Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
36


__ADS_3

Keisya beserta Zahra tiba di rumah sakit Pelita dan langsung menuju meja resepsionis untuk mengajukan nama pasien yang sedang dirumah dirumah sakit Pelita. Setelah diberi informasi jika pasien bernama Hermansya berada diruangan nomor 11 dilantai satu, Keisya mengajak Zahra untuk segera kesana. Mereka menemukan ruangan nomor 11 di sebelah pojok kanan dekat lorong.


"Ini pasti ruangan Bapak," ujar Keisya yakin karena memang disana terpampang diatas pintu angka 11 maknanya ya memang ruangan nomor 11. Keisya membuka pintu perlahan dan terlihatlah disana Herman yang sedang disuapi makan oleh Erna istrinya, sepertinya lagi makan bubur karena dilihat dari tekstur dan bentuknya saja sudah mirip bubur, bubur jagung deh kayaknya.


"Pak! Buk!" Yang merasa dipanggil menoleh ke arah pintu dan mendapati Keisya diambang pintu sedangkan Zahra masih diluar karena Keisya menghalangi pintu jadi gak bisa muncul deh.


"Keisya? Kamu sudah pulang? Dari mana kamu tau bapak ada disini?" tanya Erna seraya menaruh bubur diatas nampan.


"Tadi Kei ke rumah terus ketemu sama Kak Fitri jadi Kei tanya dia saja," jawab Keisya sambil lari ke pelukan Ibunya.


"Ehh Buk Zahra juga datang kesini?" Erna menatap kearah pintu karena Zahra sudah tiba-tiba saja muncul darisana.


"Iya, karena gak mungkin kan saya membiarkan Keisya pergi sendiri, bahaya," jawab Zahra kemudian jalan menghampiri Erna lalu keduanya berjabat tangan.


"Ibu sudah makan?" tanya Keisya.


"Sudah kok. Kamu sendiri sudah makan?" Erna balik bertanya. Keisya hanya mengangguk kini matanya tertuju pada Herman yang sedang terbaring lemah dan hanya menatap Keisya dengan senyuman bahagia yang mengembang diwajahnya.

__ADS_1


"Kan Keisya sudah bilang sama bapak, jangan telat makan kan gini jadinya," Keisya mengomeli Herman seperti anak kecil, Herman tertawa kecil menanggapi ocehan putrinya.


"Iya iya maaf, maklum lah sudah tua penyakit nya mudah kambuh," jawab Herman.


"Ayo duduk dulu Buk, nanti capek berdiri terus," ajak Erna. Di dalam ruangan itu hanya ada dua kursi satunya untuk Keisya dan Zahra sedangkan Erna berdiri disamping ranjang Herman karena tidak enak jika tidak mempersilahkan tamunya duduk, jadi dia memilih buat berdiri saja.


"Maaf ya besan kami lupa bawa buah tangan sebelum kesini soalnya saya tidak tega lihat Keisya yang panik nya luar biasa dan ingin cepat-cepat kesini," jelas Zahra agar yang dijenguk bisa memaklumi.


"Ahh tidak apa, yang penting sudah mau menjenguk kami disini kehadiran ibu juga sangat membuat kami berterima kasih," jawab Erna, memang benar dia tidak memikirkan tentang oleh-oleh atau buah tangan yang dipikirkan hanya suaminya bagaimana agar beliau bisa sembuh total, sudah beberapa kali penyakitnya kambuh terus dalam seminggu ini. Sebagai permintaan maaf Zahra bersedia membayar semua biaya administrasi pengobatan Herman di rumah sakit ini, Erna dan Herman tentu saja menolak karena merasa tidak enak dan merepotkan, mereka juga masih mampu untuk membayarnya tetapi Zahra memaksa dan terus membujuk Erna agar menerima bantuannya anggap saja sebagai rasa terima kasihnya selama ini walaupun Herman dan Erna tidak paham untuk apa rasa terima kasih Zahra terhadap mereka padahal kan tidak pernah berjasa pada keluarga nya. Menerima bantuan Zahra sedikit ragu mau menolak juga tidak enak nanti dianggap tidak menghargai ya sudah ambil jalan tengah saja, terima bantuan dari besannya yang sudah mau berbaik hati untuk membayar semua biayanya, alhamdulillah uang nya bisa ditabung untuk masa depan nanti mumpung gak dipake.


"Kamu tidak perlu khawatir Kei, besok bapak sudah bisa pulang," seru Herman pada Keisya.


"Iya iya bapak janji."


"Gak mau janji sama bapak nanti dilanggar lagi," Keisya berkacak pinggang mengingat jika dia sudah pernah berjanji tapi tetap saja Herman keras kepala, tingkahnya membuat yang lain tertawa.


"Kali ini bapak beneran serius, sakit juga rasanya tiduran diranjang rumah sakit sambil pake infus jadi gak leluasa buat bergerak," jawab Herman.

__ADS_1


Mereka lanjut-lanjut berbincang dengan membagikan cerita masing-masing, Herman dan Erna tukang mendengarkan karena keseharian nya memang gak ada cerita menarik jadi dia milih jadi pendengar saja. Sedangkan Keisya sudah sangat semangat ingin menceritakan bagaimana liburan nya selama di Jepang, itu sangat menyenangkan. Keisya menceritakan bagaimana ia melihat bunga sakura dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ia main lempar bola salju dengan Vino walaupun Vino tidak terlalu tertarik tapi untuk menyenangkan istri apa sih yang nggak bisa asiiiquee...


Tak lupa Keisya mendefinisikan bagaimana kamar hotel tempat ia tidur, kalau bagian itunya gak diceritakan malu soalnya, privasi mereka berdua hahaha, pokoknya setiap bercerita Keisya very antusias sampai loncat-loncat dan jungkir balik depan belakang nggak deng bercanda yakali Keisya kayak gitu auto encok badannya, yang mendengar juga ikut antusias dan bahagia. Dirasa sudah selesai dan puas bercerita Zahra mengajak Keisya untuk pulang sudah cukup lama mereka disini kurang lebih satu jam lebih.


"Kei ayo pulang," ajak Zahra. Keisya sedikit manyun seperti tidak ingin meninggalkan kedua orang tuanya, andai dia belum menikah Keisya sudah menginap disini menjaga bapak bahkan sampai satu minggu pun jika bersama kedua orang tuanya itu tidak masalah baginya. Zahra paham dengan ekspresi yang ditampilkan Keisya, enggan untuk pulang.


"Besok kita kesini lagi untuk menjemput bapak pulang, besok kita juga akan ajak Vino sama Papa kesini biar rame kan seru," bujuk Zahra, sudah seperti membujuk anak kecil saja.


"Yang bener Mah?" wajah manyun nya hilang kini diganti dengan senyum sumringah menghiasi bibir tipisnya. Zahra mengangguk saja sebagai jawaban iya.


"Buk! Pak! Keisya pulang dulu ya, rasanya aneh sekali menyebut kata 'pulang' padahal nyatanya rumah Keisya adalah Ibu sama Bapak tapi sayangnya itu dulu," air mata Keisya membendung memenuhi kelopak matanya tapi berhasil dia tahan agar tidak mengalir takut merubah suasana jadi sedih nanti bapak tambah sakit lagi.


"Loh kamu kan gak diusir dari rumah sayang, kamu kan tetap putri kami yang tersayang. Kamu mau datang kapan saja pintu selalu terbuka untuk kamu, jadi jangan banyak berfikir yang tidak-tidak," Erna mengelus lembut rambut Keisya.


"Ya udah, Keisya balik dulu tunggu ya besok disini jangan langsung pulang," setelah menyalami kedua orang tuanya Keisya pun mengikuti langkah Zahra keluar. Sampai didepan meja resepsionis, Zahra kemudian membayar semuanya setelah mengetahui total bayarannya, bagi Zahra itu tidak mahal biasa orang kaya mah gak peduli mahal atau tidak yang penting stok uang di brankas masih full.


"Terima kasih ya Mah sudah bayarin semuanya, kami jadi merepotkan Mama," ujar Keisya saat berada dalam mobil, ucapan Keisya terdengar sungkan.

__ADS_1


"Ya ampun Kei sayang, ini juga sudah termasuk kewajiban Mama kita semua adalah keluarga jadi gak perlu sungkan," Zahra mencubit hidung Keisya pelan yang dicubit cuma senyum senyum saja. Mobil pun melaju meninggalkan rumah sakit.


__ADS_2