Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
60


__ADS_3

Rintik hujan memecah lamunan dua insan yang tengah menyelami perasaan masing-masing. Duduk bersebelahan disebuah minimarket memandang ke arah jalanan yang mulai basah akibat guyuran hujan.


"Cepat bicara, aku gak punya banyak waktu buat ngeladenin lelaki brengsek kayak kamu," ketusnya seraya menatap jijik ke arah pria berkulit tan di hadapannya ini. Pria itu tersenyum simpul, iya dia sadar selama ini banyak salah pada perempuan di depannya ini tapi untuk sekarang dia benar-benar serius ingin memperbaiki hubungan mereka dan memulai nya lagi dari nol.


"Oh come on Baby. Kau tidak merindukanku?" tatapannya seakan menyiratkan kelembutan yang tak pernah Vilia bayangkan, yang ia tau bahwa lelaki didepannya ini adalah lelaki brengsek. Tapi tidak untuk saat ini, Vilia tidak akan tertipu lagi oleh rayuan manis darinya, sudah cukup masa lalu yang menjelaskan semuanya.


"Jangan mimpi Juan, aku tidak pernah sekalipun merindukanmu," bentak Vilia. Yap, benar sekali lelaki berkulit tan itu adalah Juan mantan suami Vilia yang dulu meninggalkannya setelah mendapatkan apa yang dia inginkan dari gadis cantik bernama Vilia.


"Ayolah Vil jangan bersikap ketus begitu, aku tidak menyukainya."


"Kau pikir aku peduli? Sudahlah tidak ada gunanya juga aku lama-lama disini, natap wajahmu saja membuatku muak," Vilia hendak berdiri namun segera dihentikan oleh Juan.


"Dimana anakku? Selama aku menguntitmu aku tidak pernah melihat dirimu membawa anak kecil kemana-mana, lantas kau titip ke siapa anak kita?" tanya Juan penuh penekanan. Jadi Vilia sudah hamil anak Juan ya sebelum Juan ninggalin Vilia.


Jantung Vilia berdegup kencang. Anak? Lelaki ini bilang anak? Apa Vilia tidak salah dengar?


"Jawab Vilia dimana anak kita? Aku ingin menemuinya, aku begitu merindukannya. Aku tau aku bukan ayah yang baik meninggalkan kalian berdua begitu saja, aku ayah yang buruk karena melepaskan semua tanggung jawabku. Sekarang aku ingin menebus semua kesalahanku, jadi tolong katakan dia dimana. Apakah dia lelaki atau perempuan? Aku yakin sekarang dia sudah besar," mata Juan berbinar, rasa rindu dan sayang pada anaknya memang tidak main-main dia benar benar serius tidak ada unsur keterpaksaan dalam ucapannya dan tidak direkayasa sama sekali.


"Kau terlambat menyadari kesalahanmu Juan karena anak itu sudah aku gugurkan, jadi kau tidak perlu mencarinya lagi," Vilia tersenyum sinis mengingat hari itu dimana dia pergi sendiri ke dokter untuk mengaborsi kandungannya, dan tentu saja hal itu mendapat penolakan tegas dari sang dokter tapi Vilia terus memaksa sampai bersujud sujud hingga akhirnya dokter itu terpaksa melakukannya, untung saja kandungannya belum terlalu besar sekitar tiga bulan.

__ADS_1


Plak!!


Satu tamparan mendarat di pipi mulus Vilia.


"Kau monster. Kenapa kamu melakukan itu hah?" nada suara Juan meninggi tanda ia benar-benar marah. Vilia kembali menampilkan senyum sinisnya.


"Kau yang monster brengsek. Apa kau tidak menyadari semua perlakuanmu padaku? Apa itu disebut kasih sayang?" Vilia balik membentak seraya memegangi pipinya yang mulai memerah akibat tamparan keras yang diterimanya.


"Walaupun begitu aku tidak pernah mempunyai niatan untuk menghilangkan nyawa seseorang, kaulah monster yang sesungguhnya."


Untung saja keadaan minimarket sepi karena hujan yang deras hanya ada kasir dan pegawai minimarket yang lain dan mereka tidak begitu tertarik dengan drama gratis yang disuguhkan karena sudah biasa mereka menyaksikan perempuan dan lelaki bertengkar didepan sana.


***


"Vina nginep aja disini, sudah malem. Gak baik bagi anak gadis pulang larut malam begini," bujuk Zahra ramah, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tadinya setelah maghrib Vina akan pulang karena sore tadi hujan deras, tapi Zahra dan yang lainnya pulang alhasil Vina kejebak lagi deh di rumah besar itu, mana daritadi nyokap nya nelpon terus, tapi gak enak juga kalo langsung nyelonong pulang tanpa memberi salah dulu sama mertua sahabatnya.


"Ekhem aduh gimana ya Tante, saya merasa gak enak," jawab Vina sungkan.


"Sudah Vin gak apa-apa, anggap aja rumah sendiri," sahut Keisya dijawab anggukan oleh Zahra. Vina menggaruk tengkuknya yang tak gatal, gini nih kalo rasa canggungnya menyelimuti jadi salah tingkah.

__ADS_1


"Ayo makan malam dulu habis itu istirahat. Vina tenang saja, kamar sudah Tante siapin kok ada di sebelah sana," tunjuk Zahra pada ruangan kamar dibawah tangga. Dengan sungkan Vina hanya ngangguk, lagian pulang sekarang juga belum tentu ada taksi yang berlalu lalang. Kalaupun ada tetap saja Vina was-was takutnya terjadi kejadian yang tidak diinginkan. Ya sudah lah menginap semalam kan tidak apa-apa. Tak lupa Vina mengabari Mamanya bahwa ia akan menginap semalam dirumah Zahra dan akan pulang secepatnya besok.


Vina ikut gabung makan malam bersama, rasanya masih canggung walaupun ada Keisya tapi tetap saja aneh, dia yang notaben nya bukan siapa-siapa dikeluarga ini malah ikut makan dan dikasih menginap.


"Ayo Vina dimakan! Atau mau Tante suapin?" goda Zahra untuk mengisi suasana biar gak canggung-canggung amat. Vina hanya tertawa kecil.


"Ini Vin dimakan ikan goreng buatan Bik Asti enak banget loh," Keisya menyendok satu ikan goreng yang ada dipiring besar itu kemudian memindahkannya ke piring milik Vina.


"Buat aku mana?" protes Vino karena Keisya hanya fokus pada Vina daritadi. Keisya terkekeh lalu kemudian beralih menyendokkan untuk Vino.


"Ini buat Kak Vino tersayang, makan yang banyak ya suaminya Keisya," Keisya mengeluarkam senyuman andalannya, senyuman termanis yang pernah ada. Jangan ditanya, sekarang Vino ingin sekarat saja rasanya karena baper, mana dipuji depan semua orang kan jadi malu Vino tuh. Vino membuang muka karena pipinya saat ini bersemu merah.


"Dih dasar bucin," ujar Gibran mengejek putranya.


"Ngaca Pah, ngaca! Punya kaca gak dikamar?" protes Vino karena dikomen Gibran yang tidak sadar diri padahal dia melebihi bucinnya Vino.


"Sudah-sudah gak baik berdebat depan makanan. Ayo semuanya kita makan, tapi sebelum itu kita berdoa dulu. Semoga apa yang kita makan hari ini mendapat keberkahan dari Allah SWT Aamiinn.."


Yang lain ikut mengamini.

__ADS_1


'Sungguh keluarga yang bahagia. Keisya beruntung berada dilingkaran keluarga asik seperti ini...'


__ADS_2