai menuju Vino yang berdiri menyamping. Keisya meraih kemeja itu, dengan telaten ia memasangkannya ditubuh kekar Vino layaknya anak kecil.
"Sudah selesai, aku mau ke dapur sekarang."
"Eh eh tunggu, satu lagi," kali ini Keisya tidak habis pikir dengan otak Vino yang kayaknya sudah hilang, apakah dia menggadaikannya di Bank?
__ADS_1
"Apa-apaan? Celana ya pasang sendiri," ketus Keisya, saat Vino menyuruhnya untuk itu.
"Gak, bercanda. Udah sana pergi!"
Lagi-lagi Keisya menggerutu, suami nya ini kenapa sih demen banget mancing emosi. Keisya menghentakkan kakinya sambil terus berjalan ke arah pintu.
......
.....
Bunyi bel pintu terdengar menggema ditelinga Keisya, melirik sejenak ke jam dinding diatas TV.
"Pasti kak Fitri."
"Bik, biar saya saja yang buka," Keisya mengentikan langkah dari seorang pelayan yang tampak tergopoh-gopoh berlari menuju pintu.
"Maaf kak buka pintunya lama," ujar Keisya, setelah menatap sosok perempuan yang berdiri didepannya tengah tersenyum lembut, senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada Keisya kali ini Keisya merasakan sebuah kasih sayang dari seorang Kakak, tapi mata gadis itu terlihat bengkak sepertinya habis menangis, entah lah Keisya tidak mau terlalu kepo dengan masalah kakaknya tapi disisi lain juga dia penasaran. Sejenak Keisya tertegun karena Fitri membawa sebuah koper berukuran sedang. Tunggu, apa ia akan pindah kesini? Lalu apa alasannya meninggalkan kedua orangtua nya di desa?
Fitri mengerti arah tatapan Keisya dan seakan tau isi pikirannya.
"Ahh Keisya aku tidak akan tinggal disini, aku hanya akan berpamitan dan ingin meminta maaf," Fitri menunduk lesu, rasanya sangat malu hanya untuk sekedar menatap wajah teduh adiknya.
"Kita bicara di dalam saja kak."
Menggenggam erat tangan Fitri dan menuntunnya ke dalam.
Selesai menyuguhkan jus untuk Fitri, Keisya menududukkan dirinya disamping sang kakak dengan perasaan was-was.
"Kei, aku baru saja mengetahui satu fakta bahwa aku itu sebenarnya hanyalah seorang anak angkat," bulir bening berhasil lolos melewati pipi gadis itu, Fitri menangis.
Jantung Keisya seakan berhenti berdetak, apa yang didengar tadi salah kan?
"Kak, candaan kakak gak lucu. Jadi cepat kita ke intinya saja," Keisya mengusap lembut punggung Fitri yang tengah menangis tersedu-sedu.
"Tidak, aku serius. Aku mendengarnya sendiri Ibu dan Bapak bilang seperti itu, bahkan sepertinya aku tidak pantas lagi memanggil mereka dengan sebutan itu, mengingat betapa banyak dosa yang ku perbuat pada mereka."
Keisya terdiam, tidak tau harus menanggapinya bagaimana. Berada di posisi Fitri memang sulit, jika mengetahui fakta yang menyakitkan seperti itu.
__ADS_1
"Kei, maukah kamu memafkan semua perbuatan yang selama ini aku lakukan terhadapmu? Sungguh aku menyesal, aku tidak pernah bermaksud untuk membencimu tapi hatiku seolah menuntun aku untuk melakukannya, aku memang kakak yang buruk dan aku anak yang tidak tau diuntung, aku tidak pantas lagi mendapat kasih sayang orang tua, bukankah aku sebaiknya mati saja."
Jujur, hati Keisya sakit mendengar nya. Selama ini dia tidak pernah menyimpan dendam pada Fitri, justru sebaliknya dia sangat menyayangi nya tidak ada rasa benci sedikitpun, bahkan jika Fitri tidak mengucap kata maaf saja Keisya sudah memaafkannya.