Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
48. Menghabiskan waktu berdua


__ADS_3

"Maafkan aku juga, Mas. Maaf aku sudah meragukan kamu, habisnya aku kesal kamu nggak pernah ngabarin aku sejak terakhir kita bicara." sesal Rania dengan segala sikap kekanakan nya.


"Iya, Mas juga minta maaf, karena lupa mengabari kamu, karena ponsel Mas tiba-tiba nggak ada entah hilang kemana, saat mau kembali ke sini tiba-tiba Jasmine memberikan ponsel Mas katanya ponsel Mas di temukan di bilik toilet restoran." jelas Delta perihal tidak mengabari sang istri.


"Sejak kapan ponsel Mas hilang?" tanya Rania merasa ada yang janggal.


"Sehari sesudah Mas bicara sama kamu. Emang ada apa?" tanya Delta.


"Apa Jasmine ada bilang sama Mas jika aku nelpon Mas?" tanya Rania yang mulai menaruh curiga pada sekertaris suaminya.


"Kan ponselnya hilang, tapi tunggu dulu, tadi kamu bilang kamu ada nelpon Mas, kapan? kok Mas nggak tau." tanya Delta makin penasaran dengan pertanyaan sang istri.


"Keesokan harinya aku nelpon, tapi yang ngejawab panggilan ku Jasmine, aku pun meminta Jasmine untuk meminta Mas menghubungi ku, tapi tak kunjung ada kabar dari Mas hingga seminggu penuh." jelas Rania dengan perasaan kesalnya.


"Udahlah Mas, intinya semua ini ulah si Jasmine, pecat ia sekarang juga, aku curiga ada sesuatu yang sedang di rencanakan wanita penggoda itu. Aku nggak mau tau, mulai besok aku nggak mau lihat wanita itu di perusahan lagi, jika Mas menolaknya maka aku akan melakukan nya dengan cara aku sendiri!" ancam Rania dengan menekan beberapa kata di akhir ucapannya.


"Jangan khawatir Jasmine sudah mendapatkan hukuman yang setimpal dari Galfin, dan mulai besok juga ia sudah tidak bekerja di perusahan kok." balas Delta dengan yakin, mengingat sorot mata Galfin yang menatap nyalang ke arah Jasmine hingga menyeret wanita itu bagaikan seekor binatang.


"Mau jalan nggak? tadi itu Mas minta Galfin menjemput kamu buat Mas ajak jalan-jalan sebagai tanda permohonan maaf Mas yang tidak menepati janji waktu itu." ajak Delta.


"Ya sudah Mas keluar deh, aku mau siap-siap dulu." usir Rania karena ia masih malu berganti pakaian di depan suaminya.


"No! Mas akan tetap di sini menunggu kamu, ayo cepat bersiap." tolak Delta tanpa ada bantahan.


"Hey boy, apa kabar kamu di sana sayang? Ayah nggak sabar bertemu kamu, apa Ayah bisa mengunjungi kamu?" Delta mengecup perut buncit Rania penuh sayang dan mengajak sang anak berbicara, alangkah terkejutnya Delta saat ucapan nya di respon oleh sang buah hati dengan tendangan yang cukup kuat hingga Rania memekik saat merakan tendangan di perutnya.

__ADS_1


"Waahh kau menyetujui nya boy, makasih sayang, Ayah mencintaimu boy." seru Delta kegirangan, Delta pun beranjak dan tanpa aba-aba menyambar bibir ranum istri nya yang begitu memabukkan.


Mendapat serangan tiba-tiba dari sang suami, Rania melotot, ia begitu terkejut dengan aksi gila suaminya itu. Hingga penyatuan pun kembali terjadi di antara mereka. Setelah mendapatkan apa yang di inginkan Delta, pria itu segera menggendong tubuh sang istri menuju kamar mandi.


"Mas, kau itu mesum sekali sih!" gerutu Rania penuh dengan kekesalan.


"Tapi kau suka kan?" goda Delta dan berhasil membuat pipi Rania merona merah kembali.


"Siapa bilang, aku tuh hanya nggak mau jadi istri durhaka karena menolak permintaan suami!" elak Rania yang sungguh malu kala mendengar ucapan suami nya.


Bukan merasa tersinggung dengan ucapan sang istri, Delta mala tersenyum dan kembali menggoda istri kecil nya itu.


"Aahh Mas, ini enak sekali." goda Delta lagi meniru gumaman Rania saat melakukan penyatuan barusan.


"Aaissttt! apaan sih! ngeselin banget deh!" gerutu Rania sambil keluar dari kamar mandi dengan wajah merona bak kepiting rebus, melihat itu Delta mengulum senyum.


Semoga setelah ini, rumah tangga aku sama Mas Delta berjalan baik dan kami di karuniai banyak anak-anak cantik dan tampan.


Seketika Rania tersadar dan memukul kepala nya karena sudah memikirkan cara memproduksi banyak anak.


Aaiissstt! apa coba yang gue pikirin, satu aja belum keluar udah mau yang banyak.


Setelah selesai bersiap, Rania pun keluar dari walk in closed. Tampak sosok sang suami baru saja keluar dari kamar mandi. Delta pun perlahan berjalan mendekati istrinya dan memberikan kecupan hangat di dahi istri nya tersebut.


Keduanya pun mulai berjalan keluar kamar dengan jari jemari saling bertautan. Bi Lin beserta para Art lainnya tersenyum bahagia melihat sepasang suami istri yang kembali berbaikan.

__ADS_1


"Bi kami pergi keluar dulu, nanti malam masak saja untuk Bibi dan lainnya, karena kami akan kembali esok hari." jelas Delta dengan wajah datarnya.


"Baik Tuan, hati-hati di jalan." balas bi Lin dengan senyum yang meneduhkan.


"Ya sudah kami pergi dulu." seru Delta lagi dan berlalu keluar membawa istirnya menuju mobil mereka.


Tak berselang lama, mobil yang di kendarai Delta pun perlahan meninggalkan pelataran mansion. Di sepanjang perjalanan raut bahagia terpancar dari wajah keduanya.


"Mas kita mau kemana?" tanya Rania.


"Nanti juga kamu tau kok, yang pastinya hari ini Mas mau menghabiskan waktu berdua aja tanpa ada gangguan dari siapapun." jawab Delta penuh dengan rahasia yang tidak Rania ketahui.


Lagi-lagi Rania hanya bisa mengulum senyum, ia tidak menyangka jika hubungan di antara mereka bisa sejauh ini. Apa yang di katakan orang-orang mengenai Benci menjadi cinta itu benar adanya, terbukti pada hubungan mereka yang di dasari kebencian hingga sebuah cinta yang tulus kian menumbuh pada hubungan mereka yang sejak awal mereka sendiri seperti enggan membuka hati satu sama lain.


Menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam, mobil itu pun memasuki pelataran rumah kayu yang begitu besar dengan penjagaan ketat, Delta pun memarkirkan mobil tepat di depan pintu masuk rumah.


"Mas, ini Villa siapa?" tanya Rania heran, pasalnya baru kali ini ia tau jika di perbatasan kota A ada villa megah dan begitu asri.


"Punya kita dong, masa punya orang." balas Delta asal.


Kedatangan mereka di sambut antusias oleh seorang wanita paru baya, wanita itu pun menunduk hormat.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya." sambut wanita paru baya dengan menunduk hormat.


"Hhmm" gumam Delta dan kembali menarik sang istri memasuki rumah, karena cuaca di sana makin dingin.

__ADS_1


"Mas, bisa nggak mukanya jangan di buat datar begitu, itu kan orang tua Mas, aku nggak mau ya liat muka Mas kayak gitu lagi!" tegur Rania tak habis pikir dengan sifat suaminya yang sangat irit bicara apa lagi tersenyum kepada orang lain.


"Udah jangan cemberut lagi. Kamu pasti lelah kan, kita ke kamar dulu dan istirahat." ajak Delta sembari menuntun istrinya menuju kamar yang ada di lantai dua.


__ADS_2