
Setelah acara makan siang usai, kedua orang itu tampak duduk santai bersenda gurau, sesekali Delta melempar canda hingga tawa renyah istri nya itu terdengar hingga keluar ruangan meski ruangan itu kedap suara tetapi orang yang berada di balik pintu dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang di perbincangkan suami istri itu.
Kedua tangan orang di balik pintu itu mengepal erat, wajah nya berubah marah, ia bersusah payah menarik perhatian Delta tapi pada kenyataan pria itu sudah beristri dan sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah. Ia bertekad akan mengambil Delta dan menjadi kan pria dingin itu sebagai kekasih nya.
Akan ku rebut Delta kembali! Delta hanya milik ku, milikku wanita kecil.
"Sayang, apa perlengkapan Baby nya udah lengkap?" tanya Delta seraya merebahkan kepala nya pada paha istri nya itu.
"Tinggal beberapa saja Mas yang belum sempat aku beli. Emang kenapa?" tanya Rania dengan satu tangan mengelus rahang tegas suaminya.
"Bagaimana jika besok kita pergi ke mall, dan membeli perlengkapan nya biar semua nya beres." ajak Delta dengan tangan mengelus lembut perut sang istri.
"Hmm, baiklah."
"Hey boy, Ayah sudah tidak sabar menunggu kehadiran mu. Tumbuhlah sehat di dalam sana. Ayah yakin kau akan menjadi saingan Ayah kelak nanti."
"Sabarlah, tunggu dua bulan lagi Mas, kita pasti akan bertemu dengan nya." sahut Rania mengelus lengan suaminya yang sedang berada di atas perut nya.
"Ya, aku akan sabar menunggu waktu kedatangan nya." seru Delta sembari beranjak dan mencium kening istri nya itu lagi dan lagi.
Delta pun menuntun Rania menuju kamar pribadi nya, setelah memastikan sang istri berbaring dan memberikan kecupan lembut, ia pun berlalu kembali ke ruangan nya. Untuk menyelesaikan pekerjaan nya, agar secepat mungkin sebelum waktu pulang kantor mereka sudah turun ke lobby.
Rania yang sudah di dera kantuk pun, akhirnya terlelap. Hari semakin sore, di mana waktu jam pulang kantor akan tiba sebentar lagi, di saat itu juga Rania terbangun. Dengan perlahan ia membangunkan tubuhnya dan di saat itu pula pintu ruangan yang di buka oleh suami nya.
__ADS_1
"Sudah bangun ternyata." seru Delta sembari berjalan mendekati sang istri yang masih berada di atas ranjang.
"Hmm." gumam Rania menyandarkan tubuh nya pada dashboard ranjang.
"Ayo pulang." ajak Delta sambil merapikan anak rambut sang istri yang berantakan.
"Tunggu bentar, Mas. Masa iya aku keluar dengan wajah seperti ini. Aku ke toilet dulu membasuh wajahku terlebih dahulu." seru Rania dan segera beranjak dari ranjang.
"Mau Mas temani nggak?" tanya Delta dengan senyum.
"Tidak perlu! kamar mandi nya juga ada di sini." Rania memutar bola mata nya malas, ke posesifan Delta makin hari makin menjadi.
Sementara menunggu sang istri yang masih berada di kamar mandi, Delta pun merapikan barang-barang sang istri yang berceceran di ranjang. Namun urung, saat sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel istri nya. Membuat perhatian Delta teralihkan.
Delta melirik ke arah pintu kamar mandi, dan kembali menatap ponsel istri nya dan membuka pesan tersebut.
Rara, aku merindukan kamu sayang.
Sepenggal kata yang berhasil membuat Delta mengepalkan tangan nya. Sorot mata mengelap saat suara pintu terbuka dan tampak sosok sang istri yang terlihat segar sesaat sudah membasuh wajah nya.
"Ada apa, Mas?" tanya Rania saat melihat wajah sang suami yang terlihat suram dengan ponsel nya yang di genggam erat oleh sang suami.
"Ada pesan masuk, tapi tanpa nama." balas Delta datar dengan sorot mata yang begitu dingin.
__ADS_1
Tatapan suami nya yang berubah datar, membuat Rania mengerutkan alis heran, ia yakin jika itu bukan pesan biasa hingga memicu emosi suami nya. Dengan langkah cepat Rania pun mengambil alih ponsel nya dari genggaman Delta.
Deg,
Tubuh Rania membeku, ia sudah tau siapa yang mengirimi nya pesan karena panggilan sayang itu hanya seseorang lah yang tau, tak ingin suami nya berburuk sangka Rania pun segera memasukkan ponsel nya ke dalam tas.
"Ayo Mas kita pulang." ajak Rania mengalihkan tatapan keingintahuan sang suami, ia tidak ingin memperkeruh suasana hanya karena pesan tak penting dari pria di masa lalu nya.
Rania pun mulai melangkah kan kaki, namun tidak dengan Delta yang masih menatap punggung sang istri yang sudah berjalan terlebih dulu. Rasa penasaran pun kian menyeruak kala melihat sikap sang istri yang seperti tidak ingin menjelaskan apapun.
"Apa David yang mengirimi pesan itu?" tanya Delta dengan nada dingin, aura yang di pancarkan oleh nya juga begitu menakutkan hingga langkah mantap Rania terhenti. Wanita hami itu mengatur ritme jantung nya yang berdebar tak karuan. Entah sejak kapan Delta tau mengenai David.
"Sudahlah Mas, itu tidak penting. Siapapun yang mengirimi aku pesan tidak akan merubah apapun, karena aku sekarang sudah menjadi istri kamu, sekarang dan selama nya." jawab Rania mantap dan itu berhasil membuat wajah muram suami nya perlahan pudar dan tergantikan sebuah senyum yang begitu meneduhkan.
Rania begitu terpana melihat senyuman sang suami, yang menurut nya begitu langkah, ia pun berlari kecil dan menangkup kedua sisi wajah Delta dan menyatukan bibir mereka. Awal nya hanya kecupan, namun berubah menjadi ciuman yang memabukkan untuk kedua nya.
"Aku menginginkan kamu, sayang. Apa boleh aku menyentuhmu saat ini?" tanya Delta dengan suara serak menahan gairah yang sudah berhasil di bangunkan oleh istri kecil nya itu.
Rania tersenyum dan mengangguk pelan, untuk pertama kali nya ia mengiyakan permintaan suami nya itu.
"Apa aku bisa menolak, di saat diriku juga menginginkan sentuhan mu, Mas." bisik Rania dengan suara menggoda.
Tak membutuhkan waktu lama, Delta pun menggendong tubuh berisi istri kecil nya itu dan di baringkan kembali ke atas ranjang. Rania menggigit bibir bawah nya saat melihat roti sobek yang terpampang di depan nya, berulang kali ia menelan saliva nya dan entah kapan pakaian nya sudah terlepas dari tubuhnya.
__ADS_1
Tak dapat di pungkiri, Rania diam-diam mengangumi tubuh sixpack suami nya yang menurut diri nya begitu seksi dan menggoda. Dengan penuh kehati-hatian Delta pun mulai melancarkan aksi nya.
"Tubuhmu begitu indah, sayang. Ini terlihat mengemaskan dan aku menyukai nya." bisik Delta sembari menjilati kuping Rania dengan sensual nya, sembari salah satu tangan nya mulai memainkan buah dada yang cukup besar dan terlihat begitu menggiurkan.