Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
88


__ADS_3

Orang berlalu lalang di depan tidak lepas dari pandangan Keisya, kadang juga dia merasa kesal karena tatapan narsis dari sebagian perempuan muda bahkan yang tua menatap kagum sekaligus terpesona ke arah Vino yang duduk santai di samping nya seolah bodo amat dengan tatapan orang-orang.


"Kenapa sih? Kenapa mukanya ditekuk begitu?" tanya Vino saat netra tajamnya tak sengaja memandang Keisya dengan wajah kesal nya. Keisya hanya diam membalas dengan tatapan sinis pada salah satu perempuan dengan pakaian seksi nya dan sengaja berjalan lenggak lenggok di depan mereka seakan ingin mencari perhatian si ganteng.


"Caper banget sih mbak sama suami orang," teriak Keisya kala perempuan itu sudah bolak balik tiga kali jalan depan mereka berdua namun tidak dipandang sama sekali oleh Vino. Gadis itu langsung menatap tajam Keisya sekaligus juga malu, dikiranya tadi Keisya adik Vino soalnya postur tubuhnya yang kecil dan mungil, tapi oh tapi ternyata itu istrinya. Sayang sekali gak jadi caper.


Vino tersenyum simpul melihat sang istri yang terbakar api cemburu. Padahal sebenarnya dia tidak perlu khawatir jika saja Vino ingin direbut oleh wanita manapun, jika hati nya sudah memilih Keisya tidak akan bisa berpaling lagi.


"Kenapa ketawa? Kakak suka ya sama wanita itu?" sungut Keisya, geram karena Vino senyam senyum terus daritadi.


"Loh aku gak boleh senyum ya?"


"Iya gak boleh nanti para perempuan caper itu bakalan semakin tertarik sama kakak, apalagi senyum kakak manis gitu siapa yang gak akan naksir coba," ketus nya. Vino hanya bisa menggelengkan kepalanya, baru sadar jika Keisya yang tengah dilanda cemburu itu gak main-main kesalnya.


Mood Keisya perlahan rusak, niat awalnya yang ingin menikmati keindahan sunset bersama suami tercinta kini sudah sirna. Di bayangannya akan ada drama romantis diantara mereka saat di pantai. Tau begini mending liat dari balkon rumah saja, batinnya.


Vino sadar jika mood Keisya sedang tidak baik ditandai dengan raut wajahnya yang kusut seperti baju yang tidak pernah disetrika satu tahun, jadi untuk membalikkan suasana jadi seperti semula, Vino akan mencoba membuat sang istri tersenyum lagi.


"Mau ku kasih tau sesuatu?" Keisya spontan menghadap Vino kala mendengar kata 'sesuatu', karena memang Keisya kepo-an orangnya. Walaupun dia harus melawan rasa gengsinya tapi rasa kepo itu lebih penting sekarang, masalah gengsi belakangan.


"Apa?" jawaban nya sedikit jutek padahal dalam hati bergejolak ingin mendengar kalimat selanjutnya. Vino memasang senyum simpul, merasa gemas dengan tingkah Keisya.


"Jadi ngomong gak nih?" Keisya merasa jengkel, sudah bertanya tapi malah di diemin, kan setan.

__ADS_1


"Gak terlalu penting sih, tapi ini akan membuat kamu tenang dan tidak cemburu lagi."


Keisya mengernyit bingung, masih setia menunggu kalimat-kalimat lain yang akan keluar dari belah bibir tipis milik Vino. Kedua netra mereka kembali bertemu saling menyelami pikiran masing-masing terutama Keisya yang berusaha menebak apa yang akan dikatakan oleh suaminya ini.


Vino berdehem, kemudian melanjutkan kalimat nya. "Mungkin aku bukan orang yang romantis dan juga orang yang tidak pandai merangkai kata-kata, karena memang aku pribadi yang seperti itu," Vino menggantung ucapannya kemudian beralih menatap Keisya lagi. "Dalam sebuah hubungan ada yang namanya kepercayaan, saling percaya adalah suatu hal yang penting di setiap hubungan terlebih lagi dalam hal rumah tangga. Aku tidak menuntutmu untuk mempercayaiku sepenuhnya karena bisa saja aku berubah, takdir tidak ada yang tau tapi itu semua juga tergantung seberapa kuat rasa cinta dalam diriku terhadapmu."


Keisya mengerutkan dahinya, kata-kata Vino yang panjang lebar sama sekali tidak dia pahami, pemikiran nya buntu.


"Aku tidak mengerti, yang kakak katakan malah membuatku tambah ragu dengan kakak," tutur Keisya jujur sejujur jujurnya. Vino terkekeh geli, tangan kekarnya bergerak mengusak pelan rambut Keisya.


"Intinya kamu cukup percaya sama aku, bagaimanapun tingkah perempuan tadi aku sama sekali tidak tertarik bahkan untuk memandang nya saja mataku jadi gatal. Bagiku kamu lebih menarik, sayang." Vino mendekatkan wajahnya sedikit demi sedikit, centi demi centi dan kening mereka bersatu. Keisya langsung salah tingkah, itu adalah kalimat yang sederhana tapi efeknya luar biasa sampai-sampai membuat jantungnya ingin melompat keluar. Wajahnya sudah memerah seperti tomat, Vino kalo masalah beginian gak pernah kasih aba-aba dulu, bikin anak orang jantungan saja.


"Gak cemburu lagi? Atau mau ku cium dulu biar cemburunya musnah," Vino menjauhkan wajahnya berusaha menatap lekat wajah Keisya yang sedikit memerah diterpa sinar mentari yang mulai berwarna orange.


.....


"Gak kuliah lo?"


Terdengar helaan nafas pasrah dari yang ditanya.


"Gak tau kenapa lama-lama gue capek kuliah, bawaannya pengen wisuda aja rasanya."


"Makanya nikah biar gak perlu kuliah."

__ADS_1


"Nanggung, lagi satu semester."


"Terserah lo. Terus lo kuliah apa nggak sekarang?"


"Tau ahh males, gue libur ngampus dulu soalnya badan gue remuk redam," Sita melenggang pergi, tapi sebelum itu dia sempat sempatnya nampol wajah Abang nya lalu pergi.


"Anak setan lo, sumpah untuk yang kesekian kalinya gue nyesel punya adik kayak lo," teriak Reyhan pada manusia tak berakhlak yang saat ini tengah mengejeknya dari arah tangga.


Karena kesal tanpa pikir panjang lagi Reyhan segera berdiri untuk mengejat Sita, mengetahui situasi nya dalam bahaya si pelaku alias Sita segera berlari menghindari kejaran singa yang sedang mengamuk. Acara kejar-kejaran mereka terhenti kala mendengar suara teriakan cempreng dari arah kamar Rehyan dan juga Fitri kebetulan mereka main kejar-kejaran melewati kamar itu.


Reyhan yang tadinya ingin balas dendam berbalik dan berlari ke arah kamarnya, Sita pun demikian karena dia juga penasaran apa yang sedang terjadi dengan sahabatnya lebih tepatnya kakak iparnya. Reyhan membuka pintu dengan tidak santainya, kini netra kalem nya mendapati Fitri berdiri dengan berurai air mata di depan pintu toilet. Tentu saja itu membuat nya sangat khawatir karena tiba-tiba saja istri manisnya itu menangis, memeluknya dengan erat.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rehyan panik, Sita ikutan panik kan jadinya. Fitri membalas dekapan Reyhan tak kalah erat.


"Rey, ak-aku..." Fitri bicara di sela-sela tangisannya. Reyhan melepaskan pelukannya dan menatap lekat netra milik Fitri.


"Iya sayang, kamu kenapa? Kamu terluka? Dimana?" Reyhan memeriksa seluruh tubuh Fitri namun tidak ditemukannya seidkitpun yang terluka. Fitri menggeleng cepat kemudian menyodorkan sebuah benda kecil yang Reyhan tau itu sebagai alat test kehamilan, sering disebut testpack. Tangan Reyhan bergetar kala menerima benda itu dan ragu-ragu melihatnya.


"Aku hamil," kata-kata itu lolos begitu saja dari bibir Fitri. Reyhan menatap Fitri dan testpack itu secara bergantian tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dengan spontan Reyhan kembali merengkuh tubuh istrinya dan memberikan dekapan yang hangat sebagai bentuk rasa bahagia dan terima kasihnya pada sang istri. Sita yang tadi deg deg an kini mulai mengusap dadanya lega dan ikut bahagia juga.


......


Kesel banget kemarin gak bisa up episode baru huhuuuu, maaf ya semuanya....

__ADS_1


__ADS_2