
Sikap tenang yang di ambil Rania akhirnya goyah, ada rasa bersalah yang menggerogoti hatinya yang paling dalam, namun ada rasa kecewa saat Delta tak ingin mendengarkan segala penjelasannya.
"Apa Mas meragukan semua yang aku berikan ke Mas selama ini? Apa Mas juga nggak mau memberikan ku kesempatan untuk menjelaskan?" tanya Rania dengan nada kecewa melihat keengganan dari sang suami.
Dengan langkah mantap, Rania berjalan maju mendekati Delta. Delta menyentak Rania dengan keras.
"Mundur! aku tidak perlu mendengar penjelasan dari kamu, semuanya sudah terbukti!"
Rania tetaplah Rania, Ibu dua anak itu mengabaikan peringatan Delta dan terus melangkah maju membuat Delta menarik pelatuknya. Rania terus melangkah maju tanpa ragu.
"Tembak aku, Mas. Aku tau aku salah karena menutupi ini semua dari kamu, Mas. Tapi semua ini aku lakukan karena aku tidak ingin orang-orang terdekatku menjadi incaran para mafia itu, terlebih aku terlalu takut jika sesuatu menimpa kamu dan kedua bayi kita, Mas. Dan mengenai setiap tindakan ku selama ini bukanlah sebuah kebohongan melainkan semua itu berasal dari sini." ujar Rania sambil menunjuk dadanya.
"Kau tau, aku kecewa dengan mu, Ra."
Dor..Dor...Dor...
Jibril, Garan dan Alex memejamkan mata mereka kala Delta melesatkan pelurunya ke arah Rania.
Rania dapat merasakan angin dari lesatan peluruh yang melewati lengan tangannya.
Delta jatuh terduduk, ia menundukkan pandangan nya dan menangis dalam diam. Kekecewaan Delta terhadap Rania nyatanya tak membuat Delta memiliki kekuatan untuk membunuh istri yang sangat dia cintai, terlebih di antara mereka telah hadir dua sosok yang sangat mereka jaga dan cintai. Delta terlalu takut untuk melukai Rania, terlebih pria itu tidak bisa melihat istrinya itu terluka secuil kuku pun. Maka dari itu Delta merubah arah pistolnya ke arah dinding yang berada tepat di samping Rania.
__ADS_1
Jibril, Garan dan Alex yang melihat adegan itu hanya bisa menahan nafas mereka. Ketiga nya sungguh berpikir jika Delta akan bersungguh sungguh melenyapkan Rania detik itu juga. Karena selama ini Delta tidak akan pernah segan untuk menghabisi para pengkhianat tanpa ampun, tapi saat melihat itu ketiga nya tau jika Rania sudah berhasil merubah kebengisan dari seorang Delta.
Delta memukul mukul lantai dengan kepalan tangannya hingga darah segar perlahan mengalir dari tangannya. Delta berteriak marah.
"Arrgghhh!"
"Mas."
"Berhenti memanggilku dengan sebutan Mas, Rania! aku tidak ingin mendengar kamu bicara lagi!"
Rania memejamkan matanya, air matanya kembali mengalir dengan derasnya kala melihat raut kekecewaan dari suaminya itu.
"Aku memang seorang hacker sekaligus mata-mata di organisasi rahasia yang tidak mungkin aku sebutkan nama organisasi itu, tapi satu yang perlu kau tau Mas, aku tidak pernah berpikir ataupun ingin mematai-matai dunia yang kalian geluti terlebih mengkhianati kamu dengan memberikan informasi mengenai kalian."
Rania mengakhiri penjelasannya, Ibu dua anak itu menunggu jawab dari suaminya, namun nyata nya Delta memilih bungkam.
Delta secara perlahan membalikkan badannya, dan pergi meninggalkan ruang kerja nya, melihat itu Rania pun hendak menyusul suami nya namun Jibril menahan nya.
Dengan penuh kekecewaan Rania menepis tangan Jibril.
"Apa kau puas sekarang, hah? aku tak menyangka jika kamu dengan mudahnya membuka identitas kita kepada Delta terlebih di hadapan Alex dan Garan. Aku kecewa sama kamu, J." seru Rania penuh dengan kekecewaan terhadap pria yang sudah di anggap nya sahabat sejak duduk di bangku sekolah.
__ADS_1
"Delta berhak tau siapa kita sebenarnya, terlebih aku tidak ingin kamu menyelesaikan misi ini tanpa persetujuan dari Delta, bagaimana pun Delta itu bukan hanya suamimu saja, ia juga sahabat terbaikku. Maaf karena sudah mengecewakan kamu." balas Jibril penuh rasa bersalah.
"Tapi tidak seperti ini juga, J. Apa kau yakin setelah ini hubungan antara aku dan Delta akan baik-baik saja? tidak J, setelah ini mungkin jarak di antara kami akan semakin jauh, dan mungkin perceraian akan menjadi akhir dari hubungan kami."
Setelah mengatakan kekecewaan nya, Rania segera berlalu meninggalkan Jibril dan kedua sahabatnya.
"Kenapa kau melakukan ini, J?" tanya Garan.
"Maaf telah mengecewakan kalian, tapi semua ini aku lakukan demi keselamatan Rania, aku tidak ingin Delta terpuruk, terlebih kita juga tau jika saat ini Rania lah sumber kelemahan Delta saat ini. Kehilangan seseorang yang kita sayangi akan sulit untuk kita obati, oleh karena itu aku membuka identitas Rania di depan Delta. Agar keretakan rumah tangga mereka mengalihkan fokus Rania untuk misi terakhir kami dua hari lagi."
"Semua ini bukan hanya kemauan ku saja, melainkan ini semua atas kesepakatan antara aku, Alden dan kedua teman kami yang lainnya. Mereka tidak ingin sesuatu menimpah Rania terlebih mereka juga tau jika Rania memiliki dua buah hati yang membutuhkan kasih sayang dari sosok Rania maupun Delta. Maaf telah mengecewakan kalian."
Garan menepuk nepuk pundak Jibril.
"Aku mengerti maksudmu, J. Tapi bagaimana pun juga kita tidak boleh terlalu ikut campur dalam urusan privasi rumah tangga mereka. Tuhan tidak akan membiarkan seseorang mati demi membela kebenaran, yakinlah Tuhan akan selalu melindungi Delta maupun Rania."
"Sepeti katamu tadi, Rania bukanlah gadis biasa, dan itu semua sudah menjelaskan jika Rania jelas mampu melindungi dirinya sendiri. Kita hanya perlu melindungi mereka, dan tutup mulut kita sebagai mana mestinya."
Dua hari sudah Rania menunggu kedatangan Delta, di sepanjang malam Ibu dua anak itu selalu terjaga dari tidurnya, ia begitu merindukan suaminya itu.
Mas, tidak bisakah kau memberiku kesempatan, mengapa kau tak pernah kembali, apakah kau juga tak merindukan kami?
__ADS_1
Cairan bening mulai membasahi pipi wanita itu yang terlihat sedikit tirus. Tubuhnya semakin berguncang seiring tangis yang semakin pecah. Di kesunyian malam, Rania memilih membaringkan kedua buah hatinya di ranjang miliknya, malam ini ia berniat untuk tidur bersama kedua buah hatinya.
Tak membutuhkan waktu lama, Rania akhirnya tertidur bersama kedua buah hatinya, namun dalam tidurnya ia terlihat begitu gelisah, tepat saat itu, pintu kamar mereka di buka dari luar. Sosok yang begitu di rindukan oleh nya sudah berdiri di ambang pintu.