
"Selamat siang dunia tipu-tipu, aku pulang ke rumah," teriak Zahra diiringi dengan siulan, sengaja mancing biar ada yang keluar menyambutnya.
"Loh kok sepi, biasanya ada Keisya yang berlari memelukki dengan eratnya sampai tidak mau lepas," ujar Zahra kemudian menaruh bungkusan yang dia bawa diatas meja makan. Tadi dia habis membeli donat karena Keisya yang dari kemarin mengidam idamkan yang namanya donat, maka Zahra sempatin buat mampir sebentar di toko donat demi menyenangkan hati sang menantu agar dia tidak dicap sebagai mertua jahat.
"Bik, Keisya lagi tidur ya?" tanya Zahra saat melihat Bik Silvi yang tengah membawa piring bersih habis dicuci.
"Tadi katanya mau beli bahan-bahan dapur tapi sampai sekarang gak balik nyonya," jawab Silvi gemetar karena dia juga sudah daritadi menunggu Keisya diluar gerbang untuk membantunya membawa barang belanjaan tapi sampai siang batang hidungnya gak kelihatan. Perasaan Zahra sedikit kacau dan otak mengajaknya berfikiran negatif namun cepat-cepat dia menghalaunya karena takut kejadiannya benar-benar terjadi. Zahra mengeluarkan ponsel dari tas mahal yang dia tenteng kemana-mana untuk menghubungi Keisya namun nihil nomor Keisya tidak aktif, sudah mencoba sampai 5 kali tapi hasilnya tetap sama. Zahra menggigit bibir bawahnya apa yang akan dia katakan pada Vino sekarang.
"Keisya pergi ke supermarket didepan kan?" tanya Zahra sesudah bisa mengontrol rasa paniknya, Silvi mengangguk mengiyakan karena itulah yang dikatakan Keisya sebelum pergi. Zahra berlari keluar menyusuri jalan siapa tau menemukan Keisya, Zahra awalnya berfikir mungkin menantunya itu pingsan ditengah jalan karena kelelahan makanya tidak pulang.
"Ini pasti belanjaan nya Keisya, gak mungkin kan dia pingsan disini. Jalan ini sepi siapa coba yang melihat Keisya tergeletak disini," Zahra memungut kresek berisi belanjaan Keisya yang tergeletak begitu saja di atas aspal.
Zahra kembali ke rumah tanpa menemukan jejak dari Keisya. Dia harus cepat melaporkan hal ini pada Vino.
"Halo Mah, kenapa? Vino sedang ada meeting nanti Vino terlpon lagi," Vino hendak memutuskan sambungan karena memang dia sekarang sibuk sekali.
"Vino Mama sebenarnya benci mengatakan ini tapi terpaksa. Keisya hilang!!"
"Apa?"
Vino menggebrak meja dengan keras sehingga atensi yang lainnya mengarah pada Vino. Meeting dihentikan sejenak karena sang CEO sedang dalam keadaan panik.
__ADS_1
"Kok bisa Keisya hilang?" tanya Vino sembari berjalan menuju lobi sebelum itu dia menyuruh Aldi untuk menghandle semuanya dahulu.
"Mama juga tidak tau Vino, Bik Silvi bilang dia keluar beli bahan-bahan dapur tapi sudah 3 jam dia tidak balik-balik," Zahra terisak, Vino bisa mendengar dengan jelas bahwa Mamanya juga tak kalah paniknya. Pikiran Vino tidak bisa tenang mengingat Keisya sedang hamil 3 bulan.
Vino menginjak gas dan melaju dengan kecepatan penuh tidak peduli dengan umpatan pengendara lain yang protes karena tingkahnya yang kebut kebutan dijalanan, jujur sih kalo Vino ikutan lomba balap mobil dijamin dia pasti menang. Dipikiran Vino dia hanya ingin cepat sampai dirumah dan mengetahui semua kronologinya.
Setelah mobil terparkir asal di halaman rumah, Vino berlari kedala untuk menemui Zahra. Terlihat Mamanya sedang menangis sesenggukan disofa, dia sungguh tidak menyukai hal ini.
"Mama, sekarang Keisya dimana?" tanya Vino menghampiri Zahra disofa.
"Mana Mama tau, kamu ini kalo nanya gak ngotak dulu. Kalo Mama tau Keisya ada dimana sudah Mama cari gak perlu telpon kamu, gimana sih," Zahra merasa jengkel dengan pertanyaan lawak dari Vino. Maklum lah lagi panik jadi pikirannya lupa disetting. Zahra lalu membawa Vino ke tempat dimana dia menemukan belanjaan Keisya.
"Gak mungkin Keisya pingsan lalu dibawa ke rumah sakit, jalanan ini jarang banget ada orang atau kendaraan yang lewat," ucap Vino setelah mendengar penjelasan Zahra.
**
Cahaya remang-remang menyinari sebuah ruangan yang gelap, tak ada lampu atau pencahayaan lainnya hanya ada seberkas sinar matahari yang masuk melalui celah kecil itupun masih kurang. Keisya mengerjap beberapa kali berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke indra penglihatan nya. Keisya merasakan sakit diseluruh badannya, ternyata dia sedang diikat disebuah kursi tua yang sudah karatan, kakinya diikat serta tangannya membuat Keisya tidak dapat bergerak bebas.
"Aku dimana? Kenapa gelap sekali disini, siapapun tolong keluarkan aku dari sini," Keisya tampak takut sendirian diruangan gelap itu karena nyatanya Keisya benci kegelapan. Samar-samar terdengar suara langkah kaki dari arah luar, langkahnya pelan namun pasti menuju pintu yang tertutup rapat. Langkanya mulai mendekat membuat jantung Keisya berdegup kencang.
Ceklek!!
__ADS_1
Pintu terbuka menampilkan seseorang dengan outfit serba hitam dan jangan lupakan topi masker nya juga. Keisya menatapnya bingung, karena orang itu tidak terlalu jelas dilihat hanya bayangannya saja.
"Kau sudah bangun rupanya," ucapnya dengan suara berat. Kemudian dia melangkah kearah Keisya, lagi-lagi membuat gadis kecil ini takut.
"Si-siapa kamu?" tanya Keisya dengan suara bergetar.
"Kau tidak perlu tau, cukup diam saja karena jika ku beritau kau juga tidak akan mengenaliku," ujarnya seraya melepaskan topi dan maskernya dihadapan Keisya, untuk kedua kalinya Keisya tidak bisa melihatnya dengan jelas karena gelap.
"Sebelum mati ada pesan terakhir untuk dunia ini?" tanya orang itu dengan seringai diwajahnya.
"Apa maksudmu?"
"Aku benci mengulang perkataanku, kau jangan pura-pura tidak paham aku juga membencinya," lelaki itu merasa kesal. Keisya menelan ludahnya, dia berfikir apakah ajalnya sampai disini? 'Ya Allah aku belum bisa membuat semua keluarga bagga padaku, dan untuk Kak Vino aku belum bisa membuatnya senang atas kelahiran bayi kami, tolong aku tidak ingin mati sekarang.' Keisya menjerit dalam hati.
Tak berselang lama, pintu terbuka lagi menandakan ada orang yang ingin masuk. Keisya mengalihkan atensinya kearah pintu yang langsung berhadapan dengannya. Masih kurang jelas dengan penglihatan nya, tampak seorang wanita dengan baju ketat sehingga menampilkan lekuk tubuhnya menghampiri lelaki tadi yang duduk diatas ranjang yang berdebu.
"Wow amazing, gue tidak percaya lo bisa menangkapnya secepat itu," gadis itu menutup mulutnya takjub sementara lelaki itu tersenyum sumringah kemudian berdiri menghadap wanita tersebut.
"Sudah kubilang bukan, jangan meremehkanku dulu," jawabnya seraya mencium leher wanita itu dengan mesra sehingga menimbulkan erangan kecil. Keisya merasa jadi nyamuk disana.
**
__ADS_1
Pasti tau lah ya yang culik Keisya siapa hehe, sayang sekali author tidak bisa buat cerita yang menegangkanš.
Jangan lupa komen dan like ya!!!