Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
47


__ADS_3

Fitri hari ini masuk kuliah pagi karena sudah ketentuan dosennya, Fitri kuliah disebuah universitas disana tidak ada yang terlalu istimewa sih di kampus itu cuma ya cocok aja buat remaja remaji yang ingin melanjutkan pendidikan mereka, banyak juga yang kuliah disana mengingat bayarannya yang tidak terlalu membebani seluruh keluarga untuk membayar.


"Eh by the wah, gue denger adik lo nikah sama pengusaha terkenal itu ya?" ujar salah satu teman Fitri. Fitri memutar bola matanya malas jika mendengar tentang adik yang dibencinya dibahas ditengah perkumpulannya.


"Hm," jawab Fitri singkat seraya terus fokus pada ponselnya.


"Kok lo gak ngundang kita sih? Jahat banget lo, gak inget sama sahabat sendiri," Gita menepuk lengan Fitri sedikit keras dan sukses membuat ponsel yang dipegang Fitri jatuh ke pangkuannya. Fitri melotot kesal, apa yang sudah dilakukan sahabatnya ini menurutnya keterlaluan bagi si Fitri yang kesabarannya setipis perasaannya kepadaku.


"Apaan sih ******, bukan urusan gue dia nikah sama pejabat sama presiden gue gak peduli," gertak Fitri seraya meraih ponsel yang tadi terjatuh.


"Makanya Git, liat berita dong. Kok bisa lo ketinggalan informasi, udah masuk empat bulan loh pernikahan adiknya si Fitri," sahut Lena yang duduk disebelah Gita.


"Kan gue gak punya TV, makanya gak bisa nonton," elak Gita.


"Lo pikir beritanya cuma ada di TV, di sosial media juga ada kali. Ketahuan banget kalo lo kudet," sergah Sita yang merupakan sahabat Fitri juga.


"Ya kan gue gak punya kuota, makanya kalian sebagai teman baik beri gue hospot biar bisa update tiap hari," jawab Gita sambil tersenyum manja.


"Dih ogah, lo dikasih hospot ngelunjak anjir malah buka youtube aja kerjaan lo, buka Google napa biar tau," Lena menoyor kepala Gita yang memang ngelunjak kalo dikasih hospot sama temannya, dia selalu diam-diam buka youtube tapi selalu saja ketahuan oleh mereka, semenjak itu Gita gak dipercayai lagi kalo mau hospotan.


"Kalian bisa diem gak sih? Mending kerjain nih tugas yang diberikan dosen jangan malah ngegosip, nyesel gue satu kelompok sama kalian tugas gak bakal kelar," kesal Fitri, telinganya sudah panas karena teman-temannya ini membahas hal yang tidak penting menurutnya.


"Cie iri ya sama adik sendiri gak bisa nikah sama pengusaha kaya," Gita memancing emosi sekali. Lena yang sudah tau jika Fitri sangat membenci adik nya memukul lengan Gita agar dia diam karena Fitri sedang membangkitkan setan yang ada dalam tubuhnya.

__ADS_1


"Masih gue pantau belum gue tebas kepala lo," sergah Fitri menatap Gita tajam. Gita mengatupkan bibirnya diam, tidak berani menatap Fitri yang sedang marah.


"Sini biar gue yang buat laporannya," Sita menengahi kemudian menggeser laptop yang sebelumnya ada didepan Fitri, karena dia daritadi yang ngerjain semuanya jadi Sita berinisiatif untuk membantu ya karena satu kelompok lah makanya harus saling bantu. Emosi Fitri mereda, kemudian beralih pada tumpukan kertas didepannya.


"Nih Len, lo isi biodata kelompok kita," Fitri menyerahkan kertas yang sudah di steples kearah Lena.


"Oke siap, dengan senang hati," Lena tersenyum sumringah karena tugas nya cuma ngisi biodata kelompok saja itu sangat mudah.


"Terus tugas gue apa?" tanya Gita, dia sendiri yang gak dapat tugas. Fitri melirik Gita sejenak kemudian terlihat memikirkan sesuatu. Senyum jahil Fitri pasang dimulutnya.


"Tugas lo beliin kita makanan di kantin sana cepet gak pake lama!"


"Duitnya mana?"


"Ya pake duit lo lah."


"Gak peduli gue juga lagi bokek, itung-itung sebagai bayaran karena lo tadi bikin gue emosi, sana cepet nanti Kantin keburu tutup!"


Gita mendengus kesal, menghentakkan kakinya dilantai keramik dengan perasaan jengkel,namun teman-temannya tidak ada yang menghiraukannya.


Gita membeli makanan yang murah-murah saja, soalnya uangnya menipis dia lagi berhemat malah disuruh traktir temen-temennya yang dibilang masih bisa lah buat belanja sendiri. Gita membeli snack harga dua ribuan empat bungkus dan pop ice rasa coklat empat, dia kewalahan membawa nya tangannya penuh. Gita mengatur barang bawaannya agar lebih mudah. Bungkus plastik pop ice ditangan kiri sedangkan snack nya ditangan yang sebelah kanan, agak ribet sih tapi mau gimana lagi. Gita berjalan tertatih-tatih ke arah meja yang ada teman-temannya disana.


"Nih makanannya," Gita menghempas kan nya diatas meja membuat yang lainnya kaget. Cuma ada mereka ber empat diruangan karena yang lainnya sudah pulang, mereka tadinya mau ngerjain dirumah Fitri tapi dia menolak karena alasan bapaknya sedang sakit jadi tidak bisa nanti yang ada mereka malah ribut. Lalu dirumah Gita dia juga sama menolak dengan alasan rumahnya sempit, beralih ke Lena tapi dia juga menolak alasannya simple dia gak mau kamarnya jadi kotor, yang terakhir Sita dia sendiri yang menawarkan kerja kelompok dirumahnya namun yang lainnya dengan cepat menolak karena rumah Sita sangat jauh ditambah Bapak Sita yang galak jadi mereka gak berani. Tapi mereka bertiga tidak mengatakan tentang takut sama bapaknya nanti takut Sita marah.

__ADS_1


"Wanjir, ini doang makanannya, murah-murah bener," ujar Lena yang langsung menyedot pop ice nya.


"Gak ada syukurnya lo udah ditraktir ngelunjak, terima aja apa yang ada. Kalo mau beli yang mahal beli sendiri," ketus Gita.


"Iya iya ih galak amat neng," goda Lena.


****


"Hah kok habis? Padahal kemarin masih ada loh," Keisya menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal, bingung kok bahan-bahannya cepat sekali habis padahal baru beli kemarin.


"Kenapa non, apa yang habis?" tanya Bik Silvi yang sedang menyapu.


"Ini bahan-bahan di kulkas, tadinya Keisya mau masak buat Mama," Keisya cengengesan.


"Owalah, ya sudah nona tunggu disini ya biar Bibi belikan," Silvi hendak menarup sapunya ditembok.


"Gak apa-apa Bik, biar Keisya yang beli lagipula supermarket nya deket didepan sana, Bibi lanjut nyapu saja. Keisya juga mau beli sesuatu," Keisya pergi ke kamarnya mengambil uang lalu keluar rumah.


"Sudah lama sekali aku gak olahraga dan jalan-jalan lagi," Keisya berjalan sambil bersenandung ria menuju supermarket yang ada diseberang sana. Tenang gak nyampe menyeberangi lautan kok.


Keisya kemudian mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan.


"Beli yang banyak aja kali ya biar gak bolak-balik lagi kesini. Hmm jangan deh beli seperlunya saja," setelah selesai debat dengan otaknya dia pegi membayar semua belanjaan nya.

__ADS_1


Di perjalanan Keisya masih stay bersenandung seraya menggoyangkan belanjaan yang ada didalam kresek. Tiba-tiba ada mobil yang berhenti tepat disampingnya, Keisya awalnya bodo amat mungkin orang mau nanya alamat.


Pintu mobil terbuka, menyembulkan kepala sosok laki-laki tegap dengan topi dan masker hitam, tanpa pikir panjang langsung menarik lengan Keisya dan masuk ke dalam mobil, Keisya menjatuhkan belanjaan nya tadi karena sudah lemas habis dibius oleh sosok misterius itu. Dan anehnya lagi jalanan hari ini sangat sepi jadi tidak ada yang menyaksikan kejadian itu. Mobil melesat dengan cepat meninggalkan perumahan yang ada disana.


__ADS_2