Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
86


__ADS_3

Hari yang menyebalkan plus mengesalkan bagi Sita, bagaimana tidak? Pagi-pagi dia harus menyaksikan drama keuwuan antara abang dan kakak ipar nya ini alias mantan sahabatnya, bukan mantan sih tapi ya begitu sudah.


"Mimpi apa gue semalem sampai-sampai harus menyaksikan momen laknat dari kedua manusia biadap ini, mesra-mesraan gak tau tempat," kesal Sita kemudian berjalan pelan menuju meja makan dimana adegan yang dibencinya itu terjadi.


"Kalo mau mesra-mesraan ya mikir dulu lah ******, setidaknya tau tempat juga," Sita menggebrak meja membuat atensi kedua sejoli itu menoleh. Reyhan menatap Sita sinis sementara Fitri terkekeh geli sekaligus malu juga karena ketangkap basah sedang mesra-mesraan bersama Reyhan.


"Iri ya? Kasian gak punya pawang," ejek Reyhan sambil sesekali menjulurkan lidahnya, Sita menggeram kesal ingin ia timpuk muka abangnya pake pisau dapur.


"Makanya Sit, cari pacar sono atau gak langsung nikah aja," Fitri mencoba menengahi agar perdebatan adik dan kakak ini tidak berlanjut karena kalo lanjut bakal live streaming ntar, lama.


"Emang ada yang mau sama jelmaan tuyul kayak dia," Reyhan tertawa puas.


"Ehh jangan sembarang ngomong anda, gak tau aja gue banyak yang ngejar di kampus, mulai dari cowo kaya, konglomerat, anak presiden, anak menteri," ujar Sita bangga.


"Cowo kampus atau pak satpam disana yang ngejar lo," ucapan Reyhan langsung mengundang tawa Fitri karena tanpa sengaja tebakan sang suami tepat sasaran, Sita memang sering banget digodain sama pak satpam kampus mereka.


Sita memalingkan wajahnya, kenala bisa abang laknat nya ini tau kalo kejadian sebenarnya yang tadi dia bilang. 'Ahh bangsat, darimana nih bocah tengil tau pasti ada yang cepu. Pasti Fitri sih ini, yakin gue' Sita membatin pelan.


Ekspresi wajah Sita membuat tawa Reyhan menggelegar lagi memenuhi ruangan.


"Woy lo kok ngelamun, apa jangan-jangan bener ya apa yang gue bilang tadi," Reyhan menepuk lengan Sita yang terlihat diam.

__ADS_1


"A-apaan sih? Ya nggak lah, mana ada kayak gitu," elak Sita.


"Udah sih ngaku aja, gak ada gunannya disembunyiin. Orang Fitri sendiri yang cerita," ujar Reyhan. Sita melotot tajam pada Fitri sementara yang ditatap hanya menggedikkan bahu nya acuh dan lebih memilih menyantap sarapannya daripada meladeni perdebatan adik kakak itu.


Sita merenung, hatinya tergelitik jika mengingat kejadian 6 bulan yang lalu dimana dia sering di godain sampai di mintai nomor telpon oleh pak satpam, sampai akhirnya.....


Flashback dulu sebentar


6 bulan yang lalu, Sita and the genk termasuk Fitri terlambat masuk kampus yang harusnya masuk jam 7 mereka malah dateng jam 9, ngebakso dulu di warung Mang Budi padahal di kantin kampus ada kang bakso tapi gak taulah sama pemikiran mereka.


Kebetulan mereka gak tau kalo satpam di kampus diganti dikarenakan satpam yang dulu sering sakit sakitan jadi terpaksa diganti. Pengganti satpam nya lumayan lebih muda, tapi sayangnya dia duda.


Sita berjalan paling depan memimpin teman-temannya untuk panjat tembok, biasanya mereka sering manjat tembok juga karena satpam yang pertama itu bisa mereka bodohi, namun sekarang kayaknya gak mempan deh. Sita segera melempar tas nya diikuti oleh yang lain, belum sempat naik mereka sudah ketangkap basah oleh pak satpam.


Satpam duda tadi menperhatikan satu-satu wajah keempat mahasiswi yang terlambat ini mulai dari Fitri yang kebetulan posisinya paling depan dan Sita yang terakhir dekat tembok namun gadis itu masih setia menunduk.


"Hei kamu gadis kuncir, hadap sini!" panggil nya karena hanya Sita saja yang menguncir rambutnya yang lain mah membiarkan rambutnya tergerai ke belakang.


Dengan berat hati Sita menegakkan kepalanya malas. Satpam itu terdiam sejenak mungkin terpesona karena menatap wajah Sita, ia berdehem pelan kemudian merubah nada suaranya setenang mungkin tidak segalak tadi.


"Baiklah, kalian berempat ikut saya," Satpam itu membalikkan tubuhnya berusaha menetralkan detak jantungnya, aelahh pak satpam lebay amat, mungkin efek kelamaan ngeduda ya gini. Empat gadis remaja itu mengikuti langkahnya.

__ADS_1


"Saya akan kasih kalian masuk tanpa ketahuan, tapi ada syaratnya." Baru saja mereka senang, namun seketika senyuman itu pudar kala mendengar kalimat terakhir


"Tapi sebelum itu perkenalkan dulu nama saya Andi, satpam baru disini karena satpam yang lama dilarikan ke rumah sakit kemarin, jadi saya yang menggantikannya kebetulan juga beliau adalah om saya. Ekhem, kalian bisa panggil saya Pak Andi," ujarnya seramah mungkin. Sita merasa jengah karena nih satpam satu banyak bacot, dia capek berdiri. Ini kapan masuknya sih batin Sita.


"Oke kita kembali pada persyaratan yang saya bahas tadi," berdehem sebentar. "Bisakah gadis itu memberikan saya nomor telponnya? Saya tidak memaksa jika tidak mau, tapi yah harus terima resiko karena kalian akan saya adukan ke dosen kalian," ujarnya santai tanpa beban. Telunjuknya langsung mengarah ke arah Sita.


Sita tercengang, ini orang waras gak sih? Ketiga sahabatnya juga ikutan kaget dan semenit setelah itu mereka langsung tertawa cekikikan.


"Loh gak bisa gitu dong pak," protes Sita tidak terima. Masa mereka yang ikut melakukan dia saja yang harus kena.


"Mereka juga ikut ikutan telat loh Pak, mending minta nomor Lena aja ya soalnya body dia lebih bohay dari saya," ujar nya. Lena yang disebut namanya langsung saja menggeplak kepala Sita.


"Tapi saya maunya kamu gimana dong? Atau mau saya laporkan ke dosen kamu biar di hukum push up sampai sore?" ancamnya. Sita mendelik tidak suka, menatap tajam pada tiga pasang mata yang terlihat memohon, Sita masih tidak setuju. Tapi tiba-tiba ide jahil muncul, dia akan memberikan satpam gila ini nomor abang nya saja. Dengan seringai ngeri nya Sita berusaha membuat senyum itu semanis mungkin.


"Baik, saya akan berikan. Mana hp bapak biar saya tulis," Sita menyodorkan tangannya untuk mengambil ponsel milik Andi. Wajah sumringah tidak dapat disembunyikan olehnya, dengan senang hati dia segera menyerahkan ponselnya membiarkan Sita mengetikkan nomornya.


"Sudah. Sekarang kami boleh masuk kan? Awas aja bapak cepu sama dosen," ancam Sita lalu menarik tangan ketiga temannya untuk segera pergi.


"Anjir Sit, lo beneran kasih tuh satpam gila nomor telpon lo?" tanya Gita tak percaya.


"Ya gak lah setan, mana mau gue. Gue kasih nomor Bang Reyhan biar tuh anak yang ditelpon," jawab Sita setelah sampai dilorong menuju ruangan mereka. Ketiga nya langsung tertawa ngakak, hebat juga ide Sita.

__ADS_1


"Awas ntar lo dicariin ama pak satpam tadi," Lena bergidik ngeri.


"Sudahlah gue gak peduli, lama-lama gue jadi geli anjir kalo ngebayangin dia telpon gue tiap hari," Sita mengedikkan bahunya acuh.


__ADS_2