
"Silahkan duduk, Tuan." Rania mempersilahkan klien nya untuk duduk.
"Kenapa kamu bekerja saat kondisi kamu sedang hamil, Rara?" tanya sang pria dengan raut wajah tak suka.
Rania tak menggubris pertanyaan pria di depan nya. "Ini draf rancangan yang anda minta, Tuan." Rania menyodorkan beberapa lembar kertas berwarna putih ke depan pria tersebut.
"Jawab pertanyaan ku, Rara!" sentak pria itu yang masih saja mencecar Rania dengan pertanyaan yang tidak bisa Rania jawab di depan umum.
"Merry, tinggalkan kami." titah nya kepada sang sekertaris.
Setelah kepergian Merry, pria itu pun menatap lamat-lamat gadis yang di cari nya beberapa bulan belakangan ini. Ia sangat merindukan gadis di depan nya saat ini, namun ia begitu terpukul kala melihat perut wanita di depan nya yang membesar.
"Itu privasi saya, Tuan. Saya harap Tuan bisa profesional dalam pertemuan ini." balas Rania telak, ia tidak ingin menjalin hubungan apapun dengan pria di depan nya lagi.
"Sampai kapan kamu akan terus menghindar dari ku, Ra. Sekembali nya aku dari Kota Z, aku tak dapat menemukan kamu di mana pun. Apa yang sebenar nya terjadi? dan kenapa kau harus bekerja dalam kondisi seperti ini!" pertanyaan demi pertanyaan terus saja di lempar oleh lawan bicara Rania. Rania tidak siap menceritakan segala nya kepada pria yang berada di depan nya.
"Aku mohon, jangan mencecar aku lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang nggak bisa aku jawab saat ini." akhir nya Rania berucap, ia memohon kepada pria di depan nya untuk tidak bertanya lagi seputar kehidupan nya.
"Ok, tapi setelah pertemuan ini berakhir kau harus ikut bersama ku, okey. Tak ada bantahan lagi." pria tersebut pun menekan setiap ucapan nya.
Rania pasrah, ia tak ingin menyakiti pria di depan nya lagi dengan seribu kebohongan yang di tutupi nya selama ini, pria itu berhak tau mengenai apa yang terjadi pada diri nya kala itu. Jika saja malam itu Rania tidak membantah ucapan pria di depan nya untuk tidak menjemput nya di bandara, mungkin kedua nya masih bersama hingga saat ini. Rania pun mengangguk lemas.
__ADS_1
Hampir tiga jam berlalu, Senja sore pun mulai berganti menjadi malam, Rania kini sedang mempresentasikan rancangan yang di buat nya semalam, pria yang menjadi klien nya tersebut, tersenyum puas kala beberapa ide cemerlang yang Rania cetuskan adalah konsep yang selama ini ia impikan, oleh karena itu tanpa membuang waktu lebih lama lagi mereka pun saling menandatangi berkas kerja sama. Pria itu dengan penuh kelembutan menyodorkan sepiring makanan bergizi ke hadapan Rania.
"Makanlah! sudah tiga jam berlalu sejak pertemuan kita, tak sekali pun kau mengganjal perut mu." titah sang pria yang merasa kesal melihat Rania menyibukkan diri nya dengan berkas- berkas di depan mereka tanpa peduli dengan sesosok nyawa di dalam perut nya.
Rania yang sedang fokus menulis beberapa poin pun, perlahan mengangkat wajah nya menatap pria di depan nya. "Makasih." cicit Rania dengan malu nya.
"Habisin makanan nya, masalah draf itu bisa di kerjakan besok saja." ucap pria itu lagi dengan penuh perhatian.
David, maaf! maaf aku sudah melukai hati kamu.
"Hey, kenapa kau menangis?" tanya David ketika memergoki Rania yang menatap nya dengan tatapan kosong dengan bulir air mata yang sudah jatuh ke pipi nya.
Rania yang termenung pun tak mendengar panggilan dari David. Pria itu merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Rania. David pun berdiri dan duduk di samping Rania. Ia mengguncang pelan tubuh Rania, hingga wanita itu kaget dan gugup.
Rania tak menjawab, ia hanya menatap pria di samping nya dengan pandangan kosong, hingga pada detik berikut nya isak tangis yang begitu memilukan menusuk masuk ke Indra pendengaran David. Pria itu pun menarik tubuh Rania ke dalam dekapan nya.
"M-maafkan aku, semua nya hancur dalam sekejap. Andaikan waktu itu aku mendengar larangan kamu mungkin semua ini nggak bakalan terjadi." cicit Rania dengan terbata di ikuti tubuh nya yang bergetar hebat karena isakan tangis nya.
"Udah jangan nangis lagi." David mencoba menenangkan Rania yang terus saja terisak, dengan lembut nya David mengusap punggung belakang gadis itu.
"Kamu sudah janji untuk ikut aku pergi, ya sudah ayo kita pergi." ajak sang pria dan di anggukin Rania.
__ADS_1
Tubuh Rania masih saja berada di dekapan David, kedua nya pun berjalan keluar, namun saat hendak David mendorong pintu restoran, mata nya bertemu dengan manik mata tajam Delta yang menatap tak suka saat melihat diri nya berjalan bersama Rania. David memicingkan mata nya, ia tidak suka di pandang seperti itu oleh siapa pun, termasuk Delta yang ia ketahui adalah lawan bisnis nya.
"Apa ada masalah, Tuan?" tanya Mery yang berada di belakang mereka.
Rania yang tidak tau menahu pun perlahan mengangkat wajah nya, tubuh nya bergetar kala melihat siapa yang berada di depan mereka, ia pun mengerat kan cengkraman tangan nya pada kemeja David. Menyadari tangan Rania yang mengeratkan cengkraman nya, Davin pun menatap gadis tersebut.
"Ada apa? apa kau tidak enak badan?" tanya David khawatir melihat peluh yang sudah membasahi pelipis Rania.
Rania tak menjawab, ia terus menunduk tanpa mau melihat David maupun pria di depan nya.
"Mery, kau kembali lah! aku akan mengantar Rania kembali." titah nya kepada sang sekertaris.
"Baik, Tuan Muda." balas Mery dan berlalu keluar terlebih dahulu.
Pria dengan sorot mata tajam itu menatap tak suka ketika melihat kedekatan Rania dan David. David masih saja berdiri meminta penjelasan Delta atas tatapan tak suka pria itu terhadap diri nya dan juga Rania. Namun mengingat Rania yang sedang tidak baik-baik saja membuat David memutus kontak mata nya dengan Delta dan menuntun Rania keluar dari restoran.
"Ikuti mereka, cari tau di mana tempat tinggal Rania. Beri sedikit pelajaran pada David, buat ia mengerti untuk tidak mendekati Rania lagi." titah pria tersebut kepada asisten nya, kala melihat punggung belakang Rania yang baru saja keluar dari restoran tersebut.
Dasar wanita murahan! Mengapa juga aku harus peduli dengan gadis murahan seperti dia, dan perasaan ini mengapa terasa ada sesuatu yang mendorong ku untuk menyelidiki tempat tinggal gadis itu.
Tak berselang lama seorang wanita dengan pakaian kurang bahan menghampiri sosok Delta.
__ADS_1
"Honey, kenapa kamu menghindari aku terus menerus sih? Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" rengek sang gadis dengan begitu manjanya.