
Setibanya di kamar, Rania pun segera berjalan memasuki kamar mandi, sejak kehamilan, Rania sering sekali merasa kegerahan, wanita hamil itu tidak pernah mau tau di mana dan seperti apa cuaca tempatnya saat ini, ia tetap akan membersihkan tubuhnya dengan mandi. Melihat sang istri yang sudah menutup pintu kamar mandi Delta hanya menghembuskan nafas pelan, jika sudah seperti ini ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sayang, mandinya pakai air hangat ya dan jangan terlalu lama berendam di dalam bathtub." seru Delta dari balik pintu.
"Iya Mas, nggak lama kok." balas Rania.
Delta pun segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang king size miliknya sambil menerima video call dari para sahabatnya. Perbincangan di antara ke empatnya pun berlangsung cukup lama, Delta merasakan keanehan kala sejak tadi tak mendengarkan pergerakan apapun dari bilik kamar mandi, dirinya yang kerap sekali melewati segala situasi pun menatap ke arah pintu kamar mandi yang juga belum terbuka, awalnya Delta pikir jika sang istri mungkin sedang berendam di dalam bathtub namun sepersekian detik ia meloncat turun dari ranjang dengan pistol yang sudah ia arahkan ke arah pintu kamar mandi.
"D, ada apa?" tanya Jibril dari kejauhan.
"Entahlah, yang pastinya saat ini instingku mengatakan ada yang tidak beres. Aku periksa dulu." balas Delta dan mulai melangkah kan kakinya ke arah pintu kamar mandi.
"Sayang, are you okey?" tanya Delta dari luar.
Tak ada sahutan dari dalam, Delta mulai meningkatkan kewaspadaan. Tak ada rasa takut sedikitpun pada diri Delta dalam menghadapi situasi seperti ini, melainkan ia hanya mengkhawatirkan keselamatan istri dan anaknya.
Delta pun perlahan memutar kenop pintu, ia terbelalak kaget saat mendapati sang istri yang sedang terlelap di dalam bathtub.
Tak ingin mengganggu waktu tidur sang istri, Delta pun perlahan menggendong tubuh Rania keluar dari bathtub dengan perlahan ia menidurkan Rania di ranjang dan menutup tubuh istrinya dengan selimut, entah mengapa ia begitu candu saat setiap kali melihat wajah teduh istrinya itu saat terlelap.
Terima kasih Ya Allah, engkau telah mengirimkan seorang wanita yang begitu baik seperti Rania, terima kasih juga sudah membuka pikiranku untuk menjadi lebih dewasa dalam menyikapi segala hal, Terima kasih sudah menghadirkan wanita sebaik dan setulus istriku.
__ADS_1
Cup
Setelah berbicara dengan hatinya dan mendaratkan satu kecupan, Delta pun beranjak dan ikut berbaring di samping tubuh istrinya, ia mendekap tubuh istrinya dan ikut memejamkan mata.
Di lain tempat, tampak seorang wanita sedang berteriak marah kepada seorang pria.
"Dasar bodoh! seharusnya kau menculik wanita itu bukan mengajaknya berbicara yang tidak penting!" sembur sang wanita yang terlihat begitu marah.
"Jika kau tidak tega berhentilah, aku bisa mengutus orang-orang ku untuk menculik wanita ****** itu!" lanjutnya lagi dengan suara menggelegar.
Mendengar seruan Belia yang mengatakan Rania wanita ****** membuat David mengepalkan tangan nya, pria itu pun beranjak dan mencengkram leher Belia.
"Sekali lagi aku mendengar kau meneriaki Rania dengan sebutan ****** akan ku bunuh kau, jangan pernah berpikir untuk melukainya karena aku tidak akan pernah tinggal diam!" ancam sang pria dengan amarah yang sudah di ubun-ubun dan segera menghempas tubuh wanita seksi itu dengan kasar.
Belia mencoba mencari pasokan udara, cengkraman David pada lehernya sungguh sangat kuat, tubuh nya terasa lemas. Pria itu menatap Belia dengan sorot mata tajam bak seperti pembunuh yang siap menghabisi lawannya.
Ya, meski ia ikut andil dalam kekacauan pada rumah tangga Rania, tapi David tidak akan membiarkan siapapun berbicara kasar ataupun mencaci wanita yang sangat ia cintai itu, cinta David kepada Rania begitu besarnya hingga apapun cara yang harus ia tempuh akan ia tempuh demi mendapatkan wanita yang sangat di cintai. Tapi ia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti wanitanya, terlebih ia tau jika apa yang di alami Rania adalah kecelakaan semata, oleh karena itu ia akan mencoba mendekati Rania lagi demi menarik perhatian wanita itu meski ia sendiri ragu ketika tau jika wanita yang di cintai nya sudah tidak lagi mencintai dirinya dan mungkin kini wanita itu sudah sepenuhnya melabuhkan hatinya pada sosok suami nya saat ini.
Setelah meraup oksigen sebanyak mungkin, gadis cantik itu pun bangun dan menghentak kan kaki nya kesal dan berlalu keluar dari ruangan pria yang menjadi rival sekaligus pemuas hasratnya.
Kita lihat saja David, kau akan bertekuk lutut di hadapanku saat aku menculik wanita ****** itu. Akan ku pastikan antara kau dan Delta tidak ada yang bisa memiliki wanita itu, kalian hanya milikku.
__ADS_1
Wanita cantik itupun kembali melangkahkan kaki nya memasuki lift, di dalam lift wanita itu tampak berkirim pesan dengan seseorang, entah apa yang sedang di rencanakan wanita itu saat ini.
Setibanya di lobby perusahan, wanita itu dengan begitu angkuhnya melangkahkan kaki nya menuju sebuah mobil yang sudah menunggunya. Tampak seorang pria sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"Antar aku ke Cafe Chezz." titahnya dengan angkuh.
"Baik Nona muda." balas sang supir dengan menunduk hormat.
Tak membutuhkan waktu lama mobil yang di ditumpanginya sudah berhenti tepat di depan pintu masuk Cafe Chezz, sang supir pun dengan sigap membukakan pintu untuknya.
Kedatangan Belia di sambut oleh dua orang pria bertubuh kekar. Melihat kehadiran sang majikan kedua pria itu pun beranjak dan membungkuk sopan.
"Selamat datang Nyonya Ammar." hormat kedua pria itu dengan menyematkan nama belakang Delta.
"Di dalam amplop ini ada foto seorang wanita, aku ingin kematiannya segera. Mengenai bayaran akan aku transfer setelah misi kalian selesai, jangan tinggalkan jejak apapun." jelasnya sembari menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat, setelah memberi perintah ia pun segera melenggang pergi dari kedua pria itu.
Kedua pria itu pun segera mengambil amplop tersebut dan segera meninggalkan Cafe itu, tepat setelah keduanya keluar, mereka pun segera memasuki sebuah mobil dan membuka amplop coklat tersebut. Ada sedikit keraguan di antara kedua pria itu kala melihat siapa sosok yang harus mereka renggut nyawanya. Sosok wanita yang cukup mereka kenali karena wanita itu pernah menjadikan mereka samsak.
"Jika kita tidak melakukannya, kita tidak akan mendapatkan uang sebanyak itu setelah sekian lama kita tidak di butuhkan oleh beberapa petinggi." ucap salah satu pria dengan pikiran dongkol.
"Aku tidak mau menjadi samsak wanita bar-bar itu, bisa-bisa sebelum kita membunuhnya kita sendirilah yang dia bunuh." tolak salah satu pria mengingat kebengisan Rania kala itu.
__ADS_1