
Suara deru mesin motor dari luar rumah membuyarkan atensi dua gadis yang tengah asik menonton TV diruang tamu.
"Nah itu pasti Bang Reyhan," tebak Sita. Fitri jadi gugup, kala seorang pria tinggi kurus masuk melalui pintu utama.
"Bang, ini nih yang namanya Fitri. Yang pernah gue ceritain sama lo kemarin," Sita menepuk bahu Fitri sementara sang empunya hanya cengar cengir canggung.
"Wahh cantik juga, bisa nih jadi calon," Rehyan berjalan mendekati mereka sambil sesekali tertawa garing.
"Mulut lo Bang minta disumpal saos sambal, gak usah jadi buaya dah lo, pacar lo udah banyak jangan jadiin sahabat gue korban lo," semprot Sita geram mengingat perangai Reyhan yang gak cukup sama satu cewek, bisa dibilang playboy kelas kakap. Bagaimana tidak, tiap hari kalo bawa cewek ganti-ganti, gak betah sama satu perempuan, dasar emang si Reyhan.
"Kayaknya kali ini gue mulai serius deh Sit, lo mau kan punya kakak ipar sahabat lo sendiri?" Reyhan menaikkan alisnya meminta persetujuan Sita yang dibalas dengusan kesal.
"Fitri gak usah percaya sama omongan dia, dia ini buaya darat, kalo ketemu dia dijalan lo gak usah nyapa cuekin aja biar aman," nasehat Sita pada Fitri. Dengan lugunya Fitri mengangguk mengiyakan, Reyan langsung tertawa melihatnya.
"Gue ke atas dulu, mau mandi."
Reyhan pergi menuju tangga, tapi sebelum itu dia curi-curi pandang sama Fitri, habis itu berlari ke atas.
.....
.....
"Sudah lah Keisya, itu sudah keputusan kakak kamu kok malah kamu yang mewek," dengus Vino, rasanya capek menenangkan istrinya yang sudah 5 jam menangisi Fitri yang katanya pindah.
"Kak Vino gak tau rasanya gimana ditinggal sama seorang kakak," Keisya tersedu-sedu sambil sesekali mengelap ingusnya menggunakan piyama Vino.
"Tisu ada noh depan mata, harus banget ya lap pake piyamaku?" protesnya.
"Tau ah, males ngomong sama kak Vino yang gak paham sama sekali," Keisya beranjak dari sofa lalu menuju dapur.
"Dasar perempuan, sifatnya gak bisa ditebak. Ihh ingus nya Keisya nempel," Vino mengambil tisu lalu membersihkan nya.
__ADS_1
"Besok jalan-jalan yuk mumpung weekend," Vino mengambil tempat duduk disebelah Keisya di meja dapur.
"Kemana?" Keisya melirik mengintimidasi.
"Liriknya biasa aja dong, emmm kemana aja asal sama kamu."
"Gombalan nya garing, gak cocok sama kak Vino yang notabennya pria dingin."
"Dah lah gak tau lagi mau bujuk kamu kayak gimana, yang penting setuju kan besok jalan-jalan, kalo gak mau ya aku sama yang lain," Vino mengedikkan bahu, berusaha memancing emosi Keisya, sudah tau istrinya kalo marah kayak gimana masih aja dipancing, gak dapet jatah satu tahun mampus kau...
"Ngomong apa tadi? Coba ulang!" Keisya mendekatkan telinganya meminta pengulangan.
"Ohh ada simpanan ternyata, pantes aja sih dari kemarin aku lihat kak Vino senyam senyum depan ponsel, lagi bales chat siapa hah? Selingkuhan kakak? Oke fine, aku mau balik ke rumah orang tuaku aja," Keisya menghentakkan kakinya dan sengaja nyenggol bahu Vino yang masih duduk membuatnya sedikit terdorong ke belakang. Nah kan apa ku bilang, makanya kalo ngomong di filter dulu jangan asal ceplas ceplos jadi gini kan.
Vino mendengus kesal, Keisya tidak bisa diajak bercanda mana dianggep serius lagi. Vino bergegas ke kamar nyusul sang istri.
"Tuh bocah kemana ya?" Vino mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar bermaksud mencari sang pujaan hati anjayy lebay, namun tak ada batang hidungnya muncul. Vino menududukkan dirinya di samping ranjang, mengalihkan atensinya kala mendengar suara air kran dari arah kamar mandi, sejenak Vino bernafas lega karena berfikir Keisya ada di dalam sana. Sekitar 5 menit, pintu yang sedari tadi Vino perhatikan tampak berusaha dibuka, senyum sumringah ia tampilkan namun seketika lenyap karena yang keluat dari sana bukan Keisya melainkan Mama nya.
"Itu tadi Papa kamu lama banget di kamar mandi, katanya mencret habis makan rujak sebaskom kemarin, eh gak tau nya Mama juga ikutan kebelet, karena males ke bawah Mama kesini aja mumpung kamar kamu gak dikunci. Mama panggil kalian berdua gak nyahut-nyahut ya udah deh pake aja selama gak ada orang, hehe maaf deh," Zahra menggaruk tengkuknya.
"Terus Keisya nya mana?"
"Lah mana Mama tau, tadi kan sama kamu di ruang tengah kok sekarang tanya Mama?"
"Iya tapi tadi ada sedikit kesalah pahaman makanya Keisya pergi Vino kira dia kesini, tapi kok gak ada," Vino sedikit prustasi.
"Nah itu kan Keisya," Zahra menunjuk ke arah pintu tempat dimana Keisya berdiri bersidekap dada, tatapannya datar ke depan.
"Ngapain nyari aku? Kan kak Vino sudah punya simpanan jadi aku gak dibutuhkan lagi dong disini," Keisya mencebik lalu menghampiri dua manusia yang sibuk saling pandang, terutama Zahra yang bingung tidak tau arah pembicaraan couple goals didepannya.
"Mama. Liat kak Vino katanya besok pagi dia mau pergi jalan-jalan sama selingkuhannya terus Keisya disuruh diam dirumah, mereka mau menghabiskan waktu diluar bersama," Keisya merengek bergelantungan dilengan Zahra sembari pura-pura nangis agar Vino dimarahi oleh Zahra. Mata Zahra melebar sempurna mendengar penuturan Keisya, tatapannya berapi-api menatap Vino.
__ADS_1
"VINO!!! SUDAH BERANI YA KAMU MAININ PERASAAN KEISYA, SINI KAMU," tanpa aba-aba Zahra langsung menarik daun telinga Vino sebagai hukuman, aksi mereka cukup seru menjadi hiburan bagi Keisya, bahagia banget rasanya liat Vino tersiksa. Lagian siapa suruh mulai duluan batinnya.
"Aduh Mah sakit, telinga Vino hampir lepas. Vino cuma bercanda doang tadi, gak ada maksud lain sumpah, maaf deh maaf," berusaha menyingkirkan tangan Zahra yang bertengger sempurna di telinganya.
"Gak ada kata maaf, suami macam apa kamu kayak gitu? Keren kamu begitu hah?"
"Wih drama gratis nih, ikutan dong," Gibran menyembulkan kepalanya mengintip keributan apa yang sedang terjadi disini.
"Ini nih Pah putramu sudah berani main selingkuh, persis sama kelakuan kamu dulu," kini tatapan menusuk diarahkan pada Gibran.
"Baru aja Papa dateng langsung dituduh, memang gak ada gunanya Papa disini," Gibran sok sedih membuat ekspresi yang terlihat menyedihkan agar mendapat simpati sedikit karena dia mulu yang salah.
"Bapak sama anak sama saja, yuk Keisya kita pergi saja dari sini," Zahra menarik lengan Keisya keluar kamar meninggalkan dua lelaki yang tersakiti.
"Awas kamu Keisya."
.....
......
Fitri menghempaskan tubuhnya diatas sofa, menghela nafas kasar rasanya capek sekali. Sedari tadi dia berkeliling mencari lowongan kerja tapi tidak ia temukan. Tadi sempat ada sih yang nawarin pekerjaan dengan syarat punya ijazah SMA, dan sialnya ijazahnya ketinggalan dirumah saking buru-burunya dia sampai lupa untuk membawanya, mau ngambil balik ke rumah tapi malu jadi terpaksa kesempatan tersebut hangus.
"Gimana? Udah dapet kerja?" Sita datang dari arah dapur membawakan segelas es teh. Fitri menggeleng lemah.
"Jangan terlalu dipaksakan, gue masih mampu kok buat biayain hidup lo hehe," kekeh Sita.
"Ya tetap saja Sit gue ngerasa gak enak sama lo dan abang lo, nanti kalo ada lowongan yang lo temukan hubungi gue ya soalnya butuh banget," pintanya.
"Hmm ya udah nanti gue bantu cari, lo tenang aja."
****
__ADS_1
Maaf kalo update kali ini tidak sesuai sama ekspektasi kalianš