
Sejak mengetahui sisi lain istrinya, Delta menjadi pribadi yang irit bicara, pria itu selalu diam tanpa mau bertanya. Rania sendiri menyadari perubahan dari suaminya itu, maka dari itu Rania mengajak Delta ke kamar utama mansion tersebut.
"Mas duduklah, ada beberapa hal yang ingin aku ceritakan kepada kamu." ajak Rania.
Delta pun menuruti permintaan istrinya itu, pria itu duduk dalam diam, ada rasa kecewa saat sebuah kebenaran terungkap mengenai siapa istrinya dan hubungan antara sang istri dan rivalnya.
Rania menarik nafas dan membuang nya perlahan, wanita itu pun menggenggam tangan suaminya.
"Mas aku tau kau pasti terkejut mengetahui siapa aku sebenarnya. Tak seharusnya aku menutupi ini semua dari kamu terlebih kau sendiri selalu jujur tanpa menutupi apapun dari ku, tapi percayalah aku menutupi ini karena aku terlalu takut akan kehilangan kamu, Mas. Hukum aku jika itu semua bisa membuatmu kembali mempercayai aku, Mas. Jangan mendiami aku seperti ini, sudah cukup seminggu kau menghukum ku, rasa nya seakan duniaku hancur tak tersisa saat mendapati perlakuan kamu yang terus menghindar dariku, Mas." ujar Rania jujur.
"Apa kau masih mencintai, Brian?" tanya Delta datar tanpa ekpresi.
"Mas cemburu?" tanya Rania sambil menahan tawa nya, ia begitu gemas melihat wajah suaminya yang di tekuk sedemikian rupa.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, jawab pertanyaan ku!" suara Delta berubah dingin.
"Aku tak akan menampiknya, Mas. Hati ini masih ada cinta untuk Ian tapi..." ujar Rania terhenti kala sang suami segera beranjak dari duduknya.
"Cukup! jangan di teruskan lagi. Aku akan kembali, kau tetaplah di sini bersama yang lainnya." putus Delta penuh dengan kekecewaan.
"Mas tunggu, kau salah paham. Kau belum mendengarkan semuanya, duduklah dulu." seru Rania sambil menggenggam tangan Delta.
Dengan penuh kekecewaan Delta pun kembali duduk dan membuang pandangan nya.
"Dengarkan apa yang akan aku katakan, jangan menyimpulkan segala sesuatu hanya setengah dari ucapanku, Mas."
__ADS_1
"Memang aku mencintai Ian, tapi itu dulu jauh sebelum aku mengenal Davin dan juga Mas, tapi seiring kebersamaan kita aku mulai menata hatiku untuk menerima Mas meski itu cukup sulit mengingat apa yang pernah terjadi di antara kita. Maaf karena aku nggak pernah bercerita banyak tentang masa laluku, aku hanya tidak ingin Mas meragukan cintaku karena mendengar apa yang pernah aku lalui bersama Ian. Ian memiliki ruang tersendiri di hatiku, karena saat ini Mas lah yang menduduki tahta tertinggi di hatiku. Jangan pernah meragukan cinta dan kasih sayang ku selama ini, karena jujur aku sungguh tidak bisa hidup tanpa Mas meski sedetik pun." ujar Rania jujur.
Ada rasa bahagia kala mendengar sang istri mengatakan jika ialah yang menduduki tahta tertinggi di hati istrinya itu, dengan perlahan Delta pun mengatur duduknya kembali menghadap ke arah istrinya.
"Kamu sedang tidak berbohong kan?" tanya Delta memastikan meski sebenarnya ia sudah tau jawaban nya.
Rania mengulum senyum sambil mengikis jarak di antara mereka, satu kecupan pun ia daratkan ke bibir suaminya.
"Jangan meragukan cinta ku lagi, Mas. Karena kamu, keanu dan Mikayla adalah anugerah terindah yang pernah tuhan berikan kepadaku, aku bahagia bisa memiliki kalian. I Love You!" satu kecupan lagi ia daratkan ke pipi suaminya.
"I Love You More, sayang." balas Delta sambil memeluk erat raga istrinya itu penuh dengan cinta dan kasih sayang.
"Ya sudah ayo, kita menemui yang lainnya, kasian mereka menunggu kita terlalu lama." ajak Delta dengan wajah berbinar bahagia.
"Maaf sudah mengganggu waktu istirahat kalian, tapi ada yang ingin aku bicarakan kepada kalian dan ini mengenai Ian." jelas Rania.
"Apa ada yang tidak kami ketahui, Zi?" tanya Alden.
"Selama ini kita telah di kelabui oleh Millen, sebenarnya Ian tidak terlibat apapun dengan apa yang terjadi di kedutaan, dan mengenai penyerangan itu Ian juga tidak terlibat saat itu, melainkan Millen sendiri lah yang berada di balik penyerangan itu. Dan mengenai hilangnya beberapa aset negara, Ian di jadikan kambing hitam oleh Millen dengan meminta kita meretas sistem keamanan Ian saat itu. Tujuan Millen saat itu ingin menggeser kedudukan Ian beserta Tuan Federico dari kedudukan nya saat ini." jelas Rania dengan satu tarikan nafas.
"Dasar bedebah! pantas saja ia meminta kita meretas seluruh sistem pertahanan Brian." marah Alden dengan wajah berubah memerah.
"Apa yang akan kita lakukan saat ini?" tanya Jibril.
"Kita ikuti permainan Millen terlebih dahulu, dan aku minta kalian untuk mengawasi beberapa pengikut Ian yang berada di mansion ini termasuk dua maid yang baru beberapa bulan bekerja di sini." jelas Rania, sorot mata wanita itu berubah dingin.
__ADS_1
"Jangan bilang jika kamu sedang mencurigai ada nya pengkhianat di mansion ini?" ujar Alex.
"Ya, aku menemukan beberapa ke janggalan di mansion ini, oleh karena itu aku meminta kalian untuk tetap mengawasi mereka selama aku kembali ke kota, dua hari lagi aku akan kembali kesini." jelas Rania meminta bantuan para sahabatnya.
"Arash kau tau pasti apa yang harus kau lakukan, jangan kecewakan aku, lakukan apa yang menurut kamu benar." ujar Rania penuh penekanan. Meski ia sendiri sudah tau pasti mengenai Arash tetapi Rania sendiri masih memberikan kesempatan untuk pria itu.
Ketika nama nya di sebut, seluruh tubuh pria itu menegang sempurna. Ada rasa takut tersendiri kala pandangan seluruh orang yang ada di ruangan itu mengarah ke arahnya. Perlahan Arash pun menekuk ke dua kakinya di lantai.
"Nyonya aku tidak bermaksud mengkhianati Tuan, tapi keluarga ku sedang di tawan oleh Millen dan antek-anteknya. Ampuni aku Nyonya." ucap Arash penuh dengan ketakutan akan kemarahan Rania yang ia tau sendiri jika wanita itu paling anti dengan yang namanya pengkhianat.
Semua yang ada di ruangan itu tercengang mendengar ucapan pria itu, Maxi yang berada di dekat pria itu pun mengepalkan tangannya, ia tidak menyangka jika Arash, orang yang selalu mereka percayai ialah musuh dalam selimut. Dengan gerakan cepat Maxi pun memukul Arash membabi buta.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Ternyata kau yang selama ini memata matai Tuan! orang seperti mu tak pantas hidup, kau harus mati di tangan ku!" desis Max dengan amarahnya.
Pria itu juga tak segan-segan menodongkan pistolnya ke arah kepala Arash. Rania belum juga bereaksi apapun, wanita itu yakin jika Maxi sendiri tidak akan tega membunuh Arash mengingat kesetiaan pria itu selama ini.
"Jangan mengotori tanganmu, Max. Aku tidak ingin kau menyesali segala tindakan mu saat ini." ujar Rania tenang.
"Apa maksud anda, Nyonya?" tanya Maxi bingung.
"Sayang, katakan ada apa sebenarnya?" tanya Delta yang juag bingung.
"Arash hanyalah pion yang di mainkan oleh Millen. Situasi Arash saat ini cukup membuatnya dilema, di mana ia harus mengkhianati orang yang telah berjasa terhadap keluarga nya namun di sisi lain ada keluarga nya yang sedang di sandera oleh Millen. Maka dari itu biarkan Arash tetap menjalani tugas nya sebagai mata-mata yang di kirimkan Millen kesini, karena di sini juga Arash di awasi oleh orang-orang Millen." terang Rania lagi.
__ADS_1