
Vino menatap lekat wajah manis Keisya yang masih tertidur lelap, sesekali Vino meniup wajah Keisya sehingga membuat gadis kecil ini menggeliat merasa terganggu dengan aktivitas tidak berfaedah yang dilakukan oleh suaminya ini. Walaupun begitu Keisya memilih untuk tidak membuka mata karena badannya sangat pegal sekali, kemarin malam Vino bermain dengan sangat brutal membuat Keisya kewalahan. Mau bangun pun rasanya susah, ada yang perih dibawah sana padahal kan ini bukan kali pertama dia melakukannya tapi tetap saja rasanya perih dan sakit.
Vino menyampingkan badannya kemudian meraih ponsel di atas meja mengecek apakah ada pesan dari Aldi, jika tidak ada maka ia akan melanjutkan bersantai dirumah menemani istrinya yang sepertinya capek sekali. Vino memainkan rambut Keisya dan sesekali memelintir dengan jarinya berniat agar gadis didepannya ini bangun.
"Bisa diem gak!" Keisya menepis tangan Vino kemudian menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Vino terkekeh geli seraya menarik selimut agar wajah Keisya terlihat.
"Ayo bangun! Kita mandi bareng," bujuk Vino.
"Gak. Gak mau! Nanti kak Vino ngelakuin hal itu lagi," jawabnya seraya terus menahan tangan Vino agar tidak menyingkal selimut yang menutupi wajahnya.
"Ide bagus. Selama ini kita tidak pernah melakukannya di kamar mandi, mau mencobanya?"
"Dasar mesum. Udah sana pergi!" Keisya mendorong dada bidang Vino agar segera pergi. Vino tertawa ngakak.
"Yakin gak mau mandi bareng?"
"Gak, terima kasih."
Vino bangkit dari tempat tidur kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Keisya perlahan menurunlan selimut dari wajahnya karena dirasa Vino sudah tidak ada lagi di sampingnya. Keisya bernafas lega.
***
"Tumben banget kalian bangunnya telat, ini sudah pukul 8 lohh. Kamu juga Vino kok gak ke Kantor?" Zahra mencerca mereka dengan pertanyaan mengintrogasi.
"Gak ada yang penting di kantor jadi Vino cuti aja, Aldi juga udah tau," jawab Vino seraya memasukkan satu sendok nasi dan lauk ke mulutnya. Zahra menggelengkan kepalanya pusing, mentang-mentang Vino yang punya perusahaan dia semena-mena libur, tapi tidak apa-apa deh asal gak bangkrut aja.
Jadi mereka berdua ini telat sarapan, sudah dipanggil sama Zahra tapi gak ada yang nyahut sampai pintu digedor tapi mereka berdua gak berkutik sama sekali.
"Ya sudah makan yang banyak, Mama mau ke butik sekarang. Kalian berdua jaga rumah, tapi kalo mau jalan-jalan juga gak apa-apa yang penting kalian gak keluar kota saja sih."
"Keluar negri boleh?" goda Vino.
"Pergi aja gak apa-apa tapi gak usah balik ke rumah lagi."
__ADS_1
Vino mendelik cemberut menatap sinis ke arah Zahra yang sudah melenggang pergi.
Hendak keluar rumah, Zahra dikejutkan oleh Vina yang sudah berdiri di depan pintu. Hampir Zahra kejengkang ke belakang.
"Astaga Vina, Mama kaget banget lohh. Kamu ngapain berdiri kayak patung disitu? Kenapa gak masuk aja?" Zahra mengusap dadanya pelan.
"Hehe maaf tante, Vina baru aja dateng mau masuk juga tapi udah ada tante disini," kekeh Vina seraya menggaruk tengkuknya.
"Keisya nya ada tante?" tanya Vina.
"Ada didalam lagi sarapan, tapi kayaknya sudah selesai deh mau tante panggilin?"
Zahra hendak melangkah masuk namun segera dicegah oleh Vina.
"Gak usah repot-repot tante, biar Vina aja yang nyemperin. Vina juga cuma mau pamitan doang kok."
"Loh udah mau balik? Kok cepet banget, baru juga dua hari disini."
"Oh begitu? Ya sudah kamu masuk samperin Keisya saja, Tante akan berangkat sekarang," tak lupa Zahra memeluk Vina sebagai salam perpisahan.
"Permisi bisa minta waktunya sebentar nona Keisya?" Pandangan Keisya dan Vino segera teralihkan. Vina memberi salam kepada mereka berdua agar terlihat sopan. Vino menatapnya datar kemudian balik memandang ponselnya.
"Ehh ada Vina, yuk sini makan bareng." Keisya berlari menghampiri Vina lalu menarik tangannya ke arah meja makan, belum sempat nolak malah ditarik duluan.
"Eh gue udah makan kok serius, gue cuma mau pamitan doang," ujar Vina mengibaskan tangannya menolak sopan.
"Udah mau balik lagi? Aku kira kamu liburan selama tiga bulan," Keisya memasang wajah cemberut andalannya.
"Buset, itu liburan apa nganggur tiga bulan."
Keisya hanya terkekeh gemas. Vina sudah tidak canggung lagi kalo mau bicara atau bercerita dengan Keisya didekat Vino, karena Vina tau Vino tidak terlalu mempedulikan jadi ya gak perlu risih.
"Berangkat jam berapa?"
__ADS_1
"Nanti jam 10. Tapi gue harus membeli buku di gramedia dulu soalnya disana gak ada jual buku yang gue cari jadi terpaksa deh ngambil cuti dua hari buat nyari tuh buku, untungnya di gramedia masih sisa banyak jadi gue gak perlu buru-buru dan rebutan sama yang lain," jelas Vina seraya menatap jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangannya. Keisya hanya ber oh ria.
"Ya udah ya, gue harus berangkat sekarang. Jaga diri baik-baik, jangan telat makan, dan jangan kangen sama gue ya," Vina mencubit pipi Keisya gemas.
"Ihh ge-er banget, siapa juga yang kangen sama kamu tapi ucapanku ini bohong dan yah aku bakal kangen banget sama kamu," Keisya berhambur ke pelukan Vina. Vina terkekeh geli mendapat pelukan tiba-tiba.
Vina melangkah keluar rumah setelah puas berpamitan dengan Keisya dan berjanji untuk segera pulang lagi waktu liburan tiba.
"Ayo!" Vino menarik lengan Keisya setelah Vina sudah hilang dari pandangan.
"Eh mau kemana?"
"Olahraga. Mau gak?"
"Gak mau nanti capek, aku sudah mandi gak mau berkeringat lagi," tolak Keisya dan kembali menarik lengannya.
"Tapi olahraga ini beda, aku yakin pasti kamu bakalan suka," bujuk Vino.
"Memangnya olahraga apa? Dan dimana?"
"Udah sih ikut aja."
Vino menyeret Keisya naik ke kamar, kemudian langsung mengunci pintu agar Keisya tidak kabur.
Keisya mengernyit heran kok bisa olahraga di kamar gak masuk akal banget, ya walaupun olahraga bisa dilakukan dimana aja tapi ini agak aneh gak sih?...
"Sayang, mau cuddle," Vino mengerucutkan bibirnya manja. Ya Tuhan pemandangan apa ini, tidak pernah sekalipun Keisya melihat Vino dengan ekspresi selucu ini, dan lihat cara dia memajukan bibirnya bak bayi yang minta dibelikan mainan.
"K-kak? Kakak masih waras kan?" Keisya menyentuh kening Vino siapa tau suaminya demam makanya bertingkah aneh.
"Aku gak sakit sayang, mau cuddle mau cium juga," Vino bergelayut manja di lengan Keisya sambil terus memajukan bibirnya minta dicium. Bukannya Keisya yang harus seperti ini kepadanya kok malah sebaliknya ya.
"Kakak ih berat banget jangan gelantungan gitu dong, ayo pindah ke ranjang aja kita cuddle disana," Keisya menuntun Vino yang manja ini menunu ranjang, tanpa ia sadari daritadi Vino sudah memasang senyum smirk yang tidak bisa diartikan apa maksudnya..
__ADS_1