
"Kita ke markas?" tanya Delta tanpa menatap ke arah Galfin.
"Tidak, sudah banyak yang berubah dengan tempat itu. Aku sudah menempatkan anak buah kita di tempat yang baru, tepatnya mereka menghuni di paviliun belakang mansion baru untuk mu tinggal." Tolak Galfin, dan Delta sendiri hanya bisa menganggukkan kepalanya menyetujui.
"Uncle, di depan sana ada restoran yang sering aku datangi, kita sarapan dulu yah, Ay laper banget." pinta Ayla, karena ia sudah merasakan lapar.
"Baiklah, Tuan Putri." balas Galfin.
*****
Di lain tempat seorang wanita paru baya yang masih terlihat awet muda tampak bahagia duduk bertiga dengan anak dan calon menantunya.
"Sayang, besok jadwal kalian buat fitting baju pertunangan, tempatnya nanti Bunda serlok ke kalian yah. Bunda harap di antara kalian tidak ada yang mangkir lagi seperti sebelumnya." jelas Rania lembut.
"Tapi besok Arta ada janji temu dengan Tuan Wiston, Bun." jelas Arta jujur karena besok memang ia harus menghadiri pertemuan penting di pagi hingga sore hari.
Mendengar penolakan sang anak, senyum bahagia di wajah wanita dewasa itu memudar seketika, terlihat jelas raut kesedihan di wajah nya kala semua usaha mendekatkan sang anak dengan wanita sebaik Eve selalu saja di tolak oleh sang anak. Melihat wajah sedih calon mertuanya, Eve menjadi geram sendiri dengan tingkah keras kepala Arta. Tanpa rasa takut atau pun sungkan, Eve menyikut perut Arta dan menatap pria itu dengan tajam.
"Meski kau tak menyetujui perjodohan ini, tapi seenggaknya jangan buat Bunda mu sedih dan merasa kecewa atas segala penolakan mu!" bisik Eve dengan nada ketus.
"Ya sudah, Bunda serlok saja tempat fitting baju nya, biar sekalian Arta yang jemput Eve besok." ujar Keanu tak tega melihat wajah sedih sang Bunda.
"Terima kasih anak kesayangan Bunda." balas Rania dengan suara yang agak keras hingga menarik atensi beberapa pengunjung di sana.
Tak jauh dari ketiga nya, sesosok gadis cantik tampak mengepalkan tangannya, ada rasa sesak saat mendengar kata kesayangan yang di ucapkan oleh wanita dewasa itu, setetes air mata merembet jatuh di pipi chuby gadis itu kala wanita yang sangat ia rindukan tampak tak mengingat dirinya.
"Princes ada apa?" tanya Galfin yang belum menyadari jika sosok Rania juga ada di tempat yang sama dengan mereka.
"Uncle, kita pergi saja dari sini. Ay lupa jika ada beberapa tugas Ay yang belum Ay selesaikan." pinta nya dengan lirih sambil menahan tangisnya.
__ADS_1
Belum sempat Galfin membalas ucapan sang keponakan, sebuah suara lebih dulu menginterupsi pembicaraan mereka.
"Galfin." panggil Rania yang entah sejak kapan sudah berdiri tepat di belakang Galfin.
Tubuh Galfin membeku sempurna, ia tidak mungkin tuli saat mendengar suara yang sangat familiar di belakang nya. Wajah nya kian memucat saat melihat kedatangan sahabat nya yang kian mendekat ke arah mereka.
"Gail, kenapa kalian masih berdiri. Sayang duduklah, sebentar lagi pesanan kita akan di antar. Ayah sudah memesankan banyak makanan untukmu." seru Delta belum juga menyadari situasi yang ada.
Kali ini, bukan hanya tubuh Rania saja yang membeku sempurna, melainkan sosok pria muda yang berdiri di samping Rania juga ikut menegang kala melihat siluet pria dewasa yang tampak gagah dan berkharisma di depan mereka. Dengan langkah gontai, Rania perlahan keluar dari balik punggung Galfin.
Melihat siluet wanita yang sangat ia cintai dan rindukan, seketika bulir air mata menetes di wajah Delta saat pria dewasa itu memejamkan matanya.
"Mas." panggil Rania lirih di ikuti Isak tangis.
Mendengar panggilan itu, membuat jantung Delta berdebar tak karuan. Namun mengingat setiap penjelasan anak buahnya mengenai Rania yang menjalin kasih dengan Gailel membuat Delta kecewa, dan dengan secepat kilat Delta merubah ekspresi wajah nya menjadi datar dan terlihat dingin.
Melihat perubahan ekspresi wajah Delta yang terlihat datar membuat Rania bertanya-tanya, apakah Delta masih marah terhadapnya hingga saat ini.
"Ayah, Ay tidak lapar. Sebaiknya kita kembali saja, Ay capek." seru Ayla dengan wajah datar, dan segera melenggang pergi.
"Kakak, tunggu!" Teriak Keanu saat melihat Mikayla menjauh dari mereka.
Delta, Galfin dan Rania tampak terkejut mendengar teriakan Keanu yang memanggil Mikayla dengan sebutan Kakak dan hendak mengejar Mikayla namun langkah nya di hadang oleh beberapa pria berbadan besar yang tak lain ialah para bodyguard Delta.
"Minggir!" desis Keanu marah.
Namun ucapannya tak di gubris para pria tersebut, hingga sebuah suara menghentikan gerakan Keanu yang hendak menghajar para pria tersebut.
"Tak perlu mengejar nya, kau bisa bertemu dengan Ayla kapan saja tapi tidak untuk saat ini. Seorang pria akan terlihat terhormat jika bisa mengendalikan emosi nya di depan umum!" ucap Delta dengan tegas sembari menatap punggung kokoh anak lelakinya.
__ADS_1
"Jangan mendikte ku sebelum kau belajar mengambil keputusan mu dengan benar! hingga memisahkan seorang anak dengan Ibu dan Adiknya!" jawab Keanu tak kalah dinginnya.
Plakkk
"Bunda nggak pernah mengajari kamu bicara tak sopan dengan orang tua, terlebih pria di depanmu ini Ayahmu, Arta!" tegur Rania marah.
"Kau!" desis seorang gadis tiba-tiba dengan tangan yang sudah mendarat di pipi Arta.
Plakkk
"Seharusnya, kau katakan itu kepadanya. Jangan pernah meninggikan suaramu di depan Ayahku! anggap ini pertemuan terakhir di antara kita, karena sampai kapan pun, kita akan tetap menjadi orang asing! jangan pernah mengusik kami lagi. Dan untuk anda Nyonya, tolong lupakan apapun yang pernah terjadi di masa lalu, karena Aku dan Ayahku sudah cukup bahagia bisa hidup berdua tanpa kehadiran anda dan anak anda." ucap Mikayla sinis sembari menarik tangan Ayah dan Uncle nya pergi dari sana.
"Mas, tidak adakah maaf untuk ku lagi?" tanya Rania lirih namun masih bisa di dengar oleh Delta yang berdiri tak jauh darinya.
Delta memejamkan matanya sejenak, ada kerinduan yang membuncah, ingin rasa nya ia memeluk tubuh wanita yang selalu mengisi hatinya itu, namun penjelasan Gustav beberapa tahun yang lalu membuat Delta kembali sadar, jika wanita yang sangat di cintai nya sudah menambatkan hatinya pada pria lain.
"Berbahagialah dengan keluarga barumu, tidak ada yang perlu di sesali lagi, di antara kita sudah berakhir 20 tahun yang lalu, seperti apa yang di katakan Ayla barusan, kita akan tetap menjadi orang asing terlepas dari kisah masa lalu yang pernah terjadi di antara kita." ujar Delta tegas namun jauh dari lubuk hatinya, ia sungguh tidak ingin semua ini terjadi.
Setelah mengatakan itu, Delta pun berbalik dan melangkah pergi tanpa memperdulikan tangis Rania.
Di dalam perjalanan menuju mansion, tak satu pun dari ketiganya bicara, ketiga nya diam dengan pikiran masing-masing. Terlihat jelas di wajah cantik Ayla jika gadis itu benar-benar marah kepada sang Ayah karena membiarkan Adiknya berbicara kurang ajar.
"Ayah, berjanjilah untuk tidak kembali bersama wanita itu, apapun alasannya Ay orang pertama yang akan menentang hubungan Ayah, jika perlu Ay bakalan pergi sejauh mungkin biar Ayah nggak bisa temuin keberadaan Ay lagi." seru nya dengan wajah memerah menahan tangis.
Maafkan aku, Ra. Seharusnya sejak lama aku menjelaskan semuanya kepada Ayla hingga tidak ada kesalahpahaman seperti ini.
"Ada hal yang harus kamu ketahui Nak. Sebenarnya perpisahan Ayah dan Bunda bukan karena kebohongan Bunda, tapi Ayah menceraikan Bunda karena saat itu ada musuh yang sedang mencari celah untuk melukai Bunda mu, Ayah terlalu takut kehilangan Bunda kalian, oleh karena itu Ayah berbohong kepada seluruh keluarga. Maafkan Ayah." jelas Delta penuh penyesalan.
"Apapun alasan nya, aku tidak suka Ayah berhubungan dengan wanita itu, bagi Ay, Bunda sudah lama mati." teriak Ay marah dan segera turun dari mobil dengan menghempas kuat pintu mobil hingga membuat kedua pria dewasa itu seketika memejamkan mata mereka.
__ADS_1
"Apa kau ingin aku menyelidikinya lagi? mungkin ada kekeliruan saat itu." tanya Galfin dengan hati-hati.
"Tidak perlu, apa yang di katakan Ay ada benar nya, mungkin sudah saatnya untuk aku bangkit kembali dan melupakan dia." tolak Delta.