Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
93


__ADS_3

Di ruang tengah Vino sedang bermain dengan baby Zayyan, bayi kecilnya ia tidurkan di atas sofa sedangkan dia duduk lesehan di bawah. Ada Mama Zahra juga di sana, dia tengah fokus menjahit sebuah kain. Sementara Keisya sedang pergi ke kamar mandi katanya kebelet pipis, jadi Zayyan di titip deh sama suaminya.


"Kalo Papa lari kamu kejar ya, kalo bisa ketangkep Zayyan Papa kasih mobil sport warna biru, janji," ujar Vino bicara pada anak nya yang masih umur dua minggu. Gila apa ya, masih dua minggu disuruh main kejar-kejaran, memang salah Keisya nitipin nya sama Vino.


"Nih Papa lari sekarang tapi janji Zayyan harus kejar ya." Ini ibaratnya Vino lagi ngomong sendiri, soalnya baby Zayyan gak ada respon apa-apa cuma merem doang dari tadi. Kayak masa bodo sama omongan sang Papa.


"Kamu dulu sekolah di mana sih?" Zahra membuka suara dan melemparkan pertanyaan pada Vino. Jangan salah, walaupun Zahra fokus mejahit tapi masih bisa denger kok dialog Vino antara anaknya, lebih tepatnya sih monolog kan baby Zayyan gak nyahut heeee...


"Kok Mama bentak Vino? Perasaan Vino diem aja loh daritadi," protes nya mendelik tajam ke arah Zahra, anak durhaka memang.


"Lagian kamu, Zayyan masih umur dua minggu di suruh main kejar-kejaran, waras?"


"Ya itu kan sebagai candaan aja Mah, biar Vino bisa lebih akrab sama Zayyan."


"Walaupun candaan juga Zayyan gak bakalan ketawa, orang umur segitu masih tau merem melek doang," Zahra menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan pola pikir Vino, maklum lah baru punya anak tapi ya gak gitu juga.


Vino membuang nafas kasar, ternyata omongannya tadi gak ada gunanya ya, padahal tadi udah capek cari topik untuk bisa mengakrabkan diri sama baby Zayyan.


"Loh kak Vino kenapa cemberut gitu?" Keisya datang setelah habis buang air kecil mendapati Vino dengan muka ditekuk nya, khas orang ngambek. Vino melirik sekilas kemudian balik lagi dengan aktivitas nya tak menghiraukan pertanyaan sang istri. Merasa tidak dipedulikan, Keisya hanya mengedikkan bahu nya acuh, lagipula dia kan gak salah apa-apa. Lama-lama juga bakalan baik lagi jadi gak perlu risau, Keisya beralih menghampiri baby Zayyan yang tidur dengan nyenyak di atas sofa.


"Mah, katanya Bapak sama Ibu bakalan ke sini nanti sore sekalian nginep," ujar Keisya sembari memangku tubuh Zayyan.


"Loh kok bilangnya sekarang sih, aduh Mama kan belum masak apa-apa, mau disuguhin apa nanti," Zahra kalang kabut kala mendengar besannya mau ke rumah.

__ADS_1


"Udah Mah gak perlu repot-repot, nanti masak seadanya saja," kekeh Keisya menenangkan.


"Gak bisa, gak bisa. Vino ayo antar Mama ke toko kue sekarang!" Zahra beranjak berdiri.


"Ngapain Mah?" tanya Vino memelas.


"Mau bagi-bagi sembako, ya beli kue lah. Peryanyaan kamu gak rasional banget. Ayo cepet jangan banyak omong, habis dari toko kue kita ke supermarket," Zahra bergegas mengambil tas nya di dalam kamar.


.....


Sita mondar mandir gak jelas di dalam kamar, masih resah dengan kejadian semalam. Sekarang sudah pukul 3 siang itu tandanya dua jam lagi Alfan datang bersama kedua orang tuanya. Tapi Sita berusaha berfikiran positif bahwa Alfan gak akan pernah datang secara kan dia masih kuliah dan sebentar lagi mau wisuda, pasti orang tuanya akan melarang keras soalnya nanggung lagi dua minggu.


"Ehh si tuyul masih asik ngelamun, belum siap-siap lo? Calon suami lo bentar lagi dateng, lo itu dandannya lama nanti tamunya nunggu lo jadi bosen, cepet sana mandi!" Reyhan menyembulkan kepalanya dari balik pintu dan mendapati Sita yang pikirannya entah kemana. Sita memandang Reyhan jengah, masalah ini terjadi karena ulahnya yang blak-blakan.


"Ya lo mikir lah setan, ini kan ulah lo bikin gue dag dig dug serr begini, isi otak lo apa sih? Kenapa coba tiba-tiba jodohin gue seenaknya, mana tuh cowok gue gak cinta lagi sama dia," Sita menggerutu, sejauh ini dia memang tidak ada rasa sama Alfan.


"Lo inget aja tuh kata-kata gue kemaren malem, cinta akan tumbuh dengan sendirinya jika lo terbiasa, buktikan jika omongan gue salah," jawab Reyhan enteng.


"Gue mau tau alasan lo aja. Buat apa lo jodohin gue ama tuh cecunguk satu? Lo juga belum kenal silsilah keluarga nya, dia anaknya baik apa nggak, kelakuannya bener apa nggak, main langsung ngomong aja."


"Lo tenang aja kali, tanpa lo sadar juga gue udah tau dia siapa. Sesering apapun kita gelud atau adu jotos, gue gak gila buat asal milihin lo calon suami, walaupun di luar gue terlihat gak terlalu peduli sama kehidupan lo tapi percayalah lo itu adik yang paling gue banggakan, jadi lo jangan over thinking sama tuh cowo, gue udah tau latar belakang dia. Alfan itu sepupu temen gue, rumahnya sebelahan jadi gue korek informasi dari dia dan sejauh ini yang gue tau Alfan tuh anak yang baik, pergaulannya juga baik, walau agak miring sedikit, ya beda tipis lah sama gue," jelas Reyhan panjang lebar. Lagi-lagi Sita menghela nafas pasrah.


"Tapi gue belum siap buat menikah, lo tau kan hari wisuda gue dua minggu lagi, nanggung kalo berhenti di tengah jalan," alasan terakhir Sita semoga berhasil.

__ADS_1


"Tenang, acara pernikahannya setelah kalian berdua wisuda, untuk sementara kalian tunangan dulu."


Sita berdecak sebal, masih saja bisa di bantah oleh Reyhan, akhirnya dia hanya bisa pasrah dengan takdir.


.....


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, seperti yang dijanjikan Alfan ternyata benar-benar datang membawa orang tuanya gak lupa sama keluarga besar juga, ada kakek, nenek, buyut, leluhur, sesepuh, dan nenek moyang pun dibawa sama si Alfan.


Dengan sopan keluarga Sita menyambutnya dan mempersilahkan mereka semua masuk, Mama Gea segera memerintahkan Fitri untuk memanggil Sita di kamarnya.


"Sita lo udah siap? Tuh keluarga Alfan udah dateng, mana bawa keluarga besar lagi," Fitri terlihat memasuki kamar adik iparnya. Sita melihat dari pantulan kaca bahwa Fitri tengah menghampirinya.


"Gue gugup anjir, mau hilang aja dari muka bumi ini," Sita menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"Yang penting yakin Sit, takdir Allah gak pernah salah. Mungkin ini cara nya Allah mengirimkan jodoh ke kamu, aku yakin kok Alfan itu orang nya baik dan ramah," Fitri mengelus pelan pundak Sita.


"Jangan nangis, nanti maskara kamu luntur tuh." Dengan cepat Sita menghapus cairan bening di pelupuk mata nya sebelum terjun bebas.


"Udah siap kan?"


Sita menarik nafas nya perlahan kemudian mengangguk mantap. Fitri segera menggandeng lengan Sita untuk turun ke lantai dasar. Oke proses lamaran akan segera dilaksanakan.


.....

__ADS_1


Plisss, author kehabisan ide😭. Kalo gak sesuai ekspektasi maaf ya


__ADS_2