
Ratih hanya memandang bangunan itu.
"Makan dulu yuk," Ajak Alvin.
"Yakin mau makan di sini? mahal pasti. Emang kamu punya uang banyak? tanyanya dengan suara serak.
"Kamu kenapa? kok suaranya kaya lemes gitu? kamu sakit?, Alvin refleks mengulurkan tangannya dan menyentuh kening Ratih.
Mungkin karena kaget Ratih menjerit tertahan.
Alvin mengerutkan keningnya. "Enggak panas."
"Jangan sembarangan nyentuh aku, Alvin!" potong Ratih kesal sembari menepis tangan Alvin yang masih setia menempel di keningnya.
"Jadi makan gak?" tanya Ratih.
"Jadi dong, liat kamu lemes kek gini kamu nanti harus makan yang banyak. Tenang aku yang bayar." lagaknya
"Dasar sombong,uangnya ilang baru tau rasa!" cibir Ratih.
"Udah ikut aja, aku punya uang kok."
Suasana restoran itu sejuk,interiornya minimalis tetapi memberi kesan elegan. Ternyata didalamnya ada dua area,yaitu indoor di sebelah kiri dan area outdoor yang terletak di sebelah kanan. Dan mereka memilih area outdoor karena lebih sejuk dan nyaman.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Alvin setelah keduanya duduk.
"Apa aja deh." balas Ratih.
"Samaain aja paket seafood, mau?"
Ratih hanya mengangguk membalas pertanyaan Alvin itu. Toh makan gratis saja ia sudah bersyukur. Hehehe
__ADS_1
Mereka pun makan saat pesanan di sajikan, bagi Ratih porsi makan ini terlalu sedikit untuk disebut paket seafood. Tapi rasanya memang lezat dan sama sekali tidak terasa amis. Mereka tidak berbicara sepatah kata pun saat makanan habis.
"Pulang sekarang aja yuk" Rengek Ratih membuka bicara dengan menatap Alvin yang masih mengetik sesuatu di ponselnya.
"Iya, sebentar."
Alvin lalu melambaikan tangannya kepada seorang pelayan.
"Minta bill -nya."
Si pelayan tercengang ketika tau siapa yang berbicara, dengan sedikit merunduk dan menyerah kan secarik kertas sembari memberitahukan jumlah total.
"Delapan ratus lima puluh ribu, tuu tuaan."
Ratih tersedak minumannya. Ia terbelalak, apa ia tidak salah dengar mengenai harga yang harusnya dibayar untuk dua porsi makanan sesedikit itu?
buseet! uang jajan satu bulannya saja tidak sebanyak itu.Dengan enteng Alvin memberikan kartu kreditnya.
"Kenapa? mau belanja? mau aku temenin?"
"Aah, Eng-Nggak. Emang muka aku keliatan mata duitan banget ya?"
Alvin tertawa.
"Enggak. Jadi kamu mau belanja,enggak? Aku anter lo." Ratih menggeleng. "Enggak,ah"
"Ya udah, pulang aja yuk"
Keduanya bergegas bangkit dan keluar dari dalam restoran,meskipun dengan langkah lambat.
Setelah berada dalam mobil dan akan melajukan mobilnya Alvin kembali bertanya.
__ADS_1
"Kamu mau belanja,engggak? nanti biar aku temenin skalian aku bawain deh"
Ratih menatap Alvin heran, pasalnya Alvin sedari tadi hanya menanyakan perihal yang sama dan kenapa malah jadi dia yang maksa.
"Kan aku udah bilang, enggak usah Vin. Kok, kamu maksa sih?"
"Aku pikir kamu seneng belanja."
"Aku lebih suka ke toko buku,lebih menarik."
"Kalo gitu ayo."
"Males"
"Aku maksa loh"
"Enggak mau."
"Ratih"
" Maksa amat,"
"Aku cuma mau liat kamu seneng,kalo deket sama aku."
Ratih menoleh menatap Alvin. "maksudnya"
" Ya,aku cuma lagi berusaha aja, buat kamu selalu senang saat bersamaku. Supaya kamu jadi tambah yakin dengan perasaan aku ke kamu kaya gimana"
Hening....
Selama beberapa saat tidak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun. Hanya embusam nafas masing-masing yang terdengar.
__ADS_1