Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
54


__ADS_3

"KEISYA!!!!!!!"


Vino terbangun dengan nafas terengah engah, keringat dingin mulai membanjiri seluruh tubuhnya, mimpi tadi terasa sangat nyata dan menyakitkan. Vino memijit pelipisnya, dan pikirannya langsung tertuju pada Keisya. Vino melihat jam di ponselnya sudah pukul 7 pagi dengan cepat dia langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera mengenakan pakaian yang rapi, sekarang tujuannya hanya untuk menemui Keisya, berharap mimpi tadi tidak terjadi pada istrinya.


"Vino sarapan dulu sayang habis itu kita langsung berangkat," Zahra mencegah Vino yang sudah berlari kearah pintu. Vino menoleh sebentar lalu berjalan ke arah meja makan disana sudah ada Gibran juga.


"Gak sempat Mah, Vino harus kesana secepatnya. Vino mau berangkat sekarang, Mama sama Papa bisa jalan belakangan," Vino langsung berlari keluar menyalakan mobil lalu melesat pergi membelah jalanan kota menuju lokasi yang sudah dikirim oleh Kevin tadi malam.


Di perjalanan, Vino tidak henti hentinya membayangkan tentang mimpinya tadi apakah Keisya benar-benar dalam keadaan seperti itu? Membayangkan bagaimana bengis nya seorang Vilia jika sudah marah dan cemburu. Vino berharap itu tidak terjadi. Perjalanan menuju kesana untung saja tidak macet tapi hanya satu kekurangannya yaitu tempatnya terlalu jauh yang bisa ditempuh dalam waktu tiga sampai lima jam, wow sangat jauh bukan. Sesekali Vino memukul stir nya karena kesal dan marah. Tidak dia sangka jika Vilia adalah dalangnya, wanita itu tidak mikir sama sekali padahal sudah jelas jelas dia yang nyakitin duluan egois sekali jadi orang, mau ditabok pake wajan gosong biar mampus.


***


Kevin segera mengatur rencana untuk menggrebek gudang kosong itu sebelum Keisya dipindahkan ke tempat lain lagi karena memang ya tiap hari Keisya dipindah mulu dari satu tempat ke tempat lain, tujuannya ya buat jaga-jaga aja kalo ada yang cepu nantinya. Benar dugaan mereka, Keisya mau diangkut lagi ke tempat lain melihat segerombolan berandal keluar dari dalam gudang dan menaiki motor mereka masing-masing, diantara puluhan motor itu ada satu mobil yang bisa dipastikan pasti itu milik dalangnya alias Vilia. Kevin segera menghubungi Vino untuk segera datang secepatnya agar tidak terlalu membuang waktu.


"Saya akan sampai sebentar lagi," ujar Vino panik berbicara dengan Kevin lewat telpon.


"Kita kurang cepat tuan Vino, istri anda sepertinya akan dipindah lagi," jawab Kevin.


"Anj**g. Cepat kalian semua cegah mereka dan buat waktu mereka tersita sehingga saya bisa datang tepat waktu!" Vino semakin panik dalam mobil.


"Tapi tuan, mengingat jumlah kami yang sedikit dibanding mereka kita akan kewalahan," Kevin negosiasi dulu takut nanti dia juga yang bonyok.


"Yang lain kemana? Dan polisi juga sudah kamu hubungi?" Vino semakin panik.


"Sudah tapi mereka juga sama dengan anda masih dalam perjalanan, dan bodyguard yang lain juga masih dalam perjalanan," jawab Kevin ragu-ragu. Bodyguar yang diutus oleh Vino untuk menemani Kevin belum juga sampai, mereka masih ada dilokasi yang pertama tempat Keisya disekap.

__ADS_1


"Lakukan apa saja cepat sebelum istri saya dibawa pergi lagi!!!" perintah Vino tegas sambil terus mengemudi dengan kecepatan penuh berharap bisa sampai tepat waktu sebelum dipindahkan lagi. Kevin menggigit bibir bawahnya lalu terpaksa menjawab iya.


Agak ragu juga sih jika dia dengan sok berani mencegah para berandal yang dipastikan jumlahnya puluhan itu, tapi gak sampe dua puluhan sih mungkin sekitar 13 orang tapi tetap saja mengingat mereka hanya berlina saja bisa-bisa babak belur wajahnya yang tampan itu.


"Kalian alihkan perhatian mereka!" perintahnya pada salah satu temannya yang katanya ahli gym dilihat dari otot otot nya yang besar sampai urat nya pun terlihat. Keempat nya hanya mengangguk karena ya memang mereka gak takut sama sekali jika harus berhadapan dengan berandal jalanan seperti geng nya si Reno, masih kalah jauh lah sama badannya yang gede dua kali lipat, yang ada mereka yang bakalan takut.


"Heh kalian! Mau bawa kemana anak itu?" teriak teman Kevin yang berbadan paling besar dan kekar wajahnya sangat garang sekali.


"Siapa kalian? Berani sekali mencegah kami," teriak Reno setelah menurunkan Keisya yang tadinya dia gendong bawa ke dalam mobil.


"Gak usah banyak tanya, sekarang lepaskan saja gadis itu!" perintahnya dengan garang. Reno mengisyaratkan rekan rekannya untuk menyerbu keempat orang kekar itu tapi tidak ada satupun yang bergerak dari tempatnya. Ahhh cemen banget, tato nya aja yang banyak tapi mentalnya mental kerupuk gimana sih. Reno menghela nafas kesal dan sekali lagi menyuruh yang lain buat nyerbu si pengacau sebelum polisi menemukan mereka, tapi tetap saja mereka membisu ditempat. Oh iya Vilia gak ada sama merela, dia sudah nunggu ditempat selanjutnya yang akan jadi tempat penyekapan Keisya yang keempat. Udah tiga kali pindah ya makanya Kevin sampai bolak balik nyari dan ini yang keempat.


Keempat teman Kevin ini maju hendak merebut Keisya namun tanpa diduga Reno mengeluarkan sebuah pistol dan mengarahkan kepada keempatnya agar mereka tidak mendekat atau Keisya yang jadi sasarannya. Mereka pun berhenti dan menatap sangar pada aksi Reno yang kekanak kanakan pake acara ngancem segala kayak gak ada cara lain.


"Sekali kalian melangkah, maka gadis ini akan lenyap ditanganku," ujar Reno dengan seringai yang membuat siapa saja melihatnya pasti merasa najis.


"Diem lo! Lo mau liat bocah ini terkapar tidak berdaya?" ancamnya lagi.


"Yoo santai bro, gimana kalo kita barter," tawar Kevin seraya berjalan ke depan. Reno mengernyir heran.


"Barter apaan?"


"Barter itu tukar menukar barang goblok, gak pernah diajat waktu sekolah ya ketauan deh lo suka bolos sekolah atau jangan-jangan lo gak pernah sekolah," kekeh Kevin berusaha tenang. Reno memutar bola matanya malas.


"Gue tau barter, maksud gue lo mau barter apaan bego? Lo kali yang gak pernah sekolah," ujar Reno kesal.

__ADS_1


"Makanya kalo nanya yang jelas dikit kek."


"Gue nanya dengan jelas ya setan lo aja yang kurang paham makanya makan makanan yang bergizi jangan makan pasir." Reno kembali menodongkan pistol ke arah kepala Keisya yang tadinya sempat diturunin karena menjawab pertanyaan Kevin. Keisya menutup matanya takut, takut jika Reno kelepasan dan langsung menembakkan peluru ke kepalanya, ohh itu pasti sakit. Tapi tenang saja pistol nya gak ada peluru dalemnya cuma buat ngancem doang.


"Cepat ngomong lo mau barter apaan?" Reno penasaran.


"Kita barter apa ya, lupa gue sebentar gue mikir dulu ada diujung lidah. Lo sih kenapa pake nanya segala kan gue jadi lupa," alasan Kevin sok mikir agar aktingnya terlihat natural. Reno tanpa sadar menunggu karena dia juga penasaran.


"Cepetan bego gue udah ditunggu ini mau bawa nih bocah!" Desak Reno.


"Sebentar lagi gue inget, bentar-bentar pokoknya ada diujung lidah," ujar Kevin berusaha. Keempat rekannya ikut menunggu.


"Buruan, gue kasih waktu mikir 10 detik!"


"Anjir lo, satu menit."


"Setan lo, oke gue kasih satu menit."


"Tiga menit aja biar pas."


"Mikir cepat atau gue tembak!"


"Iya iya santai."


Dalam hitungan 10 detik, akhirnya Vino tiba dilokasi, mobilnya melesat langsung terparkir sempurna dihadapan mereka semua.

__ADS_1


"Yes akhirnya berhasil!!!"


__ADS_2