
Semua dipersiapkan dengan baik oleh Vino karena ini merupakan dinner pertama mereka diluar rumah, usahakan seromantis mungkin tidak mau membuat partner kencannya kecewa jika usahanya tidak bagus. Vino menyewa sebuah restoran mewah untuk satu malam ini saja demi dinner dengan sang istri. Pelanggan lain tampak kecewa kala mendengar penuturan sang pelayan restoran jika tempat ini telah disewa oleh pengusaha sukses untuk berkencan dengan istrinya dalam waktu semalam, karena ini salah satu tempat makan yang banyak diminati oleh semua orang makanya banyak yang kecewa. Para pengunjung terpkasa cari restoran lain.
Keisya membiarkan rambut panjangnya tergerai ke belakang sehingga penampilannya sangat cocok dengan gaun yang dipakainya.
"Sudah siap?" tanya Vino dari belakang sambil mengancingi lengan kemejanya. Keisya menoleh dan mengangguk mantap.
"Kita berangkat sekarang," Vino membiarkan tangannya digandeng oleh tangan mungil Keisya, berjalan beriringan menuruni anak tangga untuk sampai ke bagasi buat ambil mobil.
"Uhhh couple goals satu ini bikin kita iri iya kan Pah?" Zahra begitu antusias melihat kedua pasangan ini yang juga tampak berseri dari tadi.
"Nggak juga," balas Gibran acuh dan langsung lanjut makan tidak peduli dengan tatapan kesal sang istri.
"Dih bilang aja cemburu karena gak bisa kayak gini," Vino menimpali dengan ketus.
"Sama sekali tidak, udah gak jaman dinner dinner kayak gitu mending tidur," jawabnya, membuat mood Vino sedikit rusak.
"Sudahlah Vino jangan hiraukan Papa mu itu maklum otaknya lagi Mama cuci makanya kayak gitu," Zahra mengelus rambut Keisya memberi pemahaman pada kedua anaknya ini agar tidak terlalu mempedulikan Gibran.
"Kalo begitu kita berdua berangkat sekarang."
Setelah berpamitan kepada Zahra, Gibran dikecualikan karena tadi sudah julid, Vino mengendarai mobil menuju lokasi.
Dari luar tampak gelap, hampir saja Keisya mengira jika lampu restoran itu mati soalnya dari luar gak ada penerangan sama sekali, gelap total.
"Ayo masuk!"
Mata Keisya terbelalak ketika melihat banyak lilin yang sudah diatur sedemikian rupa, menghiasi jalanan yang mereka tapaki sekarang menerangi setiap langkah. Jangan lupakan kelopak bunga mawar juga ditaburi agar lebih nampak romantis. Keisya tak berhenti mengangumi kerja keras suaminya untuk membuatnya terkesan. Entah berapa banyak lilin yang digunakannya, Keisya pun tidak sampai bisa menghitungnya karena terlalu banyak, mungkin ratusan. Sepertinya pabrik lilin akan menutup usahanya karena sudah kaya lilinnya diborong oleh Vino.
__ADS_1
"Ini sangat indah, apa kakak yang melakukannya?" tanya Keisya.
"Bukan, tapi aku yang merancangnya lalu aku menyewa orang untuk melaksanakan apa yang aku suruh dan jadilah seperti ini," kekeh Vino.
"Huh dasar," Keisya mencebik kesal.
"Hei apa kau lupa, aku tidak terlalu suka hal yang berbau romantis, bahkan aku juga tidak tau cara melakukannya, saat merancang ini juga aku membutuhkan bantuan dari Aldi soalnya dia kan ahli dalam hak beginian," jelas Vino. Ahh lelaki itu, lelaki yang pernah disangka berselingkuh dengannya, Keisya jadi teringat kembali kejadian beberapa hari lalu. Tapi untunh saja sudah membaik seperti semula, Vino tidak lagi berprasangka buruk.
"Ya ya terserah kakak. Lantas ini kita mau kemana?"
"Tunggu, sebentar lagi sampai."
Mereka berdua sampai disebuah tempat terbuka bukan ruangan seperti tadi tapi lebih ke outdoor, namun masih diarea restoran. Vino berjalan duluan ke arah meja dengan dua kursi berhadapan, diatas meja juga ada lilin tapi bukan yang panjang melainkan berbentuk love warna merah dengan dua sumbu disisi atas yang tengah menyala.
Keisya masih menatap sekeliling, sangat indah pikirnya. Bulan bersinar terang seakan ikut mengekspresikan kebahagian dua insan yang sedang dimabuk cinta. Bintang-bintang pun ikut tersenyum.
"Malam ini kamu mau makan apa?" tanya Vino seraya melipat tangannya diatas meja, tatapannya terfokus pada wajah cantik Keisya yang diterpa sinar bulan.
"Apa saja kak, yang jelas bisa kenyangin perut. Soalnya aku belum makan tadi siang sampai menunda makan juga," kekeh Keisya mengingat dirinya belum makan siang karena sibuk mijitin mama Mertua sampai tertidur di sofa, dia juga yang ikut lelah memilih untuk ikutan tidur. Bibir Vino menyungingkan senyuman manisnya, dengan sekali tepukam tangan para pelayan berbaris mengantar makanan ke meja mereka, dari makanan berat sampai dessert sudah tersedia tinggal disantap saja. Mata Keisya membola, makanan didepannya ini terlalu banyak. Bisa buat makan sebulan ini mah.
"Aldi merekomendasikan steak beef ini buat menu dinner kita, dan ku harap kamu menyukainya."
Keisya mengangguk yakin, tangannya kemudian bergerak memotong daging tersebut kemudian memakannya. Wah ini sungguh menakjubkan, jika boleh jujur ini adalah makanan yang sangat enak, oke fiks Keisya bakalan masukin makanan ini dalam list makanan favorit nya.
"Enak?" Satu pertanyaan dari Vino membuatnya mengangguk ribut. Keisya kembali memakannya dengan lahap, entah karena enak atau karena dia lapar.
"Makannya pelan-pelan dong, lihat tuh sampai belepotan," tangan Vino mengusap saos beef yang ada disudut bibir Keisya membuatnya berhenti mengunyah sebentar.
__ADS_1
"Kakak gak makan?" tanya Keisya melihat piring Vino masih utuh dengan makanan yang sama dengan yang ada dipiring Keisya, belum tersentuh sedikitpun.
"Lihat kamu makan saja sudah membuatku merasa kenyang," jawab Vino sambil terus memperhatikan Keisya yang makan dengan lahap. Keisya kan jadi salting kalo diginiin terus.
"Kakak makan gih, masa aku sendiri yang makan. Mubazir tuh daging nya kalo gak dimakan, gak boleh dibuang," tutur Keisya menjelaskan, kode biar Vino berhenti menatapnya.
"Iya iya aku makan."
Mereka lanjut menikmati makanan ditemani sinar rembulan diatas mereka yang selalu setia memancarkan cahaya nya.
....
....
"Kalian sudah pulang? Bagaimana dinner nya? Enak?" tanya Zahra kemudian menutup majalah yang tadi sempat menemani malamnya, namun perhatiannya teralihkan kala pintu utama terbuka menampilkan wajah bahagia dari couple goals itu.
"Lumayan," jawab Vino singkat kemudian mengajak Keisya untuk duduk disebelah nya diatas sofa.
"Hmm kok lumayan? Harusnya kamu jawab sangat menyenangkan, gimana sih," gerutu Zahra lalu pindah duduk mendekati Vino dan Keisya.
"Iya Mah, lumayan menyenangkan maksud Vino, tapi disisi lain juga sangat menyenangkan," koreksi Vino. Keisya tersenyum canggung lalu menyandarkan kepalanya pada bahu lebar Vino memejamkan matanya karena ngantuk.
"Kalo ngantuk tidur ke kamar gih. Vino bawa Keisya ke kamar sana, pasti dia lelah."
"Iya."
***
__ADS_1
Halo semuanya, maaf ya jarang up cerita soalnya tugas numpuk banget, bahkan pejamin mata aja gak tenang gara-gara kepikiran huhuu sangat menyiksa....🤧