
Setelah mendapat perintah dari sang Tuan, Galfin pun segera mengerjakan perintah tersebut meski sebenarnya ia tidak yakin dengan apa yang akan ia lakukan. Sepeninggalan Galfin, Delta memilih menenangkan dirinya di kamar pribadi miliknya yang berada di markas.
Dengan langkah gontai Delta berjalan memasuki kamar mandi, tanpa melepas pakaian yang ia kenakan Delta berdiri di bawah shower dan mengguyur tubuhnya, tubuh nya perlahan lahan merosot ke lantai kamar mandi, berulang kali ia memukul dinding kamar mandi itu hingga darah segar tampak keluar dari punggung tangannya hingga memenuhi kamar mandi tersebut.
Setelah melampiaskan semua rasa kecewa, marah dan sedihnya, perlahan lahan ia pun bangkit dan segera keluar dari kamar mandi. Aura dingin dalam diri Delta seakan kembali seperti sediakala, sorot matanya begitu tajam. Para bawahan nya yang berada di arena pelatihan tampak menunduk takut saat melihat aura dingin dan begitu mengintimidasi dari sosok Delta yang hampir setahun lama nya tidak terlihat.
"Max, persiapkan semua nya mulai dari sekarang, lusa nanti kita akan segera berangkat, dan pastikan tidak ada satu pun yang terlewatkan." titahnya kepada salah satu orang kepercayaan nya.
"Semua persiapan nya sudah hampir rangkum, mungkin hanya tinggal beberapa saja yang belum selesai, segera mungkin akan saya selesaikan hari ini bos." jelas Max.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu, temui aku satu jam lagi di ruangan ku." ucapnya lagi dan segera membalikkan badan nya meninggalkan Max di sana.
"Baik bos." balas Max dan kembali fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan.
****
Di lain tempat ada Galfin yang sedang berdiskusi dengan salah satu pengacara kepercayaan Delta. Dengan penuh pertimbangan akhirnya Galfin pun mengikuti kemauan Delta untuk menggugat cerai Nyonya muda nya itu.
"Pastikan semuanya selesai sebelum keberangkatan Tuan lusa nanti. Dan ingatlah untuk tidak membocorkan perceraian Tuan kepada siapapun termasuk Tuan besar dan juga Nyonya besar, apa kau mengerti?" tekan Galfin sebelum meninggalkan ruangan sang pengacara.
"Segera di laksanakan Tuan, dan saya menjamin tidak akan ada yang tau perihal perceraian Tuan muda dan Nyonya muda." balas pria itu mantap.
"Baiklah, segera kabari aku jika semua nya sudah selesai, dan ingat pastikan surat gugatan itu langsung di terima oleh Nyonya muda." ucap Galfin dan segera berlalu keluar dari ruangan sang pengacara.
Di dalam perjalanan kembali ke markas, Galfin tak lupa memantau segala pergerakan musuh melalui ponselnya yang sudah terhubung dengan seluruh CCTV yang dapat menjangkau keberadaan dan gerak gerik para musuh mereka.
****
__ADS_1
Setiba nya di rumah sakit Rania segera menghampiri dua sosok pria yang sedang duduk dalam diam di depan ruang operasi. Menyadari kehadiran sang pimpinan, kedua pria itu pun segera bangkit dari duduk dan membungkuk ke arah Rania sebagai tanda hormat.
"Bagaimana kondisi Gailel?" tanya Rania penuh harap.
"Sudah 4 jam berlalu sejak Gail di bawah masuk, tapi tidak satu pun dokter maupun perawat memberitahukan kondisi Gail pada kami, Signora." jelas Alfi.
"Gian, seret direktur rumah sakit ke hadapan ku saat ini." seru nya lantang dan penuh dengan intimidasi.
Mendapatkan perintah dari sang pimpinan, Gian pun segera mengangguk dan pergi dari sana. Beda hal nya dengan para sahabat Rania dan Delta yang tampak menegang saat melihat dan mendengar barito tajam penuh intimidasi dari sosok Rania. Tapi itu tidak berlaku untuk Gian dan kedua sahabatnya yang tampak santai saat mendengar barito Rania yang bagi mereka ialah alunan lagu klasik yang menenangkan hati.
Alfin dan Brayen pun mempersilahkan Rania untuk duduk terlebih dahulu sambil menunggu kedatangan Gian dan direktur rumah sakit.
"Ayen sabotase CCTV rumah sakit ini, terlebih bobol CCTV yang berada di ruangan Gailel! fokus mu kali ini hanya ruangan Gailel." titah nya.
"Baik Signora." jawab Ayen, pria itu pun berpamitan untuk mengambil laptop nya di mobil.
"Pria itu tidak sebodoh yang kalian kira, pria psiko itu tidak akan tinggal diam. Liat saja apa yang akan terjadi setelah ini." balas Rania santai.
Rania pun memberi isyarat mata kepada Alfin, dan Alfin sendiri segera menganggukkan kepala nya seperti tau kondisi saat ini, dan segera berlalu pergi dari sana. Setelah kepergian Alfin, kini terlihat Gian yang berjalan mendekat sambil di ikuti beberapa pria berpakaian dokter.
"Katakan siapa yang menyuruhmu?" tanya Rania to the poin.
"A-apa maksud anda Nyonya? saya sungguh tidak mengerti dengan pertanyaan anda." jawab pria berumur 51 tahun itu dengan gugupnya.
"Kau salah memilih lawan, Romanov! katakan atau rumah sakit ini akan rata dengan tanah! dan aku pastikan jika tak satu pun di antara kalian berlima bisa keluar hidup-hidup dari sini!" seringai licik pun terbit di sudut bibir Rania.
"M-maafkan saya, Signora. Kami terpaksa melakukan ini karena keluarga kami di sandera oleh pria itu." ucap Romanov dengan tubuh bergetar, takut melihat kemarahan wanita di depannya.
__ADS_1
"Ck' apa kau pikir aku bodoh!" desis nya dengan sorot mata tajam. "Mulai hari ini, rumah sakit ini akan di pimpin oleh dr Belva, dan jangan pernah menunjukkan wajah kalian lagi di hadapan ku!" ucap Rania penuh dengan penekanan.
Tubuh kelima petinggi rumah sakit itu lemas seketika saat mendengar keputusan dari seorang Rania yang mereka ketahui sebagai pemilik penuh rumah sakit tersebut. Dengan langkah gontai kelima petinggi itu pun segera undur diri dari hadapan Rania.
"Gi, minta dokter Belva mengambil alih operasi Gail saat ini." titah nya kepada Gian.
"Baik Signora." balas Gian dan berlalu pergi.
Sang sahabat pun hanya diam mengamati ekspresi Rania yang saat ini berbeda dari biasanya, aura membunuh terlihat jelas dari sorot mata Rania kala ketenangannya di usik.
*****
"Di mana Rania?" tanya Dania saat tak mendapati sosok menantunya.
"Mom, biar Delta aja yang jagain si kembar. Mom istirahatlah." ucap Delta tanpa mau menjawab pertanyaan sang Mommy.
"Ada apa? ayo cerita ke Mommy, tidak biasanya kau kesini tanpa istrimu." tanya Dania khawatir saat melihat wajah sendu sang putra.
"Semuanya baik-baik saja Mom, Delta hanya ingin bermain bersama si kembar." balas Delta tak ingin sang Mommy kepikiran dengan masalah nya bersama Rania.
"Ya sudah, Mom mau nyiapin makan malam dulu, jika perlu sesuatu panggil Mom saja." ucap Dania tak ingin bertanya lagi saat melihat keengganan sang putra untuk bercerita.
Setelah kepergian sang Mommy, Delta pun menggendong kedua bayi nya menuju ke kamar miliknya. Rasa kecewa nya terhadap sang istri kian menyeruak kala tau jika sang istri masih saja betah berlama lama di rumah sakit tanpa memikirkan dirinya serta kedua bayi mereka.
'Maafin Delta, Mom. Delta nggak bermaksud nutupin ini semua dari Mom dan Daddy.'
Waktu jam makan malam pun tiba, di ruang makan sudah ada Ayah Ashraf yang duduk menunggu kehadiran sang anak dan kedua cucu nya. Tak berselang lama, Delta tampak menuruni anak tangga dengan menggendong kedua buah hatinya.
__ADS_1
Kedua bayi kembar itu pun di ambil alih oleh Lice dan Nina, tanpa berbicara Delta segera duduk dan mulai menyantap makan malam yang di sodorkan oleh sang Mommy. Melihat kebungkaman sang anak, membuat Daddy Ashraf dan Mommy Dania saling melempar pandang.