Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
10. Kelemahan Rania


__ADS_3

Delta menahan amarah nya, jika saja Rania tidak sedang mengandung darah daging nya, mungkin gadis itu sudah lenyap di hadapan nya. Pasal nya tak seorang pun yang akan berani membuat seorang Delta marah.


"Andaikan aku tau sejak awal ini perusahan milik kamu, aku nggak bakalan sudi bekerja di sini. Dan mengenai pernikahan, sekalipun kau menembak kepala ku, aku tak akan sudi bersanding dengan pria seiko seperti kamu!" teriak Rania lagi dengan marah.


"Apa kau mau kabur? silahkan, tapi ingat saat itu juga kau akan menerima jasad Hendro di depan apartemen kamu." ancam Delta berhasil membuat tubuh Rania membeku.


Meski tubuh nya bergetar dan lidah nya terasa keluh, namun Rania tak tinggal diam, gadis itu pun membalas mengancam Delta.


"Ha..ha.. Kau mengancam ku Tuan. Ok, mari kita liat siapa yang lebih dulu mati, Ayah atau janin yang ada di kandungan ku." Rania mengancam Delta. Delta di buat bungkam, pasal nya jika sesuatu terjadi kepada janin yang ada di kandungan Rania, ia pasti akan di musuhi Dania dan Ashraf. Dan itu yang paling di hindari oleh nya. Dengan satu kali hentakan, ia menarik lengan Rania sehingga tubuh Rania terduduk di pangkuan nya.


Dengan amarah nya, Delta mencengkram pergelangan tangan Rania dengan kuat nya hingga gadis itu merintih kesakitan.

__ADS_1


"Jika sesuatu terjadi pada janin ini, aku akan pastikan kematian anggota keluarga kamu tanpa terkecuali." bisik Delta dengan dingin nya. Rania mengepalkan tangan nya, kekhawatiran dirinya pada anggota keluarga pun membuat nyali nya menciut seketika.


"Ok, aku akan ikuti kemauan kamu, tapi ingat jangan pernah kau sentuh satu pun dari anggota keluarga ku, jika kau berani kita lihat siapa yang akan hancur lebih dulu, aku atau kau." balas Rania dengan emosi yang sudah meledak, ia pun menarik paksa lengan nya dan beranjak dari pangkuan Delta.


"Aku akan minta Mommy untuk mengajak kamu buat fitting baju pengantin sebentar nanti. Dan mulai hari ini kamu akan tinggal bersama ku di Mansion, tak ada bantahan." balas Delta dengan menekan kalimat terakhir nya.


"Terserah!" ketus Rania dan keluar dari ruangan itu.


Jam kerja telah usai, para staf Rania sudah berpulang satu persatu, tinggal diri nya seorang di divisi itu. Entah apa yang sedang di pikirkan wanita hamil itu, ia duduk dengan menatap lurus ke arah jendela berkaca besar yang memperlihatkan pemandangan yang begitu indah di kala senja.


Namun luka yang belum sembuh sepenuh nya kini harus di rasakan lagi dengan kehendak pria itu yang menginginkan suatu ikatan sakral dalam suatu mahligai perkawinan yang pasti nya akan ada luka-luka baru yang akan di torehkan pria yang menjadi sosok Ayah bagi janin nya.

__ADS_1


Sekuat tenaga ia menentang perintah pria itu, namun siapa dia? dia hanyalah seorang wanita rapuh yang kapan saja bisa di hancurkan oleh pria iblis itu. Penolakan demi penolakan telah ia coba namun pada akhir nya ia akan kembali lagi pada kekejaman seorang Delta Ammar, seorang pria berhati dingin dan begitu sombong karena kekuasaan yang di miliki nya. Siapapun akan takut berhadapan atau pun mencari masalah dengan sosok tersebut, seperti hal nya yang terjadi pada Rania. Kini wanita itu pasrah dengan takdir yang terus mencoba mempersatukan mereka dalam ikatan sakral yakni sebuah ikatan pernikahan yang entah akan di bawah kemana pernikahan itu, pada dasar nya mereka adalah dua sosok asing yang akan memulai petualangan sebuah kehidupan, entah kebahagian atau kesakitan yang menunggu di masa depan.


Senja sudah berganti malam, gadis itu terus saja duduk termenung di kursi kerja nya, pikiran nya mulai tak tentu arah. Ingin sekali diri nya mengakhiri hidupnya, namun urung di lakukan oleh nya mengingat di dalam rahim nya sedang tumbuh sesosok nyawa yang tidak bersalah, meski di awal kehamilan nya ia berniat menggugurkan janin tersebut namun mengingat diri nya juga di campakkan oleh kedua orang tua nya membuat ia tak tega menghilangkan nyawa janin nya tersebut. Rasa bersalah nya pun di tebus oleh diri nya dengan mempertahan kan janin itu meski diri nya sering kali menjadi gunjingan orang, ia tetap memilih melangkah maju tanpa arah.


Entah apa yang ada di pikiran seorang Delta, pasal nya pria itu baru saja menyelesaikan pekerjaan nya, dan entah dorongan dari mana kaki nya melangkah memasuki lift dan menekan angka 15 di mana lantai tersebut adalah tempat Rania bekerja. Galfin yang berada di belakang nya terheran kala sang bos berhenti di lantai 15, di mana seluruh ruangan itu tampak gelap gulita, hanya ada satu ruangan yang lampu nya masih menyala. Delta pun berjalan ke arah ruangan yang terang benderang tersebut, alangkah terkejut nya diri nya kala melihat sosok yang sedang duduk dengan tatapan kosong, hati nya teriris kala melihat kesedihan di mata gadis itu.


Dengan perlahan ia berjalan mendekati sesosok tersebut. Rasa bersalah pun menggerogoti hati dan pikiran nya.


Apa aku terlalu keras kepada nya? mengapa hati ini merasa sakit saat melihat raut kesedihan di manik mata nya?


"Ini sudah larut, mengapa kau masih di sini?" tanya Delta saat sudah berada di depan Rania.

__ADS_1


Tak ada sahutan dari sosok di depan nya, dengan lembut Delta mengusap lengan Rania, hingga pada detik berikut nya Rania tersadar dari lamunan nya, ia pun menatap sosok yang berada di samping nya. Raut keterkejutan pun nampak di wajah nya, namun sebisa mungkin ia mencoba tenang. Gadis itu pun berdiri dan menyambar tas dan ponsel nya dan berlalu pergi tanpa suara.


Menyadari itu, Delta pun berjalan cepat mengikuti langkah Rania. Namun keberadaan nya tak sedikit pun di hargai oleh Rania.


__ADS_2