Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
89. Pertemuan Selia dan Galfin


__ADS_3

Tok..tok..


"Masuklah." seru Galfin.


"Ay, jelasin apa maksud kamu membawa orang asing kesini tanpa memberitahukan Uncle ataupun Ayah kamu?' tanya Galfin dengan nada lembut.


"Untuk itu, Ay minta maaf. Tapi Ay bisa pastikan jika Jihan wanita yang baik. Toh disini ada banyak bodyguard juga." cicit Ayla pelan.


"Hanya untuk kali ini saja, jika hal seperti ini terjadi lagi, Uncle bakalan hukum kamu, mengerti?" seru Galfin dengan nada tegas.


"Makasih Uncle, Uncle yang terbaik." jawab Ayla dengan senyum sumringah.


"Bersiaplah, sebentar lagi kita makan malam bersama, ajak Arta, Eve dan Jihan juga." ucap Galfin sebelum Ayla benar-benar keluar dari ruangan nya.


"Siap bos." balas Ayla.


Setelah kepergian Ayla, Galfin pun beranjak dari duduknya dan melangkah kan kakinya menuju mini bar, entah mengapa akhir-akhir ini ia merasakan kerisauan yang entah apa, siluet seseorang di masa lalunya kembali melintas di kepalanya, rintihan dan permohonan gadis itu seakan terus menghantuinya.


*****


Di sebuah rumah kecil, tampak seorang wanita terlihat kebingungan dan takut sesuatu menimpa putrinya itu yang entah di mana saat ini.


"Kemana kamu, sayang? semoga kau baik-baik saja." gumam sang wanita dengan tubuh gemetar menahan tangis.


Ya, wanita itu begitu mengkhawatirkan Putrinya yang hingga kini belum juga pulang. Semenjak menjadi seorang Ibu, ada satu ketakutan tersendiri yang di rasakan wanita itu, ia begitu takut berpisah dengan sang Putri, ia takut jika suatu saat nanti Ayah biologis dari sang Putri mengambil hak asuh anak tersebut. Meski ia sendiri mencoba menepis segala pikiran buruknya.


Wanita dewasa itu terus saja mondar mandir sembari pandangan nya terus terarah ke arah pintu masuk, hingga tak berselang lama terdengar deru mesin mobil yang terdengar berhenti tepat di depan rumah nya, dengan perasaan khawatir ia pun segera melangkah dengan cepat untuk memastikan siapa yang datang.


Kening wanita itu mengkerut saat melihat sebuah mobil mewah terparkir tepat di depan pagar rumahnya, namun seketika tubuhnya bergetar saat siluet seseorang yang di carinya belasan tahun tampak turun dari sisi kemudi di ikuti pintu samping kiri yang juga ikut terbuka dan menampakkan sosok sang putri yang juga turun.


"U-uncle, terima kasih sudah mau mengantarkan Jihan sampai rumah." ucap gadis itu dengan menunduk.


"Tidak apa, ya sudah kamu masuk sekarang, cuaca malam tak bagus untuk kesehatan, Uncle pergi dulu." pamit Galfin yang belum menyadari siluet seseorang yang berdiri tak jauh dari jarak mereka.

__ADS_1


Jihan pun mengangguk dan melambaikan tangan. "Hati-hati di jalan Uncle." seru Jihan lagi dan segera membuka pagar rumah nya dengan wajah bahagia.


"Dari mana saja kamu, Jihan?" tanya Selia dengan nada tegas.


"J-jihan abis main bersama teman-teman Jihan, Bu." cicit gadis itu dengan menunduk takut.


"Kau tau, Ibu sejak tadi mengkhawatirkan dirimu setengah mati, tapi kau malah enak-enakan bermain bersama teman-temanmu. Sudah berapa kali Ibu katakan padamu, untuk tidak mudah berteman dengan orang yang baru kau kenal, Nak." tegur Selia dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan Jihan, Bu. Jihan janji nggak bakalan buat Ibu khawatir lagi." lirih sang gadis dengan bulir airmata yang sudah mulai membasahi kedua pipi chubby nya.


"Ya sudah, jangan di ulangi lagi. Ibu nggak mau sesuatu menimpa mu. Apa kau sudah makan? Jika belum, bersihkan tubuhmu terlebih dahulu, Ibu akan menyiapkan makan malam untukmu." seru Selia lagi dengan nada lembut.


Melihat wajah sang Ibu yang sembab, Jihan pun mengangguk patuh dan berlalu pergi, meski ia sendiri sudah merasa kenyang, tapi ia tak ingin Ibunya kembali bersedih saat tau dirinya sudah makan bersama keluarga Ayla.


Setelah memastikan Jihan telah masuk ke rumahnya, barulah Galfin men stater mobilnya, namun baru beberapa meter mobil itu meninggalkan depan rumah Jihan, Galfin tak sengaja melihat sesuatu di kursi penumpang. Dengan segera Galfin pun menghentikan mobilnya, dan meraih benda tersebut.


"Liontin ini?" gumam Galfin, sembari ingatan nya terlempar pada belasan tahun lalu.


*Flashback On*


Galfin selalu menghabiskan hari-harinya bersama Selia, hingga tanpa di sadari oleh keduanya perasaan cinta timbul di antara keduanya, namun Galfin yang memiliki sifat gengsi yang tinggi tidak pernah mengungkapkan perasaannya kepada Selia kala itu, hingga tiba di mana keretakan rumah tangga sahabat sekaligus Tuan nya itu mengharuskan ia pergi meninggalkan Selia yang saat itu tengah hamil 3 Minggu.


Mendapati pria yang mulai bersemayam di hatinya pergi, Selia memilih diam dan tidak memberitahukan perihal kehamilannya. Sebelum kepergiannya, Galfin memberikan tunjangan hidup yang banyak untuk Selia dan tak lupa juga pria itu memberikan sebuah liontin di tangan Selia.


'Terima kasih untuk segalanya, simpan ini untuk jadi kenang kenangan jika kita pernah hidup bersama, maafkan sikapku yang selama ini selalu kasar kepadamu. Semoga kelak kau akan menemukan pria yang baik dan akan memperlakukan kamu dengan baik pula.'


'Bisakah kau tidak meninggalkan ku?'


'Maaf.'


Setelah mengatakan kata maaf, Galfin pun mengecup dahi Selia dan berlalu pergi tanpa menoleh ke arah Selia lagi. Melihat kepergian Galfin, tubuh Selia luruh ke lantai, tangis wanita itu pun pecah seketika.


'Tuhan... Apa aku tak bisa bahagia sedikit saja? Kenapa rasanya sakit sekali?' teriak Selia pilu.

__ADS_1


*Flashback Off*


"Tidak mungkin? Ini pasti kebetulan saja." gumam Galfin mencoba menepis segala pemikirannya.


Pria itu pun segera turun dan berjalan menuju rumah Jihan kembali, karena ia yakin jika gadis remaja itu akan kelimpungan mencari liontin tersebut. Entah mengapa, setibanya pria itu di depan pintu rumah Jihan mendadak ia merasakan debaran jantungnya berdetak kencang.


Tok...


Tok...


"Iya, tunggu sebentar." sahut seseorang dari dalam rumah.


Seketika tubuh pria itu menjadi kaku, entah mengapa ia merasa sangat mengenali suara lembut tersebut. Jantung pria itu kembali berdetak kencang, namun sebisa mungkin ia bersikap tenang. Tak berselang lama, pintu rumah itu pun terbuka, dan menampakkan sosok wanita dewasa yang terlihat syok menatap ke arahnya. Begitu pun dengan pria itu yang tak kalah syok dan mematung melihat siluet wanita di depannya.


"Cari siapa Tuan?" tanya wanita itu yang sudah kembali sadar dari keterkejutan nya.


Entah mengapa lidah pria itu terasa kelu untuk menjawab pertanyaan wanita di depannya.


Melihat pria itu yang terus saja bungkam, membuat Selia menjadi kesal dan marah.


"Jika tidak ada perlu, silahkan tinggalkan rumah ini!" usir Selia dengan wajah datarnya.


Ada rasa bahagia dan kerinduan yang mendalam ketika melihat pria yang sangat di cintainya hingga saat ini, berdiri tepat di depannya, namun mengingat pria itu yang pergi meninggalkan dirinya belasan tahun lalu, membuat wanita itu menepis segala rasa bahagia itu. Tanpa permisi lagi, wanita itu menutup pintu rumah nya kembali, namun gerakan wanita itu kalah cepat saat tangan pria itu menahan pintu tersebut untuk tertutup.


"Bu, siapa yang bertamu malam-malam begini?" suara lembut itu berhasil membuat atensi keduanya teralihkan.


Mendengar suara Jihan yang memanggil wanita di depannya dengan sebutan Ibu, membuat banyak tanya dalam benak Galfin.


'Apa Jihan anak Selia dengan suaminya? Tapi mengapa aku merasa ada satu ikatan antara aku dan Jihan?'


"Apa Jihan anakmu?" tanya Galfin pada akhirnya.


"Itu bukan urusanmu. Pergilah!" ketus Selia yang mulai tidak nyaman.

__ADS_1


"Uncle, ada apa? Oh iya, Uncle masuklah. Bu, ada tamu kok tidak di ajak masuk?" ada rasa bahagia saat melihat pertemuan kedua orang tuanya.


Mendengar ucapan sang Putri, Selia hanya bisa menghembuskan nafas frustasinya, ia tau jika momen seperti inilah yang sudah sangat di nantikan oleh Jihan selama ini. Tak ingin membuat hati Jihan sedih, Selia akhirnya menyingkir dari pintu dan membiarkan Galfin masuk.


__ADS_2