
"Selamat datang kembali, Tuan." sapa sang pengelola sirkuit tersebut.
"Lama tak jumpa, Nando. Siapa pengendara mobil itu? cara mengemudi nya terlihat mahir dan baik."
"Pengunjung setia di sirkuit kami, beliau seorang wanita dewasa, tapi hingga kini, kami tak pernah tau siapa nama beliau." jelas Nando jujur, karena memang sejak kedatangan Rania belasan tahun lalu tak satu pun dari mereka yang tau namanya.
"Seorang wanita? jangan becanda, tidak mungkin seorang wanita bisa menguasai sirkuit dengan cara mengemudi seperti pembalap dunia." balas Delta tak percaya.
Obrolan keduanya terhenti kala sorakan dari para penonton mengalihkan atensi keduanya ketika pengemudi itu menghentikan mobilnya, tanda pertunjukan nya telah usai.
Seketika sorot mata Delta mengelap saat tau siapa wanita dewasa yang bermain di sirkuit miliknya, entah mengapa ada rasa takut yang tiba-tiba hinggap di hatinya, ia begitu takut sesuatu menimpa mantan istri nya, dengan kemarahan yang berkobar, Delta melangkahkan kaki nya mendekati wanita tersebut.
"Apa yang ingin kau tunjukkan pada mereka? kau ingin di puji karena berhasil menaklukan sirkuit! jangan bodoh, kau bisa saja merenggang nyawa di arena!" bentak Delta marah, sorot mata pria itu begitu datar dan dingin.
Deg..
Tubuh Rania membeku sempurna, dia tidak mungkin lupa dengan suara itu, dengan perlahan ia membalikkan tubuhnya, kini mata keduanya saling mengunci satu sama lain.
"Bukan urusanmu, jika pun aku mati, setidaknya orang yang paling di benci oleh mu berkurang satu, itukan yang kau inginkan?" balas Rania tak kalah dinginnya.
Delta menyunggingkan senyum devilnya. Dan itu membuat Rania memejamkan matanya sesaat, ia tau senyum itu mengisyaratkan jika pria di depannya masih sangat membenci dirinya hingga kini.
"Minggir!" desis Rania dingin.
__ADS_1
Baru dua langkah yang di ayunkan olehnya, terdengar seruan menyakitkan yang di lontarkan Delta, dan itu berhasil membuat hatinya sakit bukan main.
"Kematian terlalu mudah untuk seorang pengkhianat seperti mu! tapi jika menurutmu kematian bisa membuatku puas, buktikan jika kau siap mati untuk menebus segala kesalahanmu di masa lalu, dan mungkin itu bisa membuatku memaafkan mu!" seru Delta asal tanpa tau jika apa yang ia ucapkan olehnya berhasil membuat lawannya terprovokasi.
"Baik. Jika Kematian ku bisa membuat mu bahagia, maka kau akan melihat jasadku saat ini juga." balas Rania.
Dengan hati yang begitu sesak menahan kepedihan di hatinya, Rania menyetujui ucapan Delta, di benci oleh orang yang masih memegang tahta tertinggi di hatinya, membuat hidupnya terasa tak berarti lagi. Kematian menjadi keputusan terakhirnya.
Wanita dewasa itu berbalik dan segera masuk ke dalam mobilnya, suara bising dari knalpot membuat Delta tersadar akan ucapannya barusan, dengan cepat ia meraih handle pintu mobil dan membukanya. Dengan satu hentakan ia menarik tubuh wanita itu keluar.
"Dasar bodoh! apa yang kau lakukan? apa kau pikir setelah kematian mu, aku akan bahagia? tidak Ra, kematian mu akan membuat ku lebih membencimu, dan setelah nya aku akan menjadi gila karena menjadi penyebab kematian orang yang masih bertahta tinggi di hatiku!" teriak Delta marah, sambil mendekap erat tubuh mungil Rania yang tampak bergetar.
"Aku tak sanggup lagi, Mas. Hanya ini tempat yang bisa membuat ku tenang setelah kepergian kamu dan Mikayla. Aku nggak sanggup lagi Mas, jika harus menerima kebencian kamu dan Mikayla, andaikan waktu bisa di putar kembali, aku nggak bakalan nutupin identitas ku sama kamu, Mas. Sekali lagi maafkan aku." lirih Rania dengan tangisnya.
*****
"Shittt!!!" umpat Ayla marah.
Beberapa saat yang lalu, setelah merasa kepalanya agak baikan, Ayla segera pamit keluar dari ruangan pria tersebut. Baru saja langkahnya ingin menuju mobil jemputan, ia di kejutkan dengan sebuah video yang di kirimkan seseorang kepadanya. Di mana dalam video itu, sang Ayah sedang berpelukan dengan seorang wanita yang sangat di bencinya.
Dengan amarahnya, gadis cantik itu mengambil alih kemudi dan meninggalkan sang supir yang telah di perintahkan Uncle Nya untuk menjemputnya.
"Brengsek! sampai kapan pun aku nggak bakalan maafin kamu, Bun." desis sang gadis dengan wajah memerah.
__ADS_1
Dua jam berlalu, mobil yang di kendarai Ayla berhenti tepat di sebuah rumah mewah dengan penjagaan yang begitu ketat. Awalnya ia ragu untuk mendekati rumah mewah tersebut, namun melihat mobil sang Ayah yang terparkir di dalam nya, membuat sosok labil sepertinya menjadi penasaran akan siapa pemilik mansion mewah tersebut dan apa hubungan nya dengan sang Ayah.
Melihat sebuah mobil terparkir di depan area mansion membuat beberapa penjaga mansion tersebut curiga, salah satu dari pria itu mendekati mobil tersebut.
Tok...tok..tok
"Nona, ini area terlarang, anda tidak bisa berada di area ini." jelas pria bertubuh tinggi itu dengan sopan.
"Maaf Paman, saya kesini karena Ayah saya yang meminta. Apa saya boleh tau, siapa pemilik mansion ini?" tanya Ayla yang jiwa penasaran nya mengalahkan gengsinya.
"Maaf bukan kewenangan saya untuk menjawab pertanyaan Nona. Jika tidak ada lagi, saya mohon maaf, Nona harus segera pergi dari sini." jelas sang pria lagi penuh kesopanan.
"Mobil yang ada di dalam sana milik Ayah saya, ini foto Ayah bersama saya." ujar Ayla sembari memperlihatkan layar ponselnya yang di mana ada foto ia bersama Delta yang menjadi wallpaper ponselnya.
"Maafkan saya Nona, saya tak bermaksud lancang. Mari saya antar ke dalam. Tuan dan Nyonya ada di ruang tamu." pinta sang pria dengan wajah pucat pasi.
"Paman tak perlu meminta maaf, Paman hanya menjalankan tugas Paman saja." balas Ayla tak tega melihat wajah pucat pria berumur di depannya.
Pagar besi yang menjulang tinggi itu pun perlahan-lahan terbuka, sebelum masuk Ayla melemparkan senyum kepada para pria penjaga tersebut. Setelah berhasil memarkirkan mobilnya tepat di belakang mobil sang Ayah, Ayla segera turun, wajah nya yang semula ramah kini berganti dengan wajah datar dan dingin.
Langkah demi langkah ia ayunkan menuju pintu utama mansion tersebut. Dengan sekali dorongan pintu tersebut terbuka lebar, Ayla segera masuk, sepersekian detik Ayla bisa menangkap suara canda tawa, emosi nya kembali meledak mengingat jika Ayah nya sedang bermesraan dengan Bunda nya.
Beberapa pasang mata menatap kedatangan Ayla, yang mereka sendiri merasa bingung dengan kedatangan gadis cantik tersebut.
__ADS_1
"Siapa kamu? sungguh tak sopan." hardik seorang wanita paru baya yang tak lain ialah Regina, Ibu dari Dania.