Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
65. Sisi lain Rania


__ADS_3

Di dalam perjalanan Delta tidak lagi bersuara, pria itu kini sibuk dengan pemikirannya. Ada sekelebat bayangan yang berputar di kepalanya, rasa cemburu kala tau masa lalu di antara sang istri dan saingan bisnisnya membuat ia meradang namun sebisa mungkin ia bersikap tenang dan tidak ingin para sahabatnya tau jika saat ini ia sedang di landa kecemburuan.


Di dalam perjalanan menuju hutan pinus mobil mereka di ikuti beberapa mobil dari belakang, Alex yang sadar jika mobil mereka di ikuti mulai menaiki kecepatan mobil mereka. Melihat Alex yang terus menerus menatap kaca spion membuat ketiga pria di sampingnya tau jika situasi mereka saat ini sedang tidak baik-baik saja. Delta terlebih dahulu mengeluarkan pistolnya, pria itu pun menyembulkan kepalanya keluar dari jendela dan mulai menembaki ban mobil sang musuh. Satu tembakan yang di lesatkan oleh Delta tepat mengenai ban mobil tersebut hingga tak berselang beberapa detik terdengar benturan yang cukup kuat dari arah belakang mereka.


"Berapa lama lagi kita tiba di sana?" tanya Delta.


"Satu jam lagi kita tiba di sana." jawab Jibril.


"Tambahkan laju mobil nya, Lex. Aku tidak ingin sesuatu menimpa istriku." titahnya.


"Ok." balas Alex santai.


Setelah berhasil mengecoh mobil para musuh, Alex pun kembali melajukan mobil tersebut, sudah hampir setengah perjalanan memasuki hutan pinus, kembali mobil mereka di hadang belasan mobil. Akhirnya Alex pun memberhentikan mobil mereka di tengah-tengah para musuh, Delta beserta ketiga sahabat nya sudah bersiap-siap dengan pistol di tangan mereka masing-masing.


Tanpa rasa takut, Delta pun segera turun dari mobil, ia menatap tajam para pria yang menghadang perjalanannya.


Garan dan Alex segera membentengi Delta agar tidak terkena serangan. Mereka meneliti satu persatu pria-pria yang menghadang mereka.


Dor! Dor! Dor!


Delta beserta kedua sahabatnya sudah terkepung, mereka berada di tengah dan dikepung dari empat penjuru. Semua orang yang ada di tempat itu mengarahkan pistol mereka ke sasaran masing-masing.

__ADS_1


"Kembali lah Tuan, anda di larang keras melewati area ini!" teriak salah seorang pria dengan suara lantang.


"Jangan banyak bacot, lawan kami jika kalian berani!" tantang Alex dengan seringai licik.


Para pria itu terbahak kala mendengar seruan Alex. "Dari jumlah saja kalian sudah kala jauh. Serang mereka!" ejek sang pria dan memerintahkan teman-temannya untuk menyerang Delta dan kedua sahabatnya.


Dor! Dor! Dor!


Krek! Bugh! Prak!


Suara tembakan dan baku hantam mewarnai duel di antara kedua kubu. Meski kubu Delta hanya beserta kan tiga orang tapi sungguh ketiga nya dapat menyeimbangi kubu para musuh yang berjumlah sekitar 60 orang. Delta dan kedua sahabatnya mulai kewalahan menghadapi para musuh meski tak banyak juga yang sudah berhasil mereka lumpuhkan.


Dor! Dor!


"Delta!" teriak Jibril saat sudah keluar dari mobil. Pria itu pun berlari ke arah Delta dengan tangan yang terus menerus menembak ke arah musuh yang hendak mencegahnya.


Bugh! Krek!


Jibril menendang perut pria yang memukul Delta. Sorot mata pria itu berubah tajam, ia pun mengunci pergerakan musuh, dengan membabi buta ia memukul musuh hingga terkapar tak berdaya. Tanpa belas kasih, Jibril memutar kepala lawan hingga menoleh 180 derajat.


"D!" Jibril melangkah menghampiri Delta yang sudah terkapar tak berdaya dengan nafas tersengal.

__ADS_1


"J, awas!" teriak Garan dari arah sebelah kanan memberi peringatan.


Saat menyadari beberapa lawan telah berjalan mendekat, Jibril segera mengambil SW ⁵⁰⁰ dari balik pinggang nya dan satu dari pinggang Delta. Dua pistol dengan kemampuan terbaik sudah berada di kedua tangannya. Kemampuan dalam mengendalikan senjata api yang unggul, Jibril segera mengarahkan kedua pistol tersebut ke arah kepala para lawan, tak lupa juga ia menembaki ban mobil para musuh.


Melihat salah satu mobil yang hendak berlalu dari area itu, dengan sigap Garan menembaki ban mobil tersebut. Mobil itu pun terguling hingga jatuh ke arah tebing.


Kediaman Brian.


Dari dalam ruangan Brian hanya menyaksikan perdebatan antara Rania dan juga rivalnya. Jawaban atas pertanyaannya kepada Rania tadi akhirnya terjawab sudah, Brian berjanji tidak akan membiarkan siapapun menyentuh sahabat sekaligus cinta pertamanya itu. Meski nyawanya sebagai taruhan, ia akan tetap melindungi Rania.


Tak akan aku biarkan siapapun menyentuhmu Ran, akan aku habisi siapa saja yang berniat melukai kamu dan juga kedua anakmu!


"Ternyata kau memiliki mulut yang tajam sama seperti Ayahmu!" seru Barack dengan nada mengejek.


"Berhentilah mencari perkara dengan ku ataupun keluarga ku, Paman! karena aku tidak akan pernah melepaskan siapapun yang berani menyentuh orang-orang terdekatku!" seru Rania dengan sorot mata yang begitu dingin dan datar.


"Sayang nya Paman mu ini sudah berhasil menyekap Ayahmu, dan mungkin sebentar lagi kepalanya akan di terima di kediaman mu!"


"Mata di balas mata, kau tidak akan pernah bisa lari dari genggamanku, Paman!" desis Rania, dengan gerakan cepat ia menembak punggung Barack.


"Aarrgghh!" pekik Barack dengan suara melengking kala bahunya terkena timah panas yang di lepaskan Rania.

__ADS_1


Seketika lobby kediaman Brian menjadi arena saling tembak menembak, beberapa kali anak buah Barack melepaskan tembakan ke arah Rania namun selalu saja gagal.


Brian, pria itu masih saja beta berada di dalam ruangan nya, ia belum juga bertindak ataupun meminta para anak buah nya untuk membantu Rania, ia cukup tau keahlian Rania dalam menembak dan bela diri yang mumpuni dari cinta pertamanya.


__ADS_2