
"Ehh Budiman, ngapain lo ikutin gue pulang? Mau macem-macem kan lo? Sebaiknya lo urungkan niat lo deh abang gue kalo ngamok ngalahin raja hutan, udah sana jangan jadi penguntit mending lo cari kerjaan lain daripada nguntit gue kayak gini," ujar Sita sadar ada sebuah mobil yang mengikutinya dari belakang, tanpa pikir panjang dia langsung mendatangi nya karena dia kenal siapa yang punya mobil, mana ikutan masuk pekarangan rumah lagi kan Sita sebel, pak satpam yang jaga di sana lagi cuti terpaksa yang buka tutup gerbang Sita sendiri.
"Ya ampun Sit, gue cuma mau anterin lo pulang doang soalnya ini udah jam 11 malam nanti kalo lo kenapa-napa di jalan kan gak lucu besok gue nikahnya sama siapa? Lo asal nuduh anjir niat baik gue lo salah gunakan," protes Alfan salah satu temen nongkrong Sita di rumah Lena sekaligus teman kuliah nya tapi nama orang dia rubah jadi Budiman, estetik memang manusia satu ini.
"Halah banyak bacot lo, udah sana pulang! Kalo Mama sama Abang gue tau bisa ditebas kepala gue lo juga pasti kena, dikira gue macem-macem di luar padahal kan nggak," ujar Sita bergidik ngeri jika membayangkan itu terjadi.
"Ya kalo mereka tau kita dinikahin lah, itu aja ribet," lemparan sepatu mendarat indah di wajah Alfan, dan pelakunya adalah Sita.
"Ngadi-ngadi lo sumpah."
Di tengah perdebatan mereka yang menurut author kurang waras, pintu utama terbuka lebar menampakkan Reyhan yang sudah siap dengan tongkat baseball yang diayun ayunkan ke belakang. Sita menelan ludahnya sementara Alfan memasang senyuman bego di depan Reyhan yang tentu saja tidak direspon sama sekali.
"Eh Bang Reyhan, belum tidur bang?" tanya Sita cengegesan.
"Ih Bing Riyhin bilim tidir bing," ejek Reyhan dengan wajah menyebalkan. Sita memutar bola matanya malas, bunuh Kakak sendiri dosa gak sih?
"Ngapain kalian di luar malam-malam begini? Berdua lagi," Reyhan sudah menyiapkan tampang sangar nya sambil mengintimidasi dua insan ini.
"Lo juga Sita, kenapa lo pulang tengah malam? Lo bilang tadi jam 7 udah bosen hidup lo?" Reyhan menatap sang adik dengan tajam meminta penjelasan, tongkat baseball setia dia ayun ayunkan di depan wajah Sita.
"Pilih, mau digantung, dibacok, atau dipukul pake ini?" Kali ini giliran Alfan yang menelan ludahnya was-was ternyata kakak si Sita galak juga ngalah-ngalahin dosen killer di Kampus batin nya, ingin rasanya dia lari sejauh jauhnya mobilnya ditinggalin aja bisa diambil besok kalo belum dijual sama Reyhan haha. Tapi eh tapi dia sama saja dengan lelaki pengecut kan. Lagian ini semua juga salah dia siapa suruh ngikutin Sita sampai depan rumah, tapi kembali lagi dengan niat baik Alfan yang tidak ingin Sita kenapa-napa di jalan.
"Bang Maaf ini salah gue karena ngikutin Sita tanpa sepengetahuan dia," Alfan menengahi sebelum kalimat selanjutnya keluar dari belah bibir Reyhan yang sudah mulai emosi. Walaupun sering berantem tapi rasa sayang terhadap adik itu lebih besar. Bisa dibilang juga Reyhan itu over protektif. Sama adiknya aja kayak gitu apalagi sama istrinya ya kan.
__ADS_1
"Anak siapa lo? Nama bapak lo dan nama ibu lo siapa? Alamat lo dimana? Nama adek dan kakak lo siapa? Sekolah dimana, kelas berapa? Kalo tidur mata lo merem atau melek?"
Sita geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan aneh Reyhan. Sementara Alfan hanya membuang nafas pasrah, sesulit inikah mendapatkan restu dari calon kakak ipar?
"Gak jawab gue pukul lo sekarang juga," Reyhan sudah siap mengangkat tongkat baseball nya.
"Eh-eh sabar bang, iya-iya bakal gue jawab. Gue Alfan anak dari Emak sama Bapak gue, namanya Pak Somad sama Buk Wina..."
"Nama lengkap, gak usah nama panggilan," Reyhan memotong.
"Somad al Mustofa dan Wina Aryanti, alamat gue di jalan 'ganteng doang jemput cewek depan selokan', gue anak tunggal gak punya adek maupun kakak, gue udah kuliah semester dua mau wisuda dua minggu lagi bareng Sita, terus kalo tidur kadang merem kadang melek tergantung mood sih hehe," Alfan menjawab sedetail mungkin dalam satu tarikan nafas. Sita di sebelah sana sudah tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban Alfan.
"Diem lo kunti." Sita langsung bisu mendadak gara-gara teriakan Reyhan.
"Ya udah besok lo dateng ke rumah bawa orang tua lo buat menentukan tanggak nikah nya," enteng banget ya kalo ngomong. Sita melotot tajam tidak terima dengan keputusan sepihak Reyhan. Kalo si Alfan mah malah sujud syukur karena berhasil dapet restu, tinggal restu dari calon mertua aja belum.
"Woyy ******, gak bisa gitu dong. Gak-gak, gak ada. Gue gak cinta sama dia bang masa asal lo kawinin sih, ngaco banget kalo ngomong," protes nya.
"Salah kalian berdua siapa suruh berduaan depan rumah malam-malam gini? Gue sebagai hamba Allah yang taat dan alim harus menegakkan keadilan hukum islam," jelas Reyhan, jika sudah keluar sifat alim nya gak ada yang bisa lawan.
"Kita gak ngapa-ngapain anjir, gue tadi marahin dia karena nguntit gue. Wahh bahaya lo fitnah orang," elak Sita masih gak terima.
"Ssstttt, mau kayak gimanapun alasan lo gue gak peduli, yang penting besok sore nih bocah tengil harus dateng bawa orang tua nya mumpung Papa besok pulang ke rumah dan kita bicarakan besok. Kalo masalah cinta gak cinta lo tenang aja karena cinta akan muncul dengan sendirinya jika lo terbiasa, liat aja besok kayak gue sama kakak ipar lo," Reyhan menaik turunkan alisnya bangga.
__ADS_1
"Najis. Ngapain juga gue comblangin lo sama Fitri dulu, jadi tambah gila kan lo," Sita mendelik tidak suka.
"Udah Sita, terima aja keputusan abang lo. Karena semua yang tidak disengaja akan berakhir bahagia," sahut Alfan penuh kemenangan.
"Diem lo kudanil! Gue gak minta lo bicara ya," Sita menunjuk-nunjuk di depan waha Alfan.
"Nah tuh kan akur lo berdua, jadi makin yakin gue jodohin kalian."
"Dah lah mati aja gue daripada hidup di tengah orang stres."
"Jangan dong sayang, terus yang jadi ibu dari anak-anakku siapa?"
"Noh nikah sama kambing biar hidup lo makmur."
"Sudah-sudah jangan debat lagi, lo mending pulang sekarang nanti kepergok tetangga bisa kacau urusannya. Inget besok sore lo dateng ke sini bawa orang tua lo gue gak mau tau."
"Siap kakak ipar, gue dengan senang hati akan mengajak nya."
Mobil Alfan mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah Sita memecah kegelapan malam. Tinggallah Sita dan Reyhan disana. Reyhan yang sadar mendapat tatapan mematikan dari sang adik hanya cengar-cengir gak jelas.
.....
Maaf gak jelas hehe....
__ADS_1