Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
9. Menolak


__ADS_3

Kini Rania sudah duduk di depan seorang wanita paru baya yang menatap nya dengan penuh kasih sayang.


"Nak, gimana kabar kamu dan janin kamu?" tanya Meriska dengan sayang.


"Alhamdulillah baik Bu. Oh iya, ada keperluan apa Ibu memanggil Nia? apa Nia melakukan kesalahan tanpa sengaja?" balas Rania dan menanyakan perihal diri ya di panggil.


"Nak, pemimpin perusahan sedang mencari sekertaris, dan Ibu gak tau harus milih siapa, Ibu hanya bisa milih kamu karena hanya kamu yang termasuk dalam kriteria Bos. Ini peluang bagus buat karir kamu." jelas Meriska dengan serius.


"Beri Nia waktu Bu untuk berpikir, tapi jujur Nia udah ngerasa bersyukur banget menjadi bagian dari manajement desainer." ungkap Nia merasa bersyukur dengan apa yang dia dapatkan saat ini.


Meski Rania belum lama bekerja di Ammar group, namun dengan prestasi yang ia dapat sewaktu masa kuliah membuat ia langsung di angkat menjadi Manager Desainer, perusahan mana yang tidak akan menerima wanita muda berprestasi dan menjadi lulusan mahasiswa terbaik di Universitas terkemuka, jabatan yang di raih nya bukan hanya di berikan karena memiliki koneksi namun semua itu sudah murni dari kesepakatan dan pertimbangan beberapa pemegang saham untuk merekrut nya menjadi seorang Manager Desainer. Semua staf kantor pun tercengang saat tau staf baru langsung di angkat menjadi manager namun seiring berjalan nya waktu, Rania membuktikan kemampuan nya yang mumpuni sehingga semua orang merasa bangga terhadap diri nya.


Setelah pembicaraan panjang dengan Ibu Meriska, kini Rania sedang duduk termenung di ruangan nya. Entah apa yang harus di rasakan oleh nya saat ini, bahagia atau sedih namun di lihat dari raut wajah nya ia seperti tidak rela meninggalkan tim nya yang sudah menemani diri nya sejak tiga bulan yang lalu.


"Apa aku tolak saja permintaan Bu Meriska?" tanya Rania pada diri nya sendiri. Setelah mendapatkan jawaban nya, Rania pun dengan mantap menemui Bu Meriska saat kembali dari makan siang.


Tok..tok.


"Masuk." ucap Bu Meriska dari dalam.


Rania pun memberanikan diri masuk ke ruangan itu setelah mendapat persetujuan sang pemilik ruangan tersebut.


Melihat kedatangan Rania kembali, Bu Meriska segera mempersilahkan Rania untuk duduk.


"Bu, Nia minta maaf sebelum nya, tapi Nia nggak bisa nerima jabatan itu. Nia nggak bisa ninggalin tim yang udah nemanin Nia hampir tiga bulan belakangan ini." ucap nya dengan menunduk, ia merasa tidak enak hati menolak permintaan wanita paru baya yang sudah begitu baik membimbing nya selama ini.


"Ibu ngerti dengan perasaan kamu, tapi coba pertimbangkan ulang dengan matang sebelum kamu menolak nya. Semua nya Ibu kembalikan ke kamu." balas Bu Meriska yang masih teguh meyakinkan Rania untuk menerima jabatan tersebut.

__ADS_1


"Nia tau, Ibu peduli dengan Nia, dan Nia berterima kasih ke Ibu karena sudah mau membimbing Nia sampai sejauh ini. Tapi sungguh dari lubuk hati Nia yang terdalam, Nia belum siap mengambil jabatan sebesar ini, maaf. Jika tidak ada lagi, Nia pamit dulu Bu." ucap Rania dengan penuh keyakinan, ia pun beranjak dan keluar dari ruangan itu.


Bu Meriska tampak gusar pasal nya ia takut dengan apa yang akan di hadapi Rania ketika permintaan sang pemimpin di tolak mentah-mentah oleh nya.


'Apa yang harus lakukan? aku nggak mungkin bilang ke Tuan Delta jika Rani menolak permintaan nya, aku terlalu takut sesuatu menimpa nya mengingat tempramen Tuan Delta yang tak memandang bulu mau itu laki-laki atau pun perempuan.' Bu Meriska tampak memijit pelipis nya dengan seribu pemikiran nya, lamunan nya terbuyarkan kala interkom di meja nya berbunyi. Wanita paru baya itu yakin, jika yang menghubungi nya saat ini pasti sang pemimpin. Bu Meriska pun mencoba menenangkan kegugupan nya sebelum menerima telpon tersebut. Belum sempat diri nya mengucapkan salam pembuka, baritone berat sudah terdengar marah kepada nya.


"Apa kau tidak mengindah kan perintah saya? kenapa Rania tak kunjung datang ke ruangan saya, hah!" suara yang tajam itu berhasil membuat Bu Meriska bergetar, pasal nya ia tau apa saja yang bisa di lakukan sang pimpinan jika kehendak nya tak terpenuhi.


"Maafkan saya, Tuan. Tapi Rania menolak jabatan tersebut, saya sudah coba membujuk nya namun ia tetap pada pendirian nya. Rania takut jika ia bekerja terlalu berat akan berdampak pada janin nya, oleh karena itu ia menolak jabatan tersebut." balas Bu Meriska dengan kata-kata yang sudah di atur oleh nya agar Rania tak kena imbas dari penolakan tersebut.


"Shiit!" desis Delta dengan marah sembari memutuskan sambungan telpon secara sepihak.


"Galfin, seret Rania kesini, apapun cara nya!" titah nya kepada sang asisten.


"Baik Tuan." balas Galfin dan berlalu keluar dari ruangan nya.


Apa yang aku pikirkan? mungkin ini hanya kebetulan saja.


Tok..tok.


"Masuk!" seru Delta dari dalam.


"Tuan, Nona Rania sudah ada di sini." ucap Galfin.


"Bawa dia masuk." balas Delta yang masih berdiri menyesap segelas cairan berwarna kuning di depan kaca besar yang memperlihat kan keindahan kota A.


"Selamat siang, Tuan." Rania mengucapkan salam saat menginjak kan kaki nya kedalam ruangan besar tersebut.

__ADS_1


Hampir seperempat jam ia berdiri, tak sedikit pun pria di depan nya menanggapi diri nya. Hingga tak berselang lama ia merasakan kebas di kaki nya karena sudah berdiri cukup lama. Hingga di detik berikut nya, tubuh nya bergetar kala sosok di depan nya berbalik menghadap ke arah nya, tubuh nya bergetar hebat, mata nya berembun namun ia mencoba menahan segala perasaan yang berkecamuk yang menyerang tubuh nya, ia menahan segala sesak di dada nya, ketakutan akan kejadian malam itu seolah berputar kembali.


"Lama tak jumpa, Rania." ucap Delta memecah keheningan di antara mereka.


Rania melangkah mundur dan hendak berbalik meraih handle pintu, namun belum sempat memutar kenop pintu, pergerakan nya terhenti kala mendengar ancaman Delta.


"Selangkah saja kau keluar dari ruangan ini, aku pastikan kau akan ku tembak." ancam Delta yang perlahan lahan berjalan ke arah Rania.


Rania meremas kenop pintu itu dengan kuat, ia menghapus kasar bulir air mata yang sudah jatuh di pipi nya, dengan gerakan cepat Rania membalik kan tubuh nya, ia menatap pria itu dengan raut kebencian.


Rania tersenyum sinis, ia dengan berani menantang Delta. "Ayo tembak! jika itu memang tujuan kamu datang lagi ke kehidupan ku!" tantang Rania dengan dingin tanpa rasa takut sedikit pun.


Rania merentang kan tangan nya dan perlahan memejamkan kedua mata nya, ia sudah pasrah dengan takdir yang terus saja mempermainkan diri nya. Delta yang berada di depan nya pun hanya menatap lekat wanita yang tiga bulan terakhir ini sering mengganggu pikiran nya. Dengan satu hentakan tubuh Rania di gendong oleh nya, Rania merasa tubuh nya melayang, dengan perlahan ia pun membuka pejaman mata nya, ia memberontak dengan gila.


"Turunkan aku brengsek!" teriak Rania dengan keras nya, tak hanya berteriak, Rania berulang kali memukul dada Delta namun sayang pukulan itu seperti tidak terasa di tubuh kekar Delta.


Dengan perlahan Delta mendudukkan Rania di sofa. Rania dengan seribu kekesalan nya pun menyiram wajah Delta dengan air yang berada di atas meja tamu.


"Dasar pria psikopat!" maki Rania dengan kemarahan nya, ia pun hendak beranjak dari sana namun tangan nya di cekal dengan kuat oleh Delta.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu, duduklah!" titah nya kepada Rania, namun Rania yang sudah terlanjur membenci diri nya tak mengindahkan perintah nya.


"Mari kita menikah! demi anak yang ada di janin kamu." ucap Delta tanpa rasa bersalah.


"Anak ini tak memerlukan belas kasih dari pria berhati iblis seperti kamu! tanpa kamu aku masih bisa menghidupi anakku. Jadi maaf permintaan kamu di tolak." balas Rania dengan sengit nya.


"Terserah kau mau bilang apa, yang pasti nya pernikahan kita akan berlangsung besok hari." tekan Delta dengan mengeraskan rahang nya.

__ADS_1


__ADS_2