
Hari yang ditunggu tunggu Fitri akhirnya tiba, keluarga mereka sepakat untuk menggelar acaranya di kediaman rumah orang tua Reyhan saja mumpung luas, gak perlu nyewa hotel. Tamu mulai berdatangan, mereka tidak mengundang banyak orang hanya teman dekat, keluarga serta tetangga terdekat saja.
"Kei aku ngerasa deg deg an banget," ujar Fitri seraya meremat kuat jemari Keisya disampingnya.
"Rileks kak, aku juga dulu kayak kakak," tutur Keisya menenangkan.
Seseorang terlihat nyelonong masuk ke ruangan tempat rias Fitri, dia adalah Sita.
"Kakak ipar sudah siap gak nih," goda Sita sembari mencolek lengan Fitri.
"Sita gak usah main-main ya gue lagi gugup nih," ia mendelik kesal melihat tingkah Sita.
"Ayok turun, penghulu sudah sampai tuh dibawah," ajak Sita meraih lengan Fitri untuk dituntun ke lantai bawah.
"Ibu sama Bapak gue udah dateng?" tanya Fitri.
"Udah, beliau ada dibawah."
Mendengar jawaban tersebut, Fitri bernafas lega. Setidaknya kedua orang tua angkatnya datang menyaksikan acara ijab kabul nya. Awalnya sih mereka gak bakalan dateng karena kondisi Herman yang semakin memburuk, tapi alhamdulillah setelah mendapat perawatan ekstra Herman bisa kembali pulih lagi namun belum sepenuhnya sehat tapi setidaknya ia bisa berjalan walaupun masih dituntun oleh Erna.
Suara riuh tepuk tangan para tamu undangan menyertai acara ini hingga membuatnya semakin meriah. Mempelai wanita turun dari tangga didampingi oleh Sita dan Erna di sebelah kanan dan kiri, sementara Keisya sudah turun duluan tadi sebelum Fitri dipanggil oleh sang MC acara, kini bumil itu sedang bergelayut manja pada lengan kekar milik suaminya, merengek minta diambilkan minum karena tempat makanan dan minumannya sangat jauh dari lokasi mereka, gak sampe 1 kilometer kok tenang aja, namanya juga orang males ya gitu.
__ADS_1
"Mau minum yang berwarna merah itu," tunjuk Keisya pada sebuah gelas berisi minuman jus warna merah.
"Tunggu disini," Vino lalu pergi meninggalkan Keisya sebentar untuk mengambil apa yang diinginkan oleh bumil manjanya ini.
"Hehe terima kasih sayang." Vino spechless dengan kata terakhir Keisya, demi apapun sekarang dia ingin lompat dari gedung lantai 10 saking salting nya dipanggil sayang, sudut bibirnya tertarik ke atas mengulum senyum tipis terkesan cool tapi percayalah hati nya dugun-dugun tuh. Pengen ngereog aja depan para tamu tapi sadar dia masih punya harga diri dan urat malunya belum putus.
Vino berdehem untuk menetralisirkan hati dan pikirannya, dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, gak mau natap Keisya.
Acara ijab kabul telah selesai diucapkan oleh sang mempelai pria, riuh suara tamu mengatakan 'sah' secara serempak, mereka semua tak kalah bahagianya atas pernikahan Fitri dan Reyhan. Erna yang duduk di dekat Fitri langsung menangis haru begitu juga dengan Herman selaku wali nya. Tidak terasa putri yang selama ini mereka rawat dengan sepenuh hati walaupun bukan anak kandung kini telah dewasa dan menemukan pria yang terbaik menurit versi nya sendiri.
Sekarang adalah acara resepsi, acaranya tak kalah meriah walaupun tamunya tidak terlalu banyak.
"Dih ngomong nya difilter dulu napa, main asal ceplas ceplos aja mana depan orang nya lagi," Lena menoyor pelan kepala Gita karena kesal.
"Ya udah sih gak usah pake tenaga juga, kan gue ngomong fakta kalo gue pernah naksir sama bang Reyhan yang ganteng ini, Sita juga tau kok ya kan Sit?" Gita beralih natap Sita yang cengegesan disamping Fitri, seluruh pasang mata dari sahabatnya langsung mengarah ke Sita begitu juga dengan Reyhan yang tadinya hanya menyimak pertengkaran kecil dengan dia sebagai objeknya.
"Apaan kok gue dibawa-bawa," Sita yang merasa terpanggil namanya langsung protes.
"Iya kan lo yang pernah dukung gue terus ngasih semangat ke gue buat deketin abang lo," jelas Gita.
"Ehh kunti bersayap, gue gak pernah ngomong kayak gitu ya, lo jangan fitnah. Gue mana tau lo naksir bang Reyhan, ngadi-ngadi lo," ketus Sita.
__ADS_1
"Yeeeuu dasar lo, bilang aja mau modus sama laki orang. Inget Git, sekarang bang Reyhan udah nikah sama Fitri, lo sebaiknya buang jauh-jauh deh perasaan hampa lo itu karena ya gak ada gunanya lagi mending cari cowok lain," saran Lena merasa iba dengan sahabatnya ini.
"Tapi gue cinta berat, gimana dong," Gita nyengir tanpa dosa.
"Fitri hati-hati ya sama ni orang, kayaknya dia bakal ada niatan buat rebut suami lo deh, soalnya tercium bau-bau pelakor," tutur Lena penuh intimidasi. Fitri terkekeh pelan. Bagaimanapun perasaan Gita pada Reyhan yang kini sudah jadi suaminya Fitri tidak terlalu memusingkannya karena kan gak mungkin Gita punya niatan sekejam itu buat merenggut kebahagiaan nya apalagi mereka sudah bersahabat 3 tahun lamanya, jadi Fitri yakin-yakin aja.
"Eh gue cuma confes doang ya biar hati gue tenang walaupun sedikit sakit mengetahui fakta bahwa sang pujaan hati telah menambatkan hatinya pada wanita lain yang merupakan sahabat gue sendiri, lo jangan nuduh yang nggak-nggak ya. Ehh tapi by the way kisah gue keren juga, bisa nih dibuat novel. Judulnya, seorang perempuan cantik jelita patah hati karena cinta pertamanya diambil oleh sahabatnya," kekeh Gita memikirkan apa yang ada diotaknya.
"Kata 'diambil' kayaknya terdengar kejam deh, ganti judul dong. Judulnya seorang perempuan yang cintanya bertepuk sebelah tangan," suara tawa Lena menggelegar sehingga membuatnya menjadi pusat perhatian semua orang.
"Sana-sana lo turun, dasar benalu," Sita mendorong tubuh Gita untuk turun dari panggung yang menjadi tempat resepsi. Fitri dan Reyhan saling pandang menyelami pikiran masing-masing.
"Ekhem, pandang pandangannya nanti saja, itu tuh antrian tamu masih panjang yang ingin naik kasih selamat buat kalian berdua," tegus Sita yang merasa jadi nyamuk disini.
"Apa sih lo adek laknat ganggu moment orang saja, mending lo susul tuh temen lo yang gak ada akhlak itu," jawab Reyhan refleks.
"Dasar abang gak tau diri, ngajak gelud lo hah? Yok bertumbuk kita depan semua orang, udah dibantu buat PDKT sama sahabat gue malah gak ada rasa terima kasih ya lo jadi orang, susah-susah gue narik perhatian Fitri buat lo malah kayak gini balasan lo," Sita yang sudah siap ngambil ancang-ancang buat ninju muka tampan Reyhan.
Fitri hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dua orang ini
"Hmm mulai lagi."
__ADS_1