
Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh Delta, di mana hari ini ia berniat mengajak Rania berkunjung ke kediaman orang tua nya, sejak kedatangan Rania beberapa hari yang lalu ia tak kunjung mempertemukan Rania dengan kedua orang tua nya.
"Mommy meminta aku untuk berkunjung ke rumah utama, jika kamu tidak keberatan ikutlah bersama dengan ku kesana." ajak Delta.
"Nggak mau ah, kamu aja yang pergi." tolak Rania, ia malu bertemu dengan kedua orang tua suami nya mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu di mana diri nya pergi tanpa mengucap kan satu kata apapun.
"Ya sudah jika kamu nggak pergi, aku juga nggak jadi pergi." balas Delta dan ikut duduk di sofa samping Rania.
"Mana ada seperti itu, pergi sana! entar di kira aku nggak bolehin kamu pergi." usir Rania yang tidak habis pikir dengan pikiran Delta.
"Pergi jauh-jauh sana, kenapa juga duduk di samping aku." kesal Rania saat menyadari Delta duduk di samping nya.
"Apaan sih, orang cuman duduk juga!" tubuh Delta terus di dorong oleh Rania, namun sayang Delta tetap duduk tanpa memperdulikan ocehan Rania.
"Aaissst.. dasar gila." teriak Rania, namun pada akhir nya ia kembali diam dan mulai memakan potongan apel yang di berikan Mbok Lin barusan.
Delta dengan santai nya mengambil sepotong apel dari piring Rania dan langsung memasuk kan apel tersebut ke mulut nya. Rania kesal bukan main dengan tingkah Delta yang seenak jidat nya.
"Mbok Lin, tolong kupasin apel sepiring lagi." pinta Rania dengan pelan nya, namun masih bisa di dengar oleh Mbok Lin yang sedang menata sarapan di meja makan.
"Baik Nona muda." balas Mbok Lin.
"Emang sepiring gitu bisa kamu habisin?" tanya Delta yang tidak percaya, pasal nya piring Rania masih terlihat banyak potongan apel nya, namun wanita hamil ini masih minta nambah.
"Ini Nona muda." ucap Mbok Lin sembari menaruh apel di atas meja.
Kini Rania mengambil piring yang berisi apel dan menyodorkan piring tersebut ke arah Delta.
"Siapa bilang ini untuk aku! aku meminta nya agar kamu nggak sembarangan ambil punya aku." ucap Rania dengan santai nya.
__ADS_1
Delta pasrah, ia pun mengambil piring tersebut dan mulai menyantap potongan apel itu bersama Rania yang juga menikmati potongan apel di piring nya sendiri.
Bunyi high hells menerpa gendang telinga kedua nya, Rania maupun Delta saling pandang. Delta berharap itu adalah Mommy nya, ia pun tak memperdulikan lagi dan kembali fokus membawa email yang di kirim Galfin, melihat Delta yang acuh membuat Rania urung melihat siapa yang bertamu pada waktu pagi hari. Wanita hamil itu kembali mengunyah apel di piring nya.
Hingga tiba di mana, sebuah tangan melingkar di bahu suami nya, Delta pun mematung pasal nya ia mengenali tangan tersebut dengan cepat nya Delta menghindar dan segera berdiri.
"J-jenifer?" gumam Delta pelan.
"Iya, aku datang honey. Seperti janji aku ke kamu, setelah kontrak aku selesai aku akan mengunjungi kamu dan aku udah siap menikah dengan kamu." jelas wanita yang di sebut Jenifer itu dengan wajah bahagia nya.
Awal nya Rania tak menggubris aksi wanita itu, namun saat wanita itu menyebut kan kata pernikahan tiba-tiba membuat hati nya begitu sakit, ia tidak tau apa yang di rasakan saat ini. Rania mencoba mengontrol emosi nya, ia menghirup udara lalu perlahan menghembuskan dengan perlahan. Setelah merasa cukup Rania berdiri dan berlalu kembali ke kamar tanpa melihat Delta maupun Jenifer.
Delta mematung kala melihat Rania pergi begitu saja, Delta hendak mengejar Rania namun Jenifer menahan pergelangan tangan nya.
"Honey, main yuk. Aku kangen dengan sentuhan kamu." ajak Jenifer dengan bergelayut manja di lengan Delta.
"Hey, bumil ku yang cantik dan imut." sapa seorang gadis yang menjadi lawan bicara Rania.
Rania tersenyum saat melihat kedua sosok sahabat nya Abel dan Medina di layar ponsel nya. "Hey juga sayang, apa kabar dengan kalian?" balas Rania dan kembali menyapa kedua sahabat nya.
"Kami baik, ketemuan yuk. Udah lama kita nggak jalan bareng." ajak Medina dengan wajah sedih nya.
"Gimana ya, ok aku siap-siap dulu, nanti kirim lokasi ketemuan kita, ya sudah aku tutup dulu." balas Rania setuju dan ini adalah salah satu cara untuk menghindar dari Delta.
Rania mengenakan dress selutut berwarna tosca, dengan riasan wajah yang begitu tipis saja diri nya terlihat begitu cantik meski berbadan dua namun kecantikan nya tak sedikit pun berkurang. Rania yang telah siap pun menarik tas selempang kecil nya dan berlalu keluar dari kamar.
Tampak Delta sedang duduk dengan wanita nya, ia tertegun melihat Rania yang tampil cantik dengan dress hamil, dengan cepat nya Delta beranjak dan berdiri di depan Rania.
"Mau kemana?" tanya Delta yang tau Rania akan berpergian.
__ADS_1
"Terserah aku dong mau kemana! bukan urusan kamu juga kan?" balas Rania ketus, ia di buru waktu karena taksi yang di pesan nya sudah sejak tadi menunggu nya.
Delta menatap Rania dengan tajam nya.
"Kembali ke kamar, jangan buat aku marah Rania!" ucap Delta dengan dingin nya, namun Rania tak menggubris ucapan Delta, ia membalas tatapan tajam pria itu.
"Apa kau kira aku akan takut dengan mu dan kembali ke kamar? tidak Delta, hubungan kita hanya sebuah kesepakatan, jadi aku mohon jangan ikut campur dengan privasi ku, okey!" balas Rania dengan menekan kata kesepakatan. Setelah mengatakan itu Rania berlalu pergi dan tidak mau memperdulikan ancaman Delta.
"Selangkah lagi kau melewati pintu itu jangan pernah berharap untuk kembali lagi." desis Delta tanpa berpikir panjang.
Mendengar ultimatum yang di lontarkan Delta, seketika itu langkah Rania terhenti, ia pun membalik kan badan nya dan menatap Delta dengan penuh kebencian.
"Jika itu kemauan kamu, maka aku bisa apa. Toh di sini sudah ada kekasih mu jadi cepat lah kau menabur benih mu pada kekasih mu itu agar keinginan kedua orang tua mu terpenuhi, maka setelah itu aku akan bebas dari belenggu pernikahan paksa ini!" balas Rania dengan dingin nya, setelah nya ia berlalu pergi tanpa memperdulikan lagi teriakan Delta.
Entah kenapa mendengar penuturan Delta tiba-tiba membuat Rania menangis, ia tidak menyangka jika Delta bisa berucap seperti itu.
Sebegitu benci kah kamu kepada ku? aku mencoba bertahan dengan segala sikap angkuh mu, tapi kenapa kau selalu saja membuat hati ini membenci kamu lagi dan lagi? gumam Rania dengan berlinang air mata tanpa bisa di tahan.
Mbok Lin yang berada di sana pun mematung, ia dengan cepat nya menyadarkan Delta.
"Tuan, apa yang anda lakukan? apa anda sadar dengan ucapan anda barusan?" tanya Mbok Lin dengan berani berdiri di depan Delta, Jenifer yang duduk pun tersenyum miring melihat keretakan rumah tangga pria yang di cintai nya. Melihat pembantu Delta yang hendak menghasut Delta, Jenifer dengan cepat nya mendorong tubuh Mbok Lin hingga tersungkur ke lantai.
Rania yang hendak naik ke mobil pun urung di lakukan mengingat ponsel nya masih ada di atas meja rias nya.
"Pak, bisa tunggu sebentar nggak, ponsel saya tertinggal di dalam rumah, saya akan menambah tarif nya." tanya Rania.
"Baik nona." balas sang supir taksi.
"Siapa kamu yang berani menceramahi Delta!" teriak Jenifer dengan marah, ia pun melayangkan tamparan nya ke arah Mbok Lin namun seketika pergelangan tangan nya di tahan oleh seseorang.
__ADS_1