Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
56


__ADS_3

Hening sejenak.


Dokter paruh baya tersebut menarik nafas dalam-dalam, agak berat ya ngucapinnya takut mereka shock dengernya. Vino beserta kedua orang tuanya masih menunggu kelanjutan dari kondisi atau keadaan Keisya.


"Alhamdulillah nona Keisya masih bisa selamat tapi dalam keadaan kritis dan untung saja golongan darahnya tidak susah dicari karena disini sudah ada golongan darah yang sama dengan pasien dan untuk bayi dalam kandungan nya..." Dokter itu menggantung ucapannya membuat yang mendengar merasa penasaran apalagi ini menyangkut tentang bayi mereka.


"Kenapa dengan bayi kami Dok? Apa dia juga selamat?" Vino harap-harap cemas, walaupun pikirannya mengatakan bahwa semua akan baik-baik tetapi hati malah memprovokasi dirinya untuk terus berfikir negatif. Hati tidak selalu benar kadang juga bisa salah ya adik-adiks-adiks atau kakaks-kakaks hehe....


"Kami mohon maaf tuan Vino, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat keadaan seperti ini tidak terjadi tapi Tuhan berkata lain, bayi dalam kandungan nonq Keisya tidak bisa kami selamatkan," dokter itu menunduk sedih, ini bukan kabar bagus untuk keluarga pasiennya. Gibran melongo sementara Zahra langsung menangis memeluk suaminya mendengar kabar buruk ini. Vino tidak dapat berkata-kata, Vino terduduk lemas di lantai menopang tubuhnya dengan lutut, seketika badannya seperti tidak bertulang seakan dunia berhenti berputar, kebaikan sepertinya tidak berpihak padanya saat ini. Vino menangis dalam diam sudah tidak paham lagi dengan kedaan.


"Nona Keisya keguguran karena terlalu banyak mengonsumsi minuman beralkohol, minuman seperti itu sangat bahaya bagi wanita hamil apalagi kandungannya yang masih tiga bulan," jelas dokter lagi sehingga membuat ketiganya shock lagi, seingat Vino Keisya tidak pernah minum minuman seperti itu.


"Dokter anda bercanda? Istri saya tidak mungkin seperti itu, bahkan minuman beralkohol saja dia tidak tau bagaimana bisa dia meminumnya, setiap hari dia selalu menjaga pola makannya," bantah Vino setelah mendengar penuturan dokter yang menurutnya tidak masuk akal.


"Kalau masalah itu saya kurang tau tuan Vino, tapi menurut pandangan saya itu yang membuat istri anda keguguran," Dokter sangat yakin dengan hasil pemeriksaannya tidak mungkin salah. Sejenak bayangan sekelebat mimpinya tadi malam teringat, tidak mungkin kan jika Keisya dipakai bergilir oleh para berandal itu, gak itu hanya mimpi Vino tegaskan lagi itu hanya mimpi. Kronologinya begini, selama Keisya diculik dia selalu dipaksa minum minuman beralkohol entah apa tujuannya yang jelas mereka ingin melihat mangsanya tersiksa dengan hasil karya mereka, minuman yang disodorkan juga tidak sedikit. Setiap malam Keisya dipaksa meminum tiga botol minuman keras, bisa bayangin gak tiga botol untuk wanita hamil seperti Keisya sudah dapat dipastikan jika Keisya akan positif keguguran. Vino yakin banget sih kalo para berandal itu yang sudah membuat istrinya keguguran begini, dan Vilia tentu saja dia ketua nya. Tidak dapat dimaafkan jika sudah seperti ini.

__ADS_1


Vino mengepalkan tangannya, sekarang dia begitu marah. Marah campur kecewa, disisi lain dia bersyukur Keisya masih bisa diselamatkan tapi disisi lain lagi Vino merasa sangat marah, iblis di dalam tubuhnya seketika bangkit lagi. Vino berdiri kemudian pergi namun langsung dicegah oleh Zahra.


"Vino kamu mau kemana?" Zahra menarik tangan Vino yang sudah dikuasai amarah, matanya memerah tangannya mengepal kuat, sepertinya dia sudah siap menonjok orang.


"Lepas Mah, Vino mau buat perhitungan lagi sama berandal bangsat itu," Vino menepis pelan tangan Mamanya agar tidak menghalangi langkahnya. Vino tidak peduli dimanapun mereka semua berada akan tetap Vino cari sampai dendamnya terbalaskan.


"Vino tenanglah, semua ini tidak akan merubah keadaan," Zahra menangis terisak dia juga sakit hati dan kecewa.


"Vino tidak peduli Mah mereka semua harus mati," tegas Vino.


"Vino cukup! Ini semua sudah takdir dan ujian untuk keluarga kita jadi kamu jagan gegabah dan menambah masalah lagi, biarkan mereka mendapat apa yang seharusnya didapatkan, lagipula kan penculiknya sudah ditangani polisi dan kamu juga sudah membuatnya babak belur, apa itu belum cukup untuk membalas perbuatan mereka? Sudahlah Vino mending kita fokus untuk proses kesembuhan Keisya," kini Gibran yang menyahut, baginya menyelesaikan masalah dengan kekerasan tidak akan ada akhirnya, biarlah pihak berwajib yang mengurus semuanya. Vino menatap manik mata Zahra dan Gibran bergantian, ada benarnya juga perkataan kedua orang tuanya tapi tetap saja dia masih tidak bisa menerimanya. Vino diam ditempat, mencoba menetralisirkan pikiran. Setelah tenang Vino berbalik dan menatap dua orang yang paling disayanginya lalu berjalan dengan perlahan menghampiri.


"Kamu tidak salah Vino, Mama yang salah karena tidak menjaga Keisya waktu itu seharusnya Mama tidak pergi ke butik hari itu maka semuanya tidak akan terjadi," sesal Zahra sembari mengusap punggung Vino penuh sayang.


"Nggak, ini bukan salah Mama. Ini salah Papa," sahut Gibran.

__ADS_1


"Kalian berdua tida salah, Vino yang salah. Vino tidak menjaga Keisya dengan baik," Vino kini menyalahkan dirinya sendiri.


'Sudahlah ini semua salah saya, kalian bertiga gak bersalah' Dokter tadi berkata dalam hati.


"Apa saya bisa menemui istri saya?" tanya Vino menatap dokter yang masih berdiri didepan pintu tidak bergeming sama sekali ditempatnya.


"Tentu saja, tapi hanya satu orang yang diizinkan masuk dan usahakan agar tidak terlalu lama karema pasien sebentar lagi akan dioperasi secepatnya," jawabnya. Vino melirik ke arah keduanya, Zahra dan Gibran serempak menganggukkan kepala mengisyaratkan agar Vino saja yang masuk. Vino berjalan perlahan, membuka pintu kaca itu.


Keisya berbaring tak berdaya dengan mata tertutup (ya iyalah matanya tertutup namanya juga pingsan), alat medis memenuhi seluruh tubuhnya. Vino tidak kuasa melihat kondisi Keisya saat ini, Vino menggenggam erat tangan Keisya lalu menangis sepuas puasnya menumpahkan kesedihan yang memenuhi relung hatinya.


"Aku harap kamu ikhlas dengan kepergian bayi kita, dan aku harap setelah sadar kamu tidak menyalahkan diri kamu sendiri karena ini semua sudah takdir mungkin Tuhan masih belum mempercayai kita," monolog Vino seraya terus menangis. Terserah kalian semua mau sebut Vino laki-laki lemah atau cengeng karena hal ini tapi kenyataannya kehilangan seorang anak yang sudah dinanti nantikan itu sangat sakit sekali.


"Sekarang aku butuh sandaran, cepat sadar ya sayang," Vino berdiri dari duduknya lalu melangkah keluar karena waktu nya sudah habis Keisya hari ini harus menjalankan operasi secepatnya.


***

__ADS_1


Oke sesi menghujat dimulai disini, hujat aja author karena sudah membunuh bayi Keisya dan Vino😔. Author harap readers tercinta menyukai episode ini, see you jangan lupa komen ya💗💗


Maaf kalo ceritanya membosankan😭


__ADS_2