
Keisya menuruni anak tangga satu persatu dengan langkah gontai, tidak tau kenapa dia tidak bersemangat untuk dinner malam ini rasanya pengen rebahan saja sampai besok. Tapi tidak boleh, harus menghargai semua orang ini juga kan termasuk moment langka kapan lagi bisa makan malam sama keluarga besar.
Keisya melihat sekeliling, ada banyak sekali lampu kerlap-kerlip dipasang ditembok, didekat tangga, bahkan meja makannya pun dihiasi dengan lampu tersebut, Keisya menautkan alisnya bingung. Cuma acara makan tapi kenapa harus seromantis ini padahal ini juga acara keluarga bukan dinner bareng pasangan. Keisya mengedikkan bahu acuh, terserah bagaimana konsepnya yang dia pikirkan sekarang adalah tidur, tidur dan tidur. Berharap acara ini tidak terlalu lama sehingga waktunya untuk rebahan sedikit banyak.
"Mah kok dipasang lampu warna-warni begini, memangnya ada acara lain?" Keisya mendekati Zahra yang tengah mengarahkan para pelayan memasang sisa-sisa lampu yang belum dipasang.
"Gak ada sih, Mama iseng aja masang beginian biar suasananya lebih romantis sedikit," kekeh Zahra.
"Tapi kan gak perlu sebanyak ini Mah, tuh di tembok dipasang tiga dibelakang lampu ada didekat sofa juga ada," Keisya menunjuk tempat terpasangnua semua lampu.
"Sudah sudah tidak perlu dihiraukan, ini bagian yang paling Mama suka yaitu memasang lampu warna-warni disetiap acara penting," Zahra mengusap bahu Keisya. Karena tak mendapat jawaban yang memuaskan, Keisya memutuskan untuk tidak bertanya lagi dan lebih memilih untuk duduk disofa ruang tengah sementara menunggu orang tuanya datang, menonton TV adalah ide yang bagus untuk mereleksasi pikiran. Tapi tidak ada tontonan yang cocok untuknya sehingga dia hanya memainkan tombol remote mencari channel yang bagus. Tiba-tiba dari belakang ada yang menutup matanya, Keisya tau siapa orangnya sehingga dia hanya bereaksi biasa saja tidak terkejut sama sekali. Tangan besar itu kemudian turun lehernya membuat Keisya menoleh. Sudah diduga bahwa itu Vino yang sedang usil. Masih dengan tatapan kesalnya dia langsung membuang muka saat melihat Vino yang tersenyum manis kearahnya.
"Masih ngambek?" tanya Vino seraya ikut duduk disampingnya. Vino langsung menyenderkan kepalanya pada bahu kecil Keisya.
"Menurut kakak?" Keisya berucap jengkel dan menggoyangkan bahunya bermaksud menyuruh Vino tidak menyender disana.
__ADS_1
"Ya udah sih maaf, kan gak sengaja," Vino nyengir tanpa dosa membuat Keisya ingin menggeplak wajahnya.
"Mau es krim?" Vino mengeluarkan jurus andalannya sebab dia tau kalau Keisya sangat suka es krim, mungkin menyogoknya agar berhenti ngambek bakal berhasil.
"Lagi gak mood makan yang dingin-dingin," berucap tanpa memandang Vino, tatapannya fokus pada layar TV yang menampilkan iklan. Yahh gagal deh, Vino kira bakal luluh ternyata sama saja malah lebih dingin lagi sikapnya. Vino mendesah pelan lalu beranjak berdiri dari sofa meninggalkan Keisya yang tampak tidak mempedulikan kepergiannya. Setelah Vino pergi Keisya menggigit bibir bawahnya.
"Terlalu berlebihan nggak sih memperlakukan kak Vino seperti itu? Tapi dia juga yang salah siapa suruh mulai duluan kan jadi gini, kok aku jadi gak tegaan begini ya," Keisya memijit pelipisnya pusing, lalu refleks menghadap ke belakang apakah Vino masih ada disini.
"Sepertinya dia pergi ke kamar," Keisya lanjut menonton TV menunggu acara dinner nya dimulai. Menatap layar TV terus menerus membuat Keisya jadi mengantuk, tidak tau kenapa akhir-akhir ini dia jadi lebih sering mengantuk padahal dia tidak melakukan apa-apa. Matanya mulai terasa berat, tatapnnya buram alhasil dia pun tertidur dengan posisi duduk disofa.
"Ibu sama Bapak sudah sampai?" tanya Keisya sambil mengucek matanya agar tatapannya tidak buram.
"Sebentar lagi, pak Budi masih menjemputnya," jawab Zahra seraya mengusap rambut panjang Keisya.
"Ayo kita ke meja makan sambil menunggu keluarga kamu datang," Zahra menuntun Keisya berdiri. Vino tak bergeming sama sekali, dia masih sibuk dengan ponselnya. Keisya jadi merasa bersalah karena mengira ini semua adalah salahnya. Tapi karena gengsi Keisya memilih mengikuti Zahra ke meja makan, tidak mau menyala duluan.
__ADS_1
Tak berselang lama kedua orang tua Keisya sampai bersama Fitri sekalian, karena takut sendirian dirumah jadi ikut saja lagian dia juga termasuk keluarga kan, kapan lagi coba diundang makan sama orang kaya, pasti makanannya enak-enak, ya tentu saja makanan yang tersaji adalah makanan yang belum mereka rasakan sama sekali. Mata Keisya berbinar melihat kedua orang tuanya sampai, refleks berlari kearah mereka dan memeluknya erat. Oh iya kabar kehamilan Keisya belum diketahui oleh Erna sama Herman, Zahra membuat rencana agar memberi tau kabar bahagia ini saat selesai makan malam, Keisya sih setuju setuju saja.
"Silahkan duduk!" Ajak Zahra pada tamu yang baru datang dan langsung disambut dengan senyuman oleh mereka. Selesai berbincang sedikit, mereka mulai acara makan malamnya. Sangat menyenangkan tapi bagi Keisya semua terasa hampa karena sikap Vino saat ini seperti tidak peduli pada Keisya, awalnya sih Keisya biasa aja tapi lama-lama kok rasanha aneh ya gak mendapat senyuman manja dari sang suami.
Fitri sudah duluan mencaplok ayam panggang yang ada dipiring besar itu, dengan rakusnya dia mengambil lagi steak sapi di piring yang satunya. Melihat itu Erna jadi malu dengan kelakukannya, Erna menyenggol lengan Fitri untuk menjaga sikap didepan tuan rumah.
"Apaan sih Buk, kapan lagi coba makan enak dengan menu makanan yang mewah gini, Ibu sama Bapak kan gak mampu buat beliin Fitri semua makanan ini," bisik Fitri jengkel takut didengar oleh semua orang.
"Tapi kelakuan kamu tidak baik Fitri, makan secukupnya saja," Erna ikut berbisik.
"Ahh ibu banyak omong," Fitri tidak menghiraukan dan kembali melanjutkan aktivitas makannya. Sesekali pandangan Fitri tertuju pada Vino yang sibuk makan dengan santai.
'Eh tapi tunggu dulu kok raut wajah mereka berdua agak lain ya kayak habis berantem gitu, apa mungkin karena tuan Vino memang sedingin itu tapi tidak mungkin pasti ada lah senyumnya sedikit apalagi bareng Keisya. Itu juga si Keisya kayak gelisah begitu, udah fiks ini mah mereka lagi berantem. Haha mampus kamu Keisya, berantem terus sampai cerai. Gue rela kok jadi penggantinya' monolog Fitri dalam hati tampak bahagia sekali melihat rumah tangga orang hancur, kasar banget gak sih kata hancur maksudnya tuh rumah tangga orang yang bermasalah.
*****
__ADS_1
Segini dulu up nya, ayo dong vote terus karyaku walaupun gak jelas hehe. Jangan lupa komen ya readers tercintađź’—