Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
75


__ADS_3

"Sendirian aja neng, mau abang temenin gak?"


"Ihh kak Vino gak usah bercanda, gak liat apa aku sedang pusing," ketus Keisya.


"Kenapa emang?" Vino duduk dekat Keisya yang tampak resah sampai mengigiti ujung jari nya, sepertinya masalah nya serius.


"Apalagi kalo bukan tentang kak Fitri, tadi Ibu nelpon sambil nangis kan aku jadi ikutan nangis, mana Ibu berusaha banget buat nyari kak Fitri gak peduli nyarinya sampai mana, jadi terharu," Keisya membuang nafas kasar. Vino menatap lekat wajah Keisya, matanya mulai berkaca-kaca tapi berhasil dia tahan agar bulir bening itu tidak terjun bebas.


"Terus Ibu sudah cari sampai mana?" Vino jadi tertarik membicarakan keadaan keluarga Keisya, dia yang tadinya tidak peduli dikarenakan Fitri terlibat, kan Vino gak suka sama Fitri. Udah anak angkat banyak gaya lagi kan Vino jadi ilfeel, tapi kali ini kayaknya beda deh, tiba-tiba tertarik bahas masalah ini.


"Belum sampai mana-mana orang belum nyari, masih berusaha aja," jawab Keisya setelah rasa sedihnya sedikit menghilang.


"Kemarin dia kasih tau lokasinya nggak, bukannya dateng kesini ya kemarin?"


"Nggak, kak Fitri bilang mau pindah aja," Keisya menghela nafas kasar.


"Hmm kalo kata aku sih sabar aja," Vino mengedikkan bahu nya, Keisya langsung dibuat geram olehnya.


"Lama-lama kujual juga ginjalmu kak," Keisya memukul lengan Vino dengan keras, orang lagi serius malah dibercandain.


.....


.....

__ADS_1


Pagi yang indah apalagi di hari minggu membuat semua orang atau mungkin sebagian menikmati weekend ini untuk liburan, setengah nya lagi pasti orang mager yang memilih rebahan sampai siang demi melepas lelah enam hari menghabiskan waktu untuk bekerja atau untuk aktivitas lainnya.


Tapi tidak untuk orang kaya satu ini yang memilih untuk piknik ke bukit, sudah direncanakan sedari awal.


Zahra keluar kamar dengan outfit kerennya, dia mengenakan baju kaos lengan pendek warna cream dan dipadukan dengan rok selutut warna hitam tidak lupa kacamata hitam yang setia bertengger di matanya. Penampilan layaknya remaja ABG bikin siapapun akan mengira bahwa ia belum menikah, padahal udah punya anak satu, udah nikah lagi.


Gibran yang ogah ogahan keluar kamar dengan pakaian biasa aja, pakaian santai yang cocok di pakai di rumah.


"Ihh Papa kayak gembel, sana ganti! Gak bersemangat sekali buat liburan nya," Zahra mendengus kesal melihat penampilan acak-acakan dari Gibran, mana rambut belum disisir.


"Sudah Papa bilang kan Papa gak perlu ikut kalian, Papa dirumah aja," tutur Gibran merasa nalas jika ikut anak-anak remaja liburan.


"Dih, gak ada yang boleh di rumah semua harus ikut pokoknya. Kalo Papa gak mau ya Mama terpkasa harus kunciin Papa dalam kamar sendiri terus Mama tinggal," senyum smirk ala-ala Zahramembuat Gibran bergidik ngeri. Gibran melenggang masuk kembali ke kamar menuruti perintah istrinya yang bawel.


"Wahh! Mama semangat sekali ya hari ini, pagi-pagi sudah rapi," ujar Keisya tak sengaja menguping perdebatan antara suami istri tadi dari balik pintu.


"Dilestarikan, memangnya Mama lingkungan?" sahut Vino yang ikut keluar kamar nimbrung pembicaraan dua perempuan yang sudah memiliki tempat tersendiri dihatinya.


"Ikut campur saja kamu, ini lagi kenapa belum siap-siap?" Zahra menjadi kesal lagi kala melihat Vino yang masih mengenakan piyama tidurnya bermotif kupu-kupu (dibeliin sama Keisya, mau gak mau harus dipake kalo nggak dia bakal marah).


"Masih pagi Mah, masih banyak waktu," Vino menguap menandakan bahwa ia masih ngantuk.


"Matamu itu pagi, orang piknik ya harus berangkat pagi biar nanti dijalan gak kepanasan, kita mau ke bukit lagi pasti butuh waktu banyak dalam perjalanan," omel Zahra. Keisya dan Vino hanya saling pandang menyelami pikiran masing-masing, Keisya menatap Vino tajam menyuruhnya untuk bersiap-siap sebelum iblis didalam tubuh Zahra mengamuk, Vino mengedikkan bahu acuh kemudian masuk kamar takut kena semprot nanti.

__ADS_1


Dua perempuan yang sudah siap siaga untuk pergi liburan memilih menunggu suaminya masing-masing di dapur seraya menyiapkan untuk sarapan mereka pagi ini sebelum berangkat, sekalian juga mengepak makanan atau barang yang perlu dibawa untuk pergi piknik.


"Aduh sudah pukul setengah tujuh, ini dua tuyul pesugihan lama banget turun," Zahra menggaruk kepalanya frustasi. Tak lama kemudian yang ditunggu akhirnya muncul juga. Wow Vino sangat tampan dengan pakaian casual nya, rambutnya yang sedikit basah menambah auranya semakin cool membuat Keisya sedikit tersipu, jadi gak betah ditatap Vino lama-lama.


"Lama banget sih, ayo makan agar kita cepat pergi," Zahra mendelik sebelum akhirnya memakan sarapannya.


....


....


Mereka berempat akhirnya sampai juga di bukit yang dimaksud, tempatnya sangat hijau dan indah banyak pohon-pohon rindang yang membuat tempat ini sangat cocok dijadikan tempat piknik keluarga jadi gak perlu takut kepanasan. Suasana tidak terlalu ramai karena gak banyak orang menikmati hari libur dengan piknik keluarga, mungkin sebagian orang gak punya keluarga, teman ataupun pacar jadinya gak estetik dong kalo piknik sendiri ntar dikira jomblo ya walaupun itu kenyataannya.


Zahra dan Keisya menggelar tikar untuk alas mereka duduk, sebenarnya tanpa alas pun bisa karena ada rumput yang sudah siap menjadi alas bokong mereka, tapi terserah mereka aja deh. Sementara yang laki-laki bertugas mengangkat barang-barang beserta makanan yang dibawa dari rumah, selama tikar belum digelar mereka belum bisa menurunkan bawaan nya.


"Nah sudah siap, kalian berdua letakin makanannya sebelah sana!" titah Zahra menunjuk sebelah kanan dimana disana ada spot kosong.


"Vino, Vino. Potoin Mama sama Kei dong, Mama mau pajang depan pintu," Zahra menyerahkan iphone 20 pro max nya pada Vino, dengan malas Vino memotret gambar kedua perempuan cantik ini.


"Vino yang bener dong potoinnya, kalo Mama keliatan jelek kan nanti gak ada yang naksir," dengus Zahra. Gibran yang mendengar itu menyubit lengan Zahra.


"Apa sih Pah? Mau dipoto juga? Ya udah sini Mama potoin, nanti Mama taruh poto Papa di buku yasin biat estetik." Kalimat Zahra mengundang tawa renyah dari Vino.


"Yang ada nanti orang jadi ogah baca yasin gara-gara backgroundnya poto Papa," ujar Vino. Mau tak mau Keisya jadi ikutan tertawa padahal tadi pikirannya beralih pada kedua orang tuanya termasuk Fitri, bagaimana tidak tadi mata Keisya tidak sengaja menangkap objek yang sangat mirip dengan orang yang dicarinya sehari yang lalu, namun seseorang itu langsung hilang dari pandangannya kala dia mengalihkan matanya ke arah lain.

__ADS_1


***


Maag ceritanya gaje hehe......


__ADS_2