
Markas Balck Butterfly
"Tuan, sebentar lagi Nyonya Rania akan tiba." ujar seorang pria pada pimpinannya.
"Jangan berani menyentuhnya, pastikan ia disambut dengan begitu baik di sini. Hanya dia yang bisa membantuku." titahnya penuh dengan penekanan.
"Baik Tuan." jawab sang asisten pria itu dan berlalu keluar dari ruangan sang pimpinan.
Sebuah senyum tersungging di wajah tampan dan dingin pria itu, pertemuan ini sudah sangat di nantikan oleh nya. Pasalnya sudah sejak dua tahun yang lalu ia meminta waktu luang dari Rania untuk saling bertatap muka namun selalu saja di tolak mentah-mentah oleh Rania sendiri. Rania selalu saja beralasan saat pimpinan Balck Butterfly meminta dirinya untuk bertemu, namun sang pimpinan klan tersebut tak sedikit pun merasa tersinggung atau pun marah kala permintaan nya selalu di tolak oleh Reina.
Sekian lama akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Rania. Kau wanita pertama yang membuat segala kekejaman ku berubah. Andaikan kau belum menikah dengan Ammar, mungkin aku bisa memiliki kamu seutuhnya. Tetaplah berbahagia bersama Ammar karena aku tidak akan pernah membiarkan pria itu menyakiti kamu. Dan jika waktu itu datang aku pastikan akan mengambil mu darinya selamanya.
Tak berselang lama, sebuah mobil memasuki pelataran rumah mewah itu, seorang wanita cantik mengenakan tang top berwarna hitam di padukan dengan celana panjang jeans melangkah keluar dari balik pintu mobil.
Seorang pria pun dengan sigap membukakan pintu untuk wanita cantik tersebut.
"Di mana B?" tanya Rania dengan wajah datarnya.
"Tuan sudah menunggu anda, Nyonya. Mari saya antarkan anda ke dalam." balas pria itu sembari membungkuk sopan.
Dengan langkah pelan dan begitu anggun, Rania pun perlahan melangkah memasuki lobby rumah mewah tersebut, Rania terus saja melangkah mengikuti langkah pria di depannya, langkahnya terhenti saat pria itu berhenti tepat di salah satu pintu sebuah ruangan dan Rania sama sekali tidak terlihat gugup ataupun takut kala di antarkan ke sebuah ruangan di mana pria yang menjadi objek nya saat ini berada.
"Tuan, Nyonya sudah tiba." ucapnya.
"Persilahkan Nyonya Rania masuk." balas pria itu dari dalam.
"Nyonya masuklah, Tuan sudah menantikan anda." jelas pria itu lagi sambil membukakan pintu ruangan tersebut.
__ADS_1
Rania pun melangkah masuk ke ruangan tersebut. Kedatangan nya di sambut dengan sebuah senyum tulus dari pimpinan Balck Butterfly.
"Selamat datang, Rania. Dan terima telah memenuhi permintaan saya untuk datang." sapa pria bernama B tersebut dengan begitu lembut.
"Bebaskan Galfin, maka kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan." seru Rania datar dan penuh penekanan.
"Baiklah, aku akui hanya kau yang mampu membuatku menjadi orang bodoh. Maka dari itu, permintaanmu akan segera aku kabulkan." balas pria itu tanpa pikir panjang.
Mendengar perkataan pria itu Rania hanya memutar bola matanya malas.
"Ck' kau ini, sudah berapa kali aku katakan kepadamu B, aku sudah menikah, dan kamu tau siapa suamiku, maka dari itu berhentilah bersikap lebay seperti itu." gerutu Rania penuh kekesalan.
"Duduklah, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan kepadamu, Ran." pinta sang pria sambil melangkah mendekati arah sofa.
"Apa yang ingin kau ketahui? waktuku tidak banyak." tanya Rania kembali ke mode serius.
"Apa hubungan mu dengan Jeremy?" tanya pria itu penuh dengan keingintahuan.
"Jeremy memintaku untuk membunuh kamu dan seluruh orang-orang terdekatmu." seru pria itu dengan mimik wajah yang terlihat datar.
Rania mengepalkan tangannya begitu erat, ada rasa marah yang membuncah saat pernyataan pria tersebut. Dengan sorot mata yang begitu tajam ia berucap.
"Dan kau tidak mungkin melakukannya, Brian! jangan pernah menyentuh orang-orang terdekatku karena itu akan berakibat fatal bagi kelangsungan klan kalian! aku tidak pernah bermain main dengan ucapanku!" seruan penuh dengan ancaman itu membuat pria tersebut bergidik ngeri.
"Berhenti mencari perkara dengan klan suami ku, karena aku tidak suka jika ada yang mengusiknya. Kau pasti tau apa akibat nya jika membuat ku marah!" ucap nya lagi dan berlalu keluar dari ruangan pria tersebut.
Aku tidak mungkin melukai kamu, Ra. Terlebih aku tau apa yang bisa kamu lakukan.
__ADS_1
Kediaman Delta dan Rania.
Sudah satu jam berlalu, para orang tua tampak khawatir dengan sosok Rania yang sejak tadi berpamitan untuk menemui sahabatnya.
"Mom, kenapa Rania belum juga kembali? Bunda takut sesuatu menimpa nya." ucap Lethisa dengan raut khawatir.
"Iya Bun, Mom juga takut, seharusnya tadi itu kita tidak mengijinkan Rania pergi. Apa jangan-jangan Rania pergi menemui pria itu?" raut kecemasan dan ketakutan kian menyelimuti wajah kedua perempuan itu.
"Ada apa? kenapa wajah kalian seperti itu?" tanya Tuan besar saat mendapati wajah ketakutan para perempuan tersebut.
Lethisa dan Dania saling melempar pandang, kedua wanita itu begitu takut untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Di mana Arezha?" tanya pria tua itu saat tidak mendapati sang cucu.
"Apa yang terjadi? dan dimana Arezha?" tanya pria itu lagi dengan suara yang naik satu oktaf.
"A-rezha pamit ke supermarket depan untuk menemui sahabatnya, Papah." jawab Dania dengan tergagap.
"Apa yang kalian lakukan? Burack Ashraf!" teriak pria tua itu dengan marah.
"Iya, ada apa Pah?" tanya kedua pria itu serempak.
"Cari Arezha sekarang! Papah tidak ingin sesuatu menimpa nya! kerahkan seluruh pasukan elit kita untuk mencarinya, cepat!" titahnya dengan penuh intimidasi.
"Apa yang terjadi? kemana Arezha?" tanya Burack bingung.
"Istri kalian mengijinkan Arezha kita pergi menemui sahabatnya tanpa ada pengawalan dari orang-orang kita." jawab nya marah.
__ADS_1
"Papah tenang dulu, Burack beserta Daddy Ashraf akan mencari keberadaan Arezha. " ujar Burack menenangkan sang Ayah yang sudah terlihat begitu marah.
Setelah nya kedua pria itu pun segera berlalu pergi, mereka juga sama khawatirnya dengan kedua istri mereka.