Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
53. Janda kaya


__ADS_3

Setelah acara makan malam usai, kedua wanita beda usia itu menghabiskan waktu malam mereka dengan duduk di gazebo, kedua wanita itu tampak bersenda gurau, namun beda hal nya dengan kedua pria mereka yang saat ini masih betah duduk di ruang makan dan tampak serius dengan pembicaraan mereka.


"Bagaimana perkembangan hotel kamu di Turkey? Ayah dengar kamu menjalin kerja sama dengan Hanthony Corp, apa benar?" tanya Ashraf.


"Semua nya berjalan lancar Dad, tinggal 20% lagi, mungkin bulan depan udah di resmikan. Dan mengenai kerja sama itu tidak benar, berita itu hanya berita angin saja, karena waktu itu Ayah Burack mengajak Delta sama Rani buat makan malam bersama tidak lebih." jelas Delta detail, mendengar sang anak menyebut pewaris Hanthony Corp dengan sebutan Ayah membuat dahi Ashraf mengerut seketika.


"Sejak kapan kamu memiliki Ayah selain Daddy?" tanya Ashraf penuh selidik.


"Oh itu, maaf Dad. Delta lupa membicarakan itu kepada Dad dan Mom. Sebenarnya Rania anak dari Ayah Burack dan Bunda Lethisa. Nama lain dari Rania yaitu Arezha Ranindia Hanthony." jelas Delta.


Ashraf membola saat mengetahui siapa sosok menantunya yang sebenarnya, pria dewasa itu pun mengatur degup jantungnya.


"Bukannya Rani anak Hendro? dan waktu itu juga Ayah sudah menyelidiki identitas Rani dan semua nya bersih, kenapa sekarang ia ada kaitannya sama Tuan Burack?" tanya Ashraf yang merasa aneh.


Delta pun mulai menceritakan awal mula Rania di titipkan kepada Hendro, hingga keterkaitan Julio bersama kedua orang tua Rania. Hingga obrolan keduanya terhenti saat menyadari kedatangan dua wanita beda usia yang tak lain istri mereka.


"Ck! kalian masih di sini? kenapa belum pergi juga!" kesal Dania saat masih mendapati kedua pria tersebut.


"Mom udah ah, jangan ikutan ngambek kayak Rani dong, ingat umur Mom." celetuk Ashraf sambil menarik sang istri dalam dekapannya.


Delta pun mengikuti tingkah sang Daddy dengan menarik istrinya dalam dekapan nya juga. Rania dan Dania saling melempar senyum devil.


"Apa? pergi sana, aku nggak mau pulang ke mansion sebelum Mas berhenti bersikap posesif yang membuat menjengkelkan." ketus Rania sambil mendorong tubuh suaminya.

__ADS_1


"Okey Mas minta maaf, Mas lakuin itu semua karena Mas nggak mau kamu kecapean terlebih Mas takut jika sesuatu terjadi sama kamu di saat Mas nggak ada di samping kamu. Maafin sikap posesif Mas yah? Mas janji nggak bakalan bersikap seperti itu lagi kok, jangan ngambek lagi yah." bujuk Delta dengan begitu manjanya.


"Aku bakalan maafin Mas, tapi ada syaratnya, bagaimana?" tanya Rania dengan senyum devil nya.


" Apapun itu, Mas bakalan kabulkan asal jangan nyuruh Mas buat masak di malam hari selebihnya Mas bakalan turutin permintaan kamu." jawab Delta dengan tegas nya.


"Apapun itu?" tanya Rania memastikan.


"Yes, apapun itu Mas bakalan turutin." balas Delta dengan yakin.


"Aku mau semua aset atas nama Mas di limpahkan atas namaku, itu pun jika Mas bersungguh sungguh mengharap kan maaf dari aku." seru Rania sambil melempar pandangnya ke arah sang Mommy.


"Hanya itu? baiklah, Mas bakalan minta Galfin mengurusnya malam ini." jawab Delta tanpa ada sedikit pun keraguan, dan di balik itu semua, ia tau siapa yang mencetuskan ide gila ini kepada istrinya, Delta pun mendelik tak suka ke arah sang Mommy yang selalu saja mencuci otak istrinya. Yang di tatap pun hanya nyengir kuda.


"Terima kasih Mas, kelak jika Mas ingin selingkuh, selingkuh aja, toh Mas sekarang udah tidak memiliki apapun. Dan saat itu juga aku bakalan jadi janda kaya. Ha..ha." celetuk Rania tanpa dosa.


Tukk


Mendengar ucapan sang istri, Delta menyentil dahi istrinya itu sambil melempar tatapan tajamnya. Rania merintih kesakitan kala dahinya di sentil dengan kuat oleh sang suami.


"Jangan pernah berpikir seperti itu, sampai kapan pun cinta dan kasih sayang Mas hanya untuk kamu dan anak kita." ujar Delta dengan sungguh-sungguh.


Rania pun mengulum senyum, wanita hamil itu pun tak tanggung-tanggung memberikan kecupan kecil di bibir suaminya di depan kedua mertuanya.

__ADS_1


"Mom Dad, kita ke kamar dulu yah. Mau bikin cucu yang banyak buat kalian." celetuk Delta.


"Jangan gila kamu! di perut istri mu saja belum keluar udah mau nambah anak, jangan aneh-aneh deh kamu." sembur Dania dengan tatapan horor.


Delta pun merangkul pundak istrinya daan berlalu pergi dari hadapan kedua orang tuanya.


"Semangat meluluhkan kerasnya batu Dad." teriak Delta saat lift akan tertutup. Rania hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya.


Sejak acara ngambek kan Rania, Delta memilih tinggal di mansion orang tua nya, mengingat kelahiran sang istri yang tinggal menghitung hari dan dirinya yang begitu sibuk dengan beberapa pekerjaan di luar kota mengharuskan Delta meninggalkan sang istri bersama kedua orang tuanya.


Tepat jam makan siang Rania merasakan keram yang tak henti-hentinya, beberapa kali juga ia meringis kesakitan di area perut, Dania yang melihat nya pun tampak siaga berada di samping Rania.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dania terlihat khawatir saat beberapa kali mendengar Rania meringis kesakitan.


"Mom, perut Rani sakit sekali. Rani nggak tahan lagi." keluh Rania jujur. Sekarang bukan hanya keringat yang bercucuran di wajah cantik nya melainkan air mata juga.


"Ya sudah kita ke rumah sakit sekarang yah. Mom telpon Daddy sama Delta dulu, biar mereka bisa menyusul ke sana." ucap Dania menenangkan sang menantu yang terlihat menahan sakit pada perut nya.


Dania pun meminta Alice menyiapkan segala keperluan Rania, wanita dewasa itu tampak mengeram kesal karena sejak tadi ia mencoba menghubungi Delta maupun Galfin tak satu pun dari keduanya menjawab panggilan telpon nya. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Dania pun segera menuntun Rania menuju mobil.


"Sayang, Mom nggak bisa hubungi Delta sama Galfin, mungkin mereka sedang meeting penting, Dad juga sudah meluncur ke rumah sakit." terang Dania yang tau jika sang menantu mengharapkan sosok sang suami.


"Nggak pa-pa Mom." ujar Rania lirih.

__ADS_1


__ADS_2