Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
84


__ADS_3

Pagi yang cerah, bumil dengan perutnya yang kelewat buncit ini memilih untuk berjalan-jalan santai di halaman belakang, mumpung keluarganya juga sedang berkumpul disana. Keisya mengelilingi pohon mangga yang ada di taman belakang, sementara Vino yang tengah membantu sang Mama menanam bunga Anggrek tampak memperhatikan gerak gerik Keisya yang seperti orang tawaf.


Sambil jalan Keisya menghirup udara segar dan sesekali meregangkan otot ototnya.


Butuh 10 kali putaran sampai membuat Keisya lelah dengan aktivitas nya, dengan tertatih-tatih Keisya berjalan ke arah kursi didekat kolam renang.


Selesai dengan acara menanam bunga nya, Vino segera membanting sekop kecil ke sembarang tempat lalu bergegas menghampiri sang istri yang tampak kelelahan. Zahra hampir saja mau protes karena sekop yang dilempar Vino mengarah ke tumpukan pasir dan otomatis benturan yang terjadi antara sekop dan pasir membuat butiran pasir mengenai wajahnya, apalagi cara membanting Vino yang penuh tenaga. Tapi tuh anak sudah ngilang aja, belum juga diceramahin tujuh hari tujuh malam.


Suara deritan kursi di sampingnya membuat lamunan Keisya buyar seketika, atensinya segera teralihkan.


"Capek ya?" pertanyaan basa-basi dari Vino. Keisya mengangguk mengiyakan.


"Kenapa gak diem di kamar aja, kan bisa rebahan?"


"Bosen. Lagipula kata Mama kalo sedang hamil ini kita harus rajin olahraga biar janinnya sehat dan saat waktu persalinannya lancar, bahkan dipercaya akan melahirkan bayi yang cerdas juga," jelas Keisya panjang lebar salam satu tarikan nafas. Vino yang menyimak juga ikutan nahan nafas.


"Oh ya? Kok aku baru tau?" Vino mengernyit bingung.


"Makanya belajar, cari informasi tentang ibu hamil jangan tau nya cuma buat doang," sahut Zahra dari arah belakang, wanita paruh baya itu sedang mencuci tangannya disebuah kran. Vino memutar bola matanya malas mendengar ucapan Zahra yang terkesan mengejek. Heran juga dengan sifat sang Mama yang hobinya selalu nyolot jika orang lagi asik ngobrol, asal nimbrung aja.


Keisya terkekeh geli melihat ekspresi kesal dari raut wajah Vino, the power of emak-emak emang gak ada lawan, langsung kena mental orang dibuatnya.


Vino tidak menghiraukan ucapan Zahra lagipula wanita paruh baya itu langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan couple goals ini menghabiskan waktu pagi untuk sekedar berbincang santai.


"Kesayangan nya Papa jangan nakal-nakal ya didalam sana, kasian Mama disini capek."


"Iya Papa," sahut Keisya seraya menirukan suara anak kecil. Keduanya lantas tertawa renyah.


Vino selesai dengan acara gelud nya dengan air alias mandi, tanpa menunggu lama karena waktu juga tidak sudi menunggu manusia super lalai kayak Vino, lelaki tinggi tegap ini langsung saja mengenakan pakaian kantornya yang harganya mahal agar terlihat berwibawa.

__ADS_1


Dengan telaten Keisya memasangkan nya dasi walaupun masih agak kesusahan karena tubuh Vino yang sangat tinggi membuatnya harus berjinjit untuk sampai meraih leher Vino. (Tenang, tinggi Vino gak sampe nyentuh plafon rumah kok).


Vino terkekeh melihat nya sehingga sifat jahil nya muncul begitu saja, dengan sengaja dia ikuta berjinjit agar Keisya semakin kesusahan.


"Diem atau gak aku pasangin," Keisya mengancam dengan tegas, sudah cukup sadar diri bahwa dia memang pendek tapi gak perlu diperjelas juga.


"Gemes banget sih kamu," Vino menoel noel pipi gembul Keisya tak lupa juga mencubit hidung mancung nya sampai memerah.


"Kak Vino astaga, ku bacok juga kau lama-lama kak," geram nya. Capek memang ngeladenin suami yang sudah sangat terobsesi begini.


Drama tidak ada faedahnya ini akhirnya kelar ditandai dengan selesainya aktivitas pasang dasi yang penuh lika liku.


Vino menggandeng tangan mungil Keisya menuju dapur, karena suara cempreng Zahra sudah mulai menghantui indra pendengaran mereka.


"Makan yang kenyang ya para tuyul kesayangan Mama."


"Di shopee kayaknya ada deh Vin, coba dulu siapa tau laku."


"Ide bagus Pah, nanti Vino coba."


"Heh dua tuyul pesugihan, gak usah banyak cincong cepat makan! Mama gak kasih makan seminggu mampus kalian mati kelaparan."


"Pah, ini Mama kenapa sih daritadi mood nya gak berubah berubah, marah terus deh perasaan. Masalah kecil aja diperpanjang," bisik Vino pada Gibran yang kebetulan duduk di sebelahnya.


"Gak tau, Papa juga bingung. Kayaknya Mama kamu lagi PMR deh," jawab Gibran.


"PMS Pah, PMS. Bukan PMR, Papa kira Mama relawan yang sering obatin orang yang luka, Mama luka kesayat silet aja sampai guling guling di lantai," kekeh Vino.


"Ekhem, Mama denger loh ini. Ngapain bisik-bisik gitu, kalo mau ngomongin Mama nih deket telinga Mama aja, indra pendengaran masih sehat nih belum tuli. Jangan sampai ya Mama lempar ini meja ke wajah kalian berdua," geram Zahra.

__ADS_1


Kedua pria tak tau diri yang juga merupakan korban ini langsung terdiam tanpa suara.


.....


"Mah, tanda-tanda orang mau melahirkan itu kayak gimana sih?"


"Kamu mau melahirkan? Kapan? Sekarang? Udah ada tanda-tanda nya?" bukannya menjawab pertanyaan Keisya malah balik nanya, mana gak pake jeda lagi.


"Bu-Bukan Mah, Keisya nanya doang biar nanti kalo pas hari H nya kita semua gak kelabakan, supaya Keisya juga tau," bantah Keisya.


"Oh, bilang dong daritadi. Mmm tergantung sih, tanda-tanda bayi akan lahir itu seperti kamu susah tidur, lebih sering buang air kecil, rasa sakit atau nyeri juga, perubahan emosional, kontraksi palsu. Dari yang Mama sebutin tadi apakah sudah terjadi sama kamu?" tanya Zahra mulai serius. Keisya berfikir sejenak, sejauh ini sih dia belum ngalamin apa-apa.


"Gak ada sih Mah, mungkin belum waktunya. Tapi kontaksi palsu tuh kayak gimana Mah?"


"Kontraksi palsu itu kram perut tapi tidak terlalu sakit, lebih mirip kayak kram pas menstruasi, itu sih setau Mama." Keisya mengangguk paham dengan penjelasan detail serta rinci dari Zahra, sekarang dia jadi mengerti dan akan lebih tau kondisi jika sudah waktunya untuk mengeluarkan jabang bayi dari perutnya.


.....


"Gimana Fit, enak gak nikah sama abang gue? Lo gak dijadiin pembantu kan sama dia?" tanya Sita, saat ini mereka sedang ada diruang tengah menikmati hari santai, bukan hari libur sih tapi terserah mereka aja mau nyebutnya hari apa.


"Nggak kok Sit, santai aja. Abang lo orangnya baik kok," sahut Fitri seraya fokus memakan keripik nya.


"Lo gak disogok kan buat ngucapin kalimat tadi?" tanya Sita, dia orangnya gak percayaan makanya nuduh sembarangan. Orang abang nya titisan buaya kok bisa orang nyaman sama dia, wahh harus diselidiki ini sih batin Sita.


"Heh anak haram. Lo gak usah hasut istri gue deh, mending urus tuh hidup lo yang penuh iri dengki sama kehidupan gue," Reyhan yang baru saja turun dari tangga dan gak sengaja mendengar nyinyiran Sita yang berusaha menghasut Fitri, ya jelas dia gak terima kan.


"Apa lo bilang? Anak haram? Eh genderuwo gosong jaga ya congor lo, enak aja bilang gue anak haram," protes Sita kesal.


"Aduhhh, sudah-sudah gak usah berantem, kalian berdua anak haram tanpa terkecuali." Ucapan telak sang Mama membuat kedua nya terdiam.

__ADS_1


__ADS_2