
Zahra asik sekali berbincang dengan Keisya seraya makan cake Red Velvet yang tadi ia beli di toko kue untuk Keisya karena dia suka makanan itu. Vino serasa jadi nyamuk disana, disapa nggak diajak ngobrol juga nggak. Dah lah gak berguna memang Vino ada disini kalo Keisya sudah sama Zahra semua terabaikan termasuk dirinya.
"Apa liat-liat? Mau juga?" tanya Zahra pada Vino yang dijawab anggukan refleks oleh Vino.
"Beli dong," Zahra kemudian menyendokkan suapan terakhir ke dalam mulutnya sambil sesekali mengejek Vino. Vino berdecak kesal lalu keluar dari ruangan.
"Lah ngambek, gak jantan ihh suami kamu," kekeh Zahra, Keisya ikut tertawa melihat drama antara suami dan Mama mertuanya sangat diluar nalar.
"Papa kok diluar? Kenapa gak masuk?" Vino mendapati Gibran yang tengah asik dengan handphone nya di kursi tunggu langsung saja Vino menghampirinya.
"Mama kamu gak izinin Papa masuk, katanya mengganggu," kekeh Gibran mengingat omelan Zahra tadi saat ia memaksa ingin masuk. Entah apa alasan Ibu satu anak itu sehingga melarang suaminya sendiri masuk ke ruangan menantunya, bukankah itu tidak masuk akal? Oh ayolah Mama Zahra kasian sekali Papa Gibran disuruh nunggu diluar.
Vino mengernyit heran kemudian duduk disamping Papa nya.
"Kamu sendiri ngapain keluar? Bukannya diam didalam temani istri malah keluar," Gibran memasukkan handphone nya ke dalam saku celana kemudian fokus pada putranya yang tampan ini.
"Yah Papa tau lah kalo Keisya sudah sama Mama semuanya terlupakan, seakan dunia milik mereka berdua bahkan Vino saja tidak dihiraukan oleh mereka, Papa ketemu Mama dimana sih," protes Vino seakan nasibnya sama dengan Gibran. Gibran tertawa kecil mendengar keluhan Vino.
"Mama kamu itu unik.."
"Bukan unik tapi aneh," sanggah Vino memotong pembicaraan Gibran. Gibran lagi-lagi tertawa.
"Mama kamu seperti matahari dan bulan yang selalu menyinari hidup Papa," ujar Gibran puitis.
"Huh mulai sudah kebucinan akut nya," Vino mendelik malas karena kalo Gibran sudah membuat pribahasa seperti itu masa kebucinan akan dimulai.
__ADS_1
***
Keisya merengek ingin pulang dari rumah sakit karena dia selalu merasa bosan disana hanya bisa rebahan saja. Jadi hari ini dokter memutuskan untuk mengizinkan Keisya pulang dengan syarat harus rutin konsultasi lagi ke dokter karena Keisya belum sembuh seutuhnya.
"Wahhh akhirnya Keisya bisa pulang," Keisya berjingkrak jingkrak di halamn depan rumah, rindu sekali pada bangunan besar nan megah ini.
"Ehh Kei jangan banyak gerak nanti kambuh lagi."
Keisya hanya nyengir kuda menjawab larangan Vino. Kabar ini juga disampaikan langsung pada kedua orang tua Keisya agar mereka gak balik ke rumah sakit buat jenguk Keisya ehh malah yang dijenguk sudah pulang kan jadi gak estetik.
"Kei sini duduk di kursi roda," perintah Vino.
"Kak ngapain sih bawa kursi roda kan Keisya gak lumpuh, Keisya juga bisa jalan nih liat," ujar Keisya seraya loncat loncat dan lari-lari kecil. Ngapain juga suaminya ini bawa kursi roda padahal sudah jelas-jelas di depan matanya Keisya bisa berjalan dan berlarian kesana kemari jadi gak perlu pakai kursi roda.
"Lah maksa. Gak mau, Keisya mau nonton TV bye," Keisya berlari ke dalam rumah meninggalkan Vino yang masih membeku ditempat. Vino mendorong kursi roda kosong tersebut ke dalam, padahal niatnya baik beli nih kursi roda. Vino hanya ingin memanjakan istrinya itu aja kok gak lebih.
***
Akhirnya Vina sampai juga di kota asalnya setelah beberapa bulan menempuh pendidikan di luar kota dan finally sekarang dia bisa liburan untuk mempersiapkan semester selanjutnya.
"Mau kemana dulu ya, Pulang atau jenguk Keisya," Vina berfikir sejenak dan memutuskan untuk bertemu sahabat tersayang nya terlebih dahulu, tak lupa Vina mengabark kedua orang tuanya bahwa dia sudah sampai di kota Jakarta dan akan mengunjungi Keisya terlebih dulu karena mumpung agak deket jadi gak perlu bolak-balik lagi.
"Ehh tapi ini kan sudah sore pasti Keisya istirahat, takut ganggu," ujar Vina seraya melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Ahh bodo amat, gue udah kangen banget sama tuh bocah satu, pengen uyel-uyel pipinya lagi pasti tambah chubby soalnya kan dia lagi hamil," kekeh Vina kemudian menghentikan sebuah taksi yanh tengah melintas di depannya. Kalo masalah alamat rumah Vina sudah tau ya, siapa sih yang nggak tau alamat rumah megah milik keluarga Vino. Rumah yang selama ini jadi idaman semua orang dan belum ada yang mampu menandingi rumah sebesar itu.
__ADS_1
Vina turun dari taksi karena dirasa sudah sampai ke tujuan yang dimaksud. Selesai membayar. Vina mendekati gerbang tinggi itu dan melihat ada seorang satpam yang stay berdiri dengan tegak disana.
"Cari siapa neng?" tanya satpam ramat.
"Saya temen nya Keisya, apakah dia ada dirumah? Boleh saya bertemu dengannya?"
"Nona Keisya ada, soalnya tadi siang baru pulang dari rumah sakit."
"Hah Keisya memangnya kenapa ya pak kalo boleh tau."
"Wah kalo itu saya kurang tau neng. Neng tanya sendiri saja," satpam itu kemudian membuka gerbang dan mengizinkan Vina masuk. Vina menarik nafas dalam-dalam, masuk ke rumah besar ini serasa masuk ke rumah angker hawanya begitu mencekam padahal tidak ada apa-apa yang perlu ditakuti disini. Vina membawa langkah kakinya menunu pintu utama, tertutup rapat sekali dan tidak ada suara dari dalam, awalnya Vina ingin balik aja karena takut mengganggu, tapi karena ucapan satpam tadi yang katanya Keisya baru pulang dari rumah sakit, rasa canggung nya berubah jadi penasaran.
"It's okay Vina.Tinggal tekan bel nya dan semua akan baik-baik saja." Tangannya mulai bergerak menekan bel rumah, terdengar sahutan dari dalam dan Vina yakin itu bukan suara Keisya.
"Maaf nona siapa ya?" tanya kepala pelayan seraya menatap penampilan Vina dari atas sampai bawah seperti mengintrogasi.
"Saya temennya Keisya," jawab Vina ramah. Raut kepala pelayan ini terlihat tidak bersahabat, agak susah memang menerma wajah baru buat masuk ke dalam rumah ini.
"Baik tunggu sebentar, nona Keisya akan saya panggilkan. Anda bisa tunggu di sofa," kepala pelayan itu mengisyaratkan kepada Vina untuk menuju sofa diruang tamu sementara dia akan memanggil Keisya. Sudah Vina duga, hawa mencekam ini datang dari kepala pelayan tadi, pantas saja Vina takut.
"Judes banget pelayan tadi, gue kayak lagi disidang dosen killer," gumam Vina seraya mengusap tengkuknya merinding.
"Astaga Vina!!!! Kamu kapan datang?" Keisya dari arah tangga melihat Vina duduk disofa menghadap timur langsung berteriak dan menuruni anak tangga dengan berlari, sudah lama tidak bertemu dengan sahabatnya ini. Vina menoleh, dia tak kalah bahagianya dengan Keisya.
Mereka berpelukan, melepas rasa rindu masing-masing....
__ADS_1