Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
87


__ADS_3

Flashback nya masih on ya guys


Pagi harinya Sita berlari menuruni anak tangga untuk menemui Reyhan perkara nomor telpon yang kemarin, namun sejak kejadian itu Sita cuti ngampus selama sebulan. Bukan karena bolos pelajaran karena memang itu sudah waktu yang dikasih dosennya untuk menyelesaikan tugas menganalisisnya, untunglah Sita bisa menghindar dari satpam gila itu untuk sementara waktu.


Sita menemukan sang kakak diruang tengah kebetulan Reyhan tengah melepas lelah karena tadi habis jogging sama teman-temannya, sekalian juga godain gadis komplek yang ikutan jogging juga. Biasalah sifat Reyhan.


"Bang," panggil Sita terkesan berbisik.


"Kanapa lo pake bisik-bisik segala kayak tahanan yang mau kabur saja," sungut Reyhan kesal. Sita memutar bola matanya malas kemudian ikut duduk disamping yang lebih tua. Sejauh ini gak ada teguran sama sekali, itu artinya satpam gila itu tidak menghubungi Reyhan karena kalo memang kejadian yang ada di bayangan Sita pasti Reyhan akan memarahinya, tapi ini tidak. Malah nih orang anteng-anteng saja sambil memainkan benda pipih persegi panjang itu, atau mungkin dia lupa apa gimana? Entahlah Sita juga bingung.


"Ditanya kenapa kok malah diem? Mendadak bisu lo?" Reyhan yang sudah menunggu kalimat selanjutnya keluar dari bibir Sita malah dibuat heran karena Sita malah mengatup bibirnya rapat-rapat. Dan melamun.


"Apa sih lo, gak jelas banget," sewot Sita ikutan kesal.


"Lah si anying, lo tadi manggil gue terus gue tanya kenapa lo malah diam, sekarang malah bilang gue gak jelas, waras neng?" ketus Reyhan hendak berdiri namun segera ditahan oleh Sita.


"Baperan lo, masa dipanggil doang gak boleh. Gue kan adek lo," Sita nyengir tanpa dosa.


"Bukan itu masalahnya kunti, masalah nya itu lo manggil gue gak tau kenapa tapi pas gue tanya lo malah diem melamun kayak orang bego. udah ah cepetan ngomong sebelum gue pergi nih, cape," Reyhan menepis tangan Sita yang melingkar manis di lengannya.


"Gak terlalu penting sih, gue cuma pengen nanya ada nomor baru gak yang nelpon atau ngechta lo," ujar Sita ragu-ragu.


"Gak ada tuh, emang kenapa? Oh gue tau. pasti lo sebar nomor gue kan? Cepet kasih tau gue janda mana lagi yang mau lo comblangin sama gue?" tanya Reyhan geram, udah hafal banget sama kelakuan Sita yang suka sebar nomornya sembarangan. Bukan masalah sih bagi Reyhan asalkan yang dikasih nomor dia tuh cewek yang masih remaja, lah ini yang chat dia kebanyakan janda anjir. Pernah dulu Reyhan dapat kenalan dari Sita cewek desa sebelah katanya kembang desa, adek laknat nya yang beberin nomornya. Kalo dilihat dari poto profil nya sih cantik, maklum Reyhan kan mandang fisik orang dia juga ganteng kok tapi sayang buaya.

__ADS_1


Lama kelamaan, Reyhan mulai nyaman sama perempuan ini karena tiap hari telponan tanpa kenal waktu. Dan tibalah waktunya Reyhan ngajak ketemu di sebuah cafe dan sialnya lagi si perempuan itu mau-mau aja diajak ketemu.


Kejadian selanjutnya bikin Reyhan langsung shock dan hampir demam selama seminggu. Pas ketemu orangnya, dia dibuat kaget karena perempuan yang dikenal nya lewat Sita ternyata sudah punya anak dan anaknya sudah tiga, anjir lah. Mulai saat itu Reyhan memblokir kontak wanita itu dan langsung mengganti nomor nya. Itu sih kejadian yang tidak bisa ia lupakan walaupun ingin. Sita tidak bisa menahan tawanya kala mendengar ocehan abangnya yang protes harus tanggung jawab karena ulahnya. Sita juga tidak tau kalo wanita itu adalah seorang janda, lagian penampilannya kayak perempuan remaja, body nya juga masih wow cocok sama Reyhan menurut Sita sendiri. Namun sepertinya realita tidak selalu sesuai dengan ekspektasi.


Skip permasalahan Reyhan, balik lagi ke Sita.


"Gue gak sebar nomor lo ke janda lagi kok, sumpah," ujar Sita mengangkat dua jarinya serius.


"Terus? Kenapa lo nanya?" Reyhan mengernyit heran.


"Gue kasih nomor lo ke laki-laki kayaknya dia duda deh, kata temen kampus gue begitu," Sita berucap takut, dia gak bilang kalo yang dikasih nomornya itu Satpam kampusnya. Reyhan membuang nafasnya kasar.


"Gue masih normal ya ******, gue gak belok. Gak janda gak duda selera pilihan lo gak ada yang bener, heran gue. Lo mau liat abang lo yang tampan berkarisma ini nikah sama laki-laki? Mana duda lagi," habis-habisan dah tuh Sita diceramahin.


"Bukan gitu anjir, tuh orang awalnya mau minta nomor gue tapi karena gue gak mau ya gue gak punya cara lain selain kasih nomor lo ke dia," jelas Sita pasrah.


Flashback off hehe....


Maaf gak jelas


.....


"Kak," panggil Keisya. Deheman pelan sebagai jawaban dari Vino karena dia sedang sibuk dengan layar monitor nya. Biasalah masalah pekerjaan, kalo gak bisa ke kantor ya kerjain di rumah.

__ADS_1


"Ish kak, kalo dipanggil nyahut dong," Keisya melepaskan tautan jari mereka karena ngambek. Vino lantas segera menutup laptopnya karena dirasa sudah mendapat sinyal aneh yang akan terjadi sebentar lagi, Vino langsung menatap manik mata bulat milik Keisya.


"Kenapa hmm? Mau apa?" Vino tiba-tiba mendadak jadi romantis begini gimana gak meleleh tuh Keisya, dia kan jadi gak bisa lanjutin acara ngambeknya.


"Mau lihat sunset," rengek Keisya dan kembali bergelayut manja pada lengan kekar Vino.


"Masih jam setengah 5 loh sayang, sunsetnya belum muncul. Nanti kan kalo muncul bisa tuh kamu liat dari balkon," ujar Vino menunjuk balkon yang terbuka.


"Ihhh bukan dari sini tapi mau ke pantai," Keisya mengeluarkan jurus andalannya yaitu puppy eyes.


"Sekarang?" Keisya mengangguk antusias. Vino berfikir sejenak tak lama setelah itu dia berdiri dari tempatnya.


"Ayo berangkat sekarang keburu turun tuh mataharinya, tapi sebelum itu ganti baju dulu."


Keisya menurut patuh kemudian beralih ke lemari.


"Eh-eh kalian berdua mau pergi kemana sore-sore begini?" tegur Zahra yang kebetulan lagi pedicure dan manicure di ruang tengah.


"Katanya Keisya mau lihat sunset, Mama mau ikut?" tawar Vino.


"Aduh kalian perginya di waktu yang gak tepat, padahal Mama mau ikut tapi sayangnya lagi perawatan kuku. Lain kali aja deh," Zahra berujar sedih. Vino dan Keisya mengangguk serentak kemudian berpamitan lalu melenggang pergi.


Vino memilih pantai yang terdekat saja, karena kalo jauh-jauh ntar keburu maghrib. Tidak sampai 20 menit mereka sampai di pantai yang dimaksud. Lumayan ramai karena tujuan pengunjung lain juga sama ingin melihat matahari terbenam.

__ADS_1


"Rame banget, padahal ini bukan hari minggu," gumam Keisya melirik sekitar. Vino mengangguk membenarkan ucapan Keisya.


Yeayy double update, maaf kalo ceritanya kurang jelas hehe maklum otakku ini lagi buntu buntunya....


__ADS_2