Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
57. Permintaan Ashraf


__ADS_3

Si pembuat onar: Pria yang sama menculik asisten suami mu dalam perjalanan ke rumah sakit di hari lahiran anak kalian.


Me: Tunggu kabar dariku, seminggu lagi kita adakan pertemuan. Aku akan minta bantuan kak Jibril, dan berhenti mengawasi ku, Al. Aku merasa risih dengan orang-orang yang kau tebar di mana pun, terlebih penembak jitu yang berada di gedung seberang.


Si pembuat onar: Itu sudah kewajiban kami memastikan keselamatan kamu. Cepatlah sembuh, sebelum misi terakhir kita tiba. Kabari aku jika sesuatu hal mencurigakan di sekitar kamu.


***Me: Baiklah, makasih atas bantuan kalian.


Si pembuat Onar: Sudah seharusnya, Rania***!


Hari yang di tunggu-tunggu Rania maupun Delta telah tiba, sudah satu minggu berlalu, kini Rania pun sudah di perbolehkan pulang setelah mengikuti beberapa serangkaian prosedur rumah sakit, kepulangan Rania kali ini mendapat pengawasan ketat dari kedua orang tua mereka tak terkecuali Tuan besar Hanthony yang memerintahkan puluhan pengawal untuk mengawal kepulangan cucu dan kedua cicitnya.


Awal nya Rania kesal dengan keinginan sang Kakek. Namun Hanthony berhasil membuat Rania bungkam setelah mengatakan segala permasalahan pelik yang terjadi berpuluh puluh tahun lama nya, hingga wanita itu akhirnya pasrah dan mengikuti keinginan sang kakek.


"Makasih udah memberikan dua malaikat kecil di kehidupan Mas. I Love you, sayang." bisik Delta penuh cinta sambil mendaratkan beberapa kecupan di wajah istrinya di selah perjalan pulang mereka.

__ADS_1


"Sama-sama Mas, makasih juga udah hadir dalam kehidupan aku, Mas. Makasih atas segala nya. I Love You to, Mas." balas Rania sambil mengecup bibir suaminya penuh cinta.


Di sepanjang perjalanan pulang, Rania maupun Delta mengajak kedua anak mereka berbicara. Namun fokus Rania kali ini teralihkan saat mata nya tak sengaja melihat kaca spion, di mana ia melihat ada beberapa mobil yang mengejar mobil mereka dari arah belakang dua mobil pengawal kiriman sang Kakek yang berada tepat di belakang mobil mereka.


Sebisa mungkin Rania mencoba tenang, Ibu dua anak itu tampak meraih sesuatu dari balik dress yang ia kenakan. Sebuah benda kecil ia lemparkan ke arah jalanan melalui celah kaca jendela yang terbuka sedikit. Setelah nya ia pun kembali memfokuskan diri ke arah ponselnya.


Ya, tak berselang lama mobil yang membuntuti mereka akhirnya berhenti, dan terlihat dua sosok pria turun dan mengambil barang yang sempat di jatuhkan Rania di jalan tadi.


Setelah memastikan tidak ada yang membuntuti mereka, Rania pun bernafas lega. Sungguh ia kesal dengan sekawanan sahabatnya, terlebih dia kesal dengan Alden. Pria setengah matang itu lah yang memberikan perintah pada teman-teman organisasi mereka untuk mengawal kepulangan nya bersama anak dan suaminya.


Hampir sejam perjalanan akhirnya iring-iringan mobil mereka memasuki pelataran mansion, kedatangan mereka di sambut antusias oleh Sandra, Bik Lin dan lainnya termasuk keluarga besar mereka.


"Selamat datang Nyonya, banyak selamat atas kelahiran Tuan dan Nona Muda, rumah ini akan menjadi ramai dan berwarna dengan kehadiran mereka." sambut Bik Lin dengan antusias dan tangis haru.


"Makasih Bik, dan mulai sekarang pekerjaan Bik Lin akan bertambah dengan kehadiran mereka." balas Rania dan gelak tawa pun menghiasi kedatangan kedua malaikat kecil itu.

__ADS_1


Seluruh keluarga pun berjalan masuk, mereka lebih memilih berkumpul di ruang keluarga. Rania bersama kedua Ibunya mulai bercengkrama dengan kedua anaknya, sedangkan sang pria kini terlibat dalam pembicaraan serius, terlebih raut wajah kekhawatiran tampak jelas di wajah ketiga paru baya yang sedang duduk bersama Delta.


"Nak, Ayah tau apa yang terjadi saat perjalanan kalian ke rumah sakit seminggu yang lalu, dan masalah Galfin, Ayah dan Daddy mu serta Kakek sudah mengerahkan orang-orang terbaik kami untuk membebaskan dia dari sangkar mafia licik itu. Kami hanya berharap kamu bisa menjaga Arezha dan kedua cucu kami, berjanjilah untuk selalu mengutamakan keselamatan mereka." ujar Burack yang menaruh harapan besar pada menantunya itu.


"Ayah, Kakek dan Daddy jangan khawatir, apapun yang terjadi Delta akan selalu memastikan keamanan mereka, Delta nggak bakalan biarin siapapun menyentuh satu di antara mereka." balas Delta dengan tegas dan penuh dengan keyakinan.


"Setelah Galfin bebas, Daddy hanya minta kepada kamu untuk berhenti dari dunia bawah tanah, mau kan kau memenuhi permintaan pria tua ini? kami takut sesuatu menimpah kalian." ucap Ashraf penuh dengan permohonan.


Delta diam, ia tidak tau harus menjawab apa dengan permohonan sang Daddy, pasalnya jika saat ini ia berhenti dari dunia bawah tanah, sudah di pastikan musuh akan menyerang mereka dengan membabi buta, dan itu membuat Delta takut, takut akan keselamatan istri dan anak-anak nya. Dan itu tidak akan pernah ia biarkan.


Diam-diam Rania mencuri pendengaran para pria-pria tersebut, ia yakin dan percaya jika Delta pasti tidak akan menyetujui permohonan Daddy mertuanya, karena Rania sendiri sependapat dengan suaminya saat ini. Rania pun berniat membantu suaminya secara diam-diam dengan bantuan organisasi rahasianya.


Apapun yang kau hadapi sekarang dan di masa mendatang, aku akan selalu mendukung kamu, Mas. Aku yakin kita bisa melalui ini semua tanpa ada yang harus di korbankan.


"Untuk sekarang biarkan Delta terus bergelung dengan dunia bawah tanah, kita sebagai orang tua hanya mengawasi saja keselamatan anak dan cucu kita. Jika kau memerlukan bantuan apapun, jangan sungkan mengatakan nya, Nak. Karena Kakek akan berada di barisan terdepan untuk membantu kamu apapun itu." ujar Benedict yang siap memberikan setengah hidupnya kepada Delta demi kebahagian cucu dan cicit nya.

__ADS_1


"Makasih Kek udah mau memahami situasi Delta saat ini. Delta janji Delta nggak bakalan biarin apapun menimpah istri dan anak-anak Delta." jawab Delta optimis, ia yakin jika semuanya akan baik-baik saja.


__ADS_2