Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
77


__ADS_3

"Selamat bro, bini lo berisi lagi," dapat Vino lihat wajah sumringah kawan lamanya ini yang berprofesi sebagai dokter pribadi keluarganya, siapa lagi kalo bukan Angga si wajah bule. Vino menatap Angga datar, membuat Angga jadi bengong.


"Ekspresi lo kok biasa aja, gak bahagia gitu istri lo hamil lagi?" tanya Angga mengernyit heran.


"Kalo masalah itu gue sudah tau bego," jawab Vino sarkas. Tadi pagi mereka berdua mencoba buat cek pake testpack sesuai saran Zahra karena gak biasanya Keisya muntah terus gak kayak pas hamil pertama. Dan alhasil garis dua, kedua sejoli ini gak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


"Lah terus kalo sudah tau ngapain manggil gue kesini, gabut lo?" ketus Angga merasa kabar yang dia berikan tidak ada gunanya karena Vino sudah duluan tau, bingung juga kenapa makhluk yang tidak ada otak ini memanggilnya kesini, padahal dia sudah bela-belain buat kesini sampai batalin acara pertemuannya dengan dokter terkenal yang sudah direkomendasikan oleh ibunda tercintanya.


"Gue cuma mau lo periksa kedaannya doang soalnya dia muntah terus baju gue sampe kena noh dan gue juga mau tau usia kandungannya udah berapa bulan," sahut Vino menunjuk bajunya di keranjang yang kena muntahan Keisya.


"Berapa bulan mata lo, ini baru 3 minggu udah nanya bulan aja, waras lo?" Angga mendelik kesal, sia-sia saja perjuangannya untuk kesini sampai melewati hujan badai angin ribut halilintar buat sampai tepat waktu kesini.


"Ya itu artinya sudah satu bulan dong?" tanya Vino.


"Lo bego apa gimana? Emang ada tanggal di kalender sampai tanggal 21 doang? Lo belajar matematika dimana sih? 3×7 ya 21, berarti belum masuk sebulan," jelas Angga, rasa kesalnya kian bertambah.


"Sama aja goblok, udah masuk satu bulan," Vino tak mau kalah.


"Terserah lo, gue cape ladenin orang utan," Angga membereskan segala peralatan medis nya kemudian hendak pergi. Tak lupa ia juga meresepkan obat untuk Keisya minum jika rasa mualnya kembali menyerang.


"Eh lo gak kasih istri gue racun kan?" tanya Vino seraya meperhatikan obat yang diberikan oleh Angga.


Angga menghela nafas, kali ini dia benar-benar capek.


"Gue cuma kasih sianida doang kok sama racun tikus, lo juga harus minum biar hidup lo tenang di pangkuan Tuhan," jelas Angga memaksakan senyumnya semanis mungkin.

__ADS_1


"Kalo istri gue kenapa-napa lo orang pertama yang gue cari, jangan main-main sama gue."


Angga kini beralihbmenoleh pada Keisya yang dari tadi cuma ketawa ketiwi doang lihat perdebatan gak bermutu dari dua orang yang tak ada otak ini.


"Kei, kamu kok mau sih nikah sama ni anak?" tanya Angga menunjuk Vino yang masih memandang obat berbentuk pil ditangannya. Periksa dulu sebelum kasih istri, siapa tau Angga punya dendam pada keluarganya dan ingin balas dendam melalui Keisya, kurang lebih begitu isi otak Vino.


"Emang kenapa kak?" tanya Keisya.


"Otaknya miring, kelakuan kayak sinting. Mending kan nikah sama abang," Angga menaik turunkan alisnya menggoda.


"Dih, nenek gue aja ogah nikah sama lo. Muka pas pasan sok sok an godain istri gue, mau dikubur hadap mana lo," gerutu Vino menyikut lengan Angga.


"Haduh, Tante Zahra dulu ngidam apa sih sampai ngelahirin monyet kayak lo," Angga geleng-geleng kepala. Padahal dia sama gilw nya kayak Vino juga, walaupun beda dikit.


"Ohh pantes sih otaknya kayak gitu, mana keras lagi kayak batu," Angga mengangguk angguk paham kemudian menyambar segelas jus yang ada di nampan, maklum kehausan berangkat kesini juga butuh tenaga banyak.


"Tante, kalo anaknya ditukar tambah mau gak?" tanya Angga.


"Oh mau banget, emangnya mau tukar tambah dimana?" timpal Zahra.


"Di kebun binatang, Angga pengen punya hewan peliharaan monyet, siapa tau Vino berguna," jawab Angga seraya terus meneguk jus nya sampai ludes tak bersisa.


"Gini nih kalo babi dikasih otak," sahut Vino geram.


.....

__ADS_1


.....


Vino sangat ekstra menjaga Keisya, mulai dari melarang Keisya untuk mengangkat keranjang padahal keranjang nya kosong, melarang Keisya nyapu maupun ngepel, gak ngebiarin Keisya menyentuh dapur takutnya terjadi kebakaran jika tidak hati-hati, dan satu lagi yang penting, Vino melarang keras Keisya keluar rumah apalagi sendiri takut kejadian yang lama terulang kembali, bahkan sampai sekarang Vino belum mau memaafkan pelakunya, dia tidak akan ridho dunia dan akhirat, sumpahin pelakunya kena azab.


"Mama liat, Vino menjaga kamu banget deh. Ternyata anak Mama bisa romantis juga," kekeh Zahra berbisik pada Keisya yang tengah duduk disampingnya, sementara oknum yang dibicarakan sedang asik di dapur membuatkan Keisya susu khusus bumil.


"Keisya merasa bersyukur Mah punya kak Vino, walaupun ini hanya sebuah mimpi Keisya gak bakalan mau bangun," jawab Keisya berbinar, mendapat suami spek Vino bagai sebuah keberuntungan baginya.


"Aduh mantu Mama sweet banget, kita disini juga bersyukur kok ada Keisya disini," Zahra mengelus rambut panjang Keisya yang tergerai.


Tak lama Vino datang dengan satu gelas susu ditangannya. Dengan hati-hati meletakkan susu itu didepan Keisya, siap diminum.


"Hati-hati masih panas, tunggu hangat dulu," pesan Vino kemudian kembali memainkan ponselnya. Beginilah Vino jika berada di circle perempuan pasti akan menyibukkan diri dengan benda pipih itu, selain tidak ingin mengganggu dia juga bosen dengan pembahasan para betina didepannya ini, jika ikutan nyahut dia juga yang akan kena sindir jadi lebih baik diam saja ya kan, cari aman.


"Gak ke Kantor Vin?" tanya Gibran dari arah tangga, tangannya terlihat membawa sebuah laptop, sepertinya Papa awet muda ini bosen mengurung diri di ruang kerja makanya pindah kesini.


Vino menoleh sekilas lalu menggeleng.


"Gak ada yang penting di kantor, jadi masuk besok aja," jawabnya. Gibran hanya ber-oh ria lalu keluar menuju halaman belakang dimana disana ada kolam renang siapa tau pikirannya bisa fresh ketika melihat pemandangan indah.


"Papa sendiri kenapa gak ke Kantor Mah?" tanya Vino pada Zahra, tadinya mau nanya ke Gibran tapi udah duluan hilang.


"Gak tau tuh, mood nya lagi gak baik kali," jawab Zahra seraya mengedikkan bahunya acuh.


"Kak sudah habis," Keisya memamerkan gelas yang sudah kosong. Vino tersenyum simpul lalu meraihnya dari tangan Keisya kemudian membawa nya ke wastafel untul dicuci, padahal kan bisa dicuci sama pelayan dirumah, tapi mungkin mood Vino lagi bahagia dia akan rela melakukan apapun demi Keisya.

__ADS_1


__ADS_2