
Hari sudah menjelang sore, mobil yang di kemudikan Galfin pun akhir nya tiba di mansion milik Delta, meski sudah tiba di mansion sejak setengah jam yang lalu, namun Galfin urung membangunkan kedua suami istri itu yang sedang terlelap.
Ia pun memilih turun, dan menunggu di teras rumah, satu jam telah berlalu, hingga tiba di mana pintu samping kiri terbuka, tampak sosok Delta turun dengan meregangkan tangan nya ke atas.
Galfin pun berdiri dan membungkuk sopan ke arah Delta.
"Apa yang terjadi saat dalam perjalanan kesini?" tanya Delta datar.
"Sebuah mobil van melaju dan berhenti tepat di depan mobil kita, awal nya saya ingin turun, namun mengingat jika di dalam mobil bukan hanya saya dan Tuan, saya pun memilih diam di mobil dan mengerahkan seluruh pengawal untuk melindungi mobil, namun saat saya menancap gas, saya melihat ada sesosok pria yang menatap tak suka ke arah Nyonya muda, Tuan." jelas Galfin yang mengingat jelas sorot mata penuh kebencian pria yang berada di dalam mobil.
"Cari tau siapa pria itu! aku tidak ingin sesuatu terjadi kepada mereka berdua!" titah nya dengan dingin, sungguh Delta ingin melindungi Rania dan juga anak mereka.
"Baik Tuan." balas Galfin cepat.
Setelah nya Delta pun mengitari mobil dan berdiri tepat di pintu samping kanan, ia pun membuka pintu mobil, ia tercengang melihat sosok Rania yang masih tidur begitu lelap nya, ia pun berniat menggendong Rania, namun mengingat setiap perkataan Rania tadi, Delta pun mengurungkan niat nya, dengan lembut nya Delta menyentuh pundak Rania dan memanggil wanita itu dengan pelan nya, namun Rania tak kunjung bangun, tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Delta pun segera menggendong Rania, dengan langkah perlahan Delta berjalan memasuki lobby rumah. Ia bingung ingin menempatkan Rania di mana, mengingat Rania yang sedang hamil, Delta pun menempatkan Rania di lantai dasar yang tepat nya itu adalah kamar utama di mansion tersebut dan tak lain adalah kamar milik nya.
Ia membaringkan tubuh Rania dengan perlahan di atas ranjang dan menyelimuti istri nya itu, setelah nya ia pun segera keluar dari kamar. Delta pun berjalan dengan menuju dapur.
__ADS_1
"Mbok, siapkan makanan bergizi untuk Rania! dua jam lagi minta ia ikut makan malam bersama saya." titah Delta dan berlalu pergi tanpa mendengar jawaban Mbok Lin.
Mendengar wanita yang selama ini membuat Nyonya besar nya tampak murung, Lin pun bahagia, ia pun dengan cepat nya merogoh benda pipi nya dari balik saku belakang, dengan gerakan cepat, Lin menelpon Dania dan memberitahu kan kabar bahagia ini.
Delta tau jika Lin pasti akan segera mengabari Mommy nya mengenai keberadaan Rania di mansion milik nya, maka dari itu Delta tak sedikit pun berniat memberitahukan keberadaan Rania kepada kedua orang tua nya.
Kini Delta berada di lantai dua, tepat nya di kamar kedua mansion milik nya, ya sebenarnya ini adalah kamar yang pernah ia jadikan sebagai tempat Rania di tawan dan direnggut kesucian nya. Delta memilih menjauh kan Rania dari segala tempat yang pasti akan mengingatkan gadis itu pada hari di mana dirinya di siksa. Oleh karena itu, kali ini Delta memilih memberikan kamar utama mansion itu kepada Rania dan ia yang akan menempati kamar yang di isi dengan kenangan pahit Rania.
Seperti kesepakatan di antara mereka, ia menyetujui permintaan Rania untuk tinggal seatap tapi pisah kamar, meski sebenarnya Delta ragu untuk melakukan semua keinginan Rania, namun mengingat jika ia membatalkan kesepakatan itu, Rania pasti akan pergi lagi menjauh dari kehidupan nya, dan Delta pun sungguh tidak ingin kehilangan Rania untuk kedua kali nya.
"Segera lakukan misi B, apapun rintangan nya! aku tidak ingin ada kata gagal lagi dalam rencana ini!" tekan pria itu dengan dingin nya.
"Tapi bos, wanita itu di jaga dengan ketat oleh keluarga Ammar. Saya tidak yakin jika rencana kita akan berhasil melukai gadis itu." balas orang kepercayaan pria itu, ia tau siapa sosok di belakang gadis itu, ia yakin jika peristiwa tadi pasti sudah menimbulkan kecurigaan oleh asisten Delta.
"Apa kau sudah bosan hidup?" tanya nya pria itu dengan sorot mata tajam.
"Baik bos, akan segera saya laksanakan." ucap pria itu dan pamit dari hadapan bos nya itu.
__ADS_1
Galfin di buat pusing dengan perintah Tuan nya, pasal nya sudah sejak tadi ia tidak dapat melacak siapa sosok yang hendak mencelakai mereka, CCTV telah di putar berulang kali oleh Galfin namun semua petunjuk seperti DB mobil semua nya palsu, dan wajah para pengawal nya pun semua nya mengenakan topeng.
"Apa motif mereka tadi? jika itu musuh Tuan Delta, mereka pasti tidak akan menunggu selama ini untuk melukai Tuan Delta. Aku yakin mereka mengincar Nyonya Rania, jika di lihat tadi dari sorot mata pria itu, seperti ada aura kebencian dari pria itu." gumam Galfin yang masih fokus menatap laptop di depan nya.
Galfin yang belum menemukan informasi apapun kini bingung apa yang harus di katakan oleh nya kepada Delta, ia pun segera beranjak dan pergi ke mansion Tuan nya.
"Aku nggak suka ya kamu gendong-gendong aku, dan seharusnya tadi kamu bangunin aku bukan seenak jidat kamu main gendong-gendong." sembur Rania saat Delta menuruni anak tangga.
"Kamu aja tidur nya kayak kebo, aku udah bangunin kamu, tapi kamu nggak bangun juga! nggak mungkin kan kamu aku tinggal di dalam mobil dan ikut pergi bersama Galfin." balas Delta dengan melipat tangan nya berdiri di depan Rania.
Mendengar itu Rania malu, wajah nya merona merah, ia pun menghentak kan kaki nya dengan kesal dan berlalu pergi, ingin secepat nya Rania bersembunyi, ia sungguh malu mengingat kelakuan nya yang suka tertidur di mana saja sejak kehamilan. Namun tangan nya segera di tahan oleh Delta.
"Mau kemana? makan malam dulu, sejak sore tadi kamu belum makan." tanya Delta sembari menahan tawanya, ia tau jika Rania pasti malu.
Rania menepis tangan Delta. "Jangan pegang-pegang, aku mau kembali ke kamar kamu makan aja sendiri." balas Rania ketus dan berlalu pergi meninggal kan Delta.
"Ya sudah, nanti aku minta Mbok Lin antar makan malam kamu ke kamar." balas Delta dengan tersenyum.
__ADS_1