
Tepat saat mobil mereka berhenti di depan rumah sakit, tampak sosok Ashraf sudah menunggu kedatangan mereka dengan beberapa dokter dan perawat di sana.
Ashraf segera membuka pintu mobil dan menggendong Rania untuk di pindahkan ke kursi roda, ia tidak ingin ada adegan yang tak pantas saat sang anak tau jika istrinya di gendong orang asing, oleh karena itu ialah yang menggendong Rania saat ini.
Rania pun di dorong masuk ke ruang persalinan karena telah mengalami pembukaan dengan tanda darah yang sudah mulai mengalir di paha dalamnya.
"Permisi, Tuan. Apa kalian keluarga pasien?" tanya seorang suster sebelum pintu ruang operasi di tutup.
"Saya suaminya." seru Delta ngos-ngosan dengan wajah penuh lebam.
Ashraf dan Dania hanya geleng-geleng kepala melihat penampilan Delta yang begitu mengerikan, bukan tidak tau apa yang sedang di alami sang anak tapi mereka mengesampingkan segala pertanyaan yang ada, karena mereka ingin fokus pada Rania yang sebentar lagi akan lahiran.
Setelah Delta dan dua orang perawat masuk, tak berselang lama tampak dua sosok paru baya berjalan dengan tergesa gesa menuju ruang bersalin, kedatangan kedua orang penting itu menjadi sorot dari para pengunjung yang ada di sana, terlihat pula beberapa pengunjung menunduk hormat saat berpapasan dengan kedua petinggi itu tak terkecuali para dokter dan perawat juga yang ikut menunduk hormat.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan dan Nyonya?" tanya salah satu dokter dengan menunduk hormat.
"Tolong antar kan kami menuju ruang persalinan!" jawab Burack dengan datarnya.
Tanpa bertanya lagi, dokter pun menuntun langkah kedua petinggi itu menuju bangsal persalinan. Dari kejauhan Lethisa maupun Burack saling melempar pandang saat mendapati raut kekhawatiran dari besannya, meski belum pernah berjumpa, tapi mereka cukup mengenali sosok keluarga Ammar selaku pemilik Ammar Group melalui beberapa surat kabar.
"Mom nggak menyangka jika mereka bisa menerima Arezha sebaik itu, terlebih mereka tak mempermasalahkan seluk belum Arezha kita." bisik Lethisa dengan perasaan haru karena mendapatkan sosok besan seperti Dania dan juga Ashraf.
"Arezha kita anak yang baik, siapapun yang melihat ketulusan hatinya pasti akan tersentuh dan Ayah yakin jika besan kita pasti memperlakukan Arezha kita dengan penuh kasih sayang." balas Burack yakin saat mata nya menangkap ekpresi kekhawatiran dari kedua besannya.
"Dokter, terima kasih." ucap Burack.
"Itu sudah kewajiban saya Tuan, saya pamit undur diri dulu Tuan." balas sang dokter dan perlahan melangkah mundur meninggalkan sepasang suami istri tersebut.
Setelah sang dokter pergi, Lethisa maupun Burack melangkah kan kaki mereka kembali menghampiri kedua besan mereka yang tampak mondar mandir di depan pintu ruang persalinan.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Burack to the poin.
Ashraf dan Dania serempak menoleh kebelakang, kedua nya terkejut melihat kedatangan sepasang suami istri tersebut.
"Masih di dalam, baru saja di pindahkan." balas Ashraf.
"Maafkan kami yang baru tiba, perjalanan kesini membuat kami sedikit terlambat."
"Tidak masalah Tuan, oh iya kenalkan, ini istri saya Dania."
"Saya Burack dan ini Istri saya Lethisa. Kami orang tua Arezha."
Setelah sesi perkenalan, keempat orang itu pun diam, mereka duduk dan sekali kali ke empatnya berdiri dengan perasaan khawatir di benak masing-masing. Menunggu saat-saat mendebarkan dalam sejarah hidup mereka. Dania maupun Lethisa tampak meremas pergelangan tangan suami masing-masing.
Oek oek oek
"Dad, itu suara bayi kan?"
"Heem."
"Alhamdulillah."
Ucap ke empatnya bersamaan. Dania dan Lethisa pun saling berpelukan begitu pun dengan Burack dan Ashraf.
"Akhirnya sang pewaris telah lahir, dan sekarang kita menyandang status sebagai Kakek dan Nenek." ucap Burack dan di tanggapi dengan senyum oleh ketiga orang di depannya.
Ashraf tidak menimpali ucapan sang besan namun jelas terlihat jika pria itu menahan haru yang membuncah di dadanya, senang karena ia akhirnya bisa menimang seorang cucu dari rahim seorang wanita baik-baik seperti Rania.
sudah 15 menit berlalu, tapi pintu ruang operasi belum juga ada tanda-tanda akan di buka, begitu pun dengan sosok Delta yang tak kunjung keluar, kelegaan yang mereka rasakan barusan berubah menjadi kepanikan, pikiran mereka berkelana jauh. Keempat paru baya itu kembali saling melempar pandang, ada rasa khawatir di benak mereka, takut akan sesuatu menimpa anak dan cucu mereka.
__ADS_1
"Ayah, apa yang terjadi? Bunda takut sesuatu menimpah Arezha dan cucu kita." lirih Lethisa dengan mata yang sudah memerah.
"Bun tenanglah, mungkin dokter sedang melakukan tugas mereka saat ini."
Dan jika sesuatu menimpa satu di antara mereka, Ayah pastikan rumah sakit ini rata dengan tanah!
Tak berselang lama, tampak sosok Delta keluar dengan wajah pucat pasi dan tubuh nya linglung begitu tubuh nya sudah berdiri tak jauh dari keempat paru baya itu. Melihat Delta wajah pucat pasi membuat ke empat orang itu segera berjalan mendekatinya, Ashraf terlebih dulu berlari untuk menopang tubuh sang anak yang hampir saja ambruk. Ashraf dan Burack pun segera mendudukkan Delta di kursi tunggu.
"Nak, apa persalinannya berjalan lancar?" tanya Lethisa harap-harap cemas.
"Apa yang terjadi? ayo katakan, jangan diam saja!" sentak Dania panik.
Burack pun menelpon seseorang, tak lama beberapa pria berjalan mendekat, salah satu pria menghampiri Burack dan menyodorkan sebotol air mineral. Dengan cepat pula Burack membuka tutup botol itu dan memberikan nya kepada Delta.
"Minumlah, setelah nya katakan apa yang terjadi." ucap Burack yang mencoba tenang meski ia sendiri sudah begitu khawatir.
"Makasih Ayah." ucap Delta dengan suara pelan. Setelah menandaskan sebotol air mineral Delta pun mulai bercerita.
"Arezha dan cucu kami baik-baik saja kan?" tanya Burack.
Delta mengangguk lemas.
"Lalu ada apa?" tanya Ashraf.
Delta menggeleng, ke empat paru baya itu saling pandang, mereka benar-benar tak mengerti dengan maksud Delta. Akhir nya keempat orang itu bernafas lega dan tak henti-hentinya mengucap syukur, mereka pun tak lagi bertanya kepada Delta dan memilih menunggu dokter atau perawat saja.
Tiga puluh menit berlalu, tampak sosok sang dokter keluar dari kamar bersalin. Rania serta kedua bayinya juga ikut keluar dari ruang bersalin.
Mata keempat paru baya itu membola kala melihat ada dua box bayi yang di dorong di samping brankar Rania. Melewati persalinan normal membuat tubuh Rania lemas dan lelah, hingga tiba di mana brankar yang di tempati oleh nya di dorong keluar dan ia memilih memejamkan matanya.
__ADS_1