Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
81. Kekesalan Gailel


__ADS_3

Jam weker yang berada di atas nakas terus saja mengeluarkan bunyi yang cukup mengusik tidur seorang gadis, dengan malas nya gadis itu meraih jam weker itu dan menyimpan nya kedalam laci nakas, setelah berhasil menyingkirkan benda tersebut, gadis itu pun kembali memejamkan matanya, namun selang beberapa menit ia bangun dengan tergesa-gesa akibat kesadarannya yang sudah terkumpul.


"Ohhh good, kenapa aku bisa melupakan hari ini? astaga, dasar kebo kau, Mikayla!" oceh sang gadis meruntuki kebodohannya sendiri.


Secepat kilat, gadis itu berlalu menuju kamar mandi, sungguh ia tidak menyangka jika ia akan melupakan kejutan yang telah ia nantikan beberapa bulan yang lalu. Setengah jam berlalu, gadis itu pun keluar dari kamar mandi dan berlalu ke arah walk in closet. Setelah menatap pantulan dirinya di depan cermin, gadis itu segera menyambar kunci mobil nya dan segera meninggalkan apartemen nya menuju area basement di mana mobilnya berada.


Ayla segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, tak lupa juga ia menyetel musik dan memainkan lagu favorit kesukaan nya sembari ikut bersenandung.


Setelah mengendarai mobil kurang lebih 30 menit, akhirnya ia sampai di bandara. Ayla berjalan masuk menuju area tunggu dengan terus memainkan ponsel di tangannya tanpa melihat ke depan hingga ia tanpa sengaja menabrak tubuh seseorang.


Brugghhh...


"Maaf." cicit Ayla sambil menahan sakit pada bokongnya.


"Dasar bodoh! kalau jalan pake mata, dasar wanita ceroboh!" bentak orang yang baru saja di tabrak oleh Mikayla.


Mendengar bentakan pria itu, Ayla menjadi kesal dan menyesal telah meminta maaf kepada pria tersebut. Dengan cepatnya Ayla berdiri dan melayangkan tatapan meremehkan ke arah pria tersebut.


"Jika aku bodoh, kau juga bodoh brengsek! karena membiarkan tubuh kita saling menubruk!" balas Ayla tanpa peduli dengan sorot mata pria itu yang menyorotnya dengan tajam.


Rombongan pria itu menganga tak percaya mendengar makian gadis itu kepada sosok yang selalu di hormati mereka, salah satu dari pria itu maju dengan tangan yang sudah mengayun di udara hendak menampar mulut Mikayla, namun dengan kecepatan kilat, Ayla menangkis tangan pria itu, dengan satu kali hentakan, tubuh pria itu terpental beberapa meter.


"Kau!" geram sang pria, sambil menunjuk wajah Mikayla dengan jari telunjuknya. Kemarahan tampak jelas di wajah pria itu, namun tak juga membuat seorang Mikayla merasa takut.

__ADS_1


"Apa kau tunjuk-tunjuk hah? Apa kau juga ingin bernasib sama dengan kacungmu itu?" Gailel menganga tak percaya mendengar umpatan dan ancaman dari gadis di depannya, ingin rasanya ia menyumpal bibir merah ranum di depannya, andai mereka tak berada di depan umum.


Teringat akan tujuan awalnya, Ayla melangkah maju dan menggigit jari telunjuk pria itu, tak lupa juga ia menginjak sepatu kinclong pria tersebut. Setelah nya ia berlari menjauh, namun sebelum menjauh sepenuh nya dari rombongan pria tersebut, Ayla kembali berteriak.


"Dasar pria tua jelek!" teriak Ayla sambil mengacungkan jari tengah nya. Gadis itu pun segera berlari saat mendengar umpatan pria itu.


"Wow, sungguh gadis yang pemberani. Aku tak menyangka jika gadis itu memiliki keberanian menghadapi pria dingin dan kejam sepertimu, Gail." celetuk Alfin dengan senyum mengejek.


"Diam atau peluru ini akan menembus kepalamu, Al!" ancam Gail penuh kekesalan.


'Sial, awas kau gadis gila. Kelak aku akan memberi perhitungan dengan mu, kucing kecil.'


"Udah deh Al, kau tak seharusnya mengejek nya, tapi jika di pikir-pikir, gadis itu memiliki nyali yang patut di acungin jempol karena telah berhasil membungkam seseorang seperti sahabat kita ini." timpal Brayen


"Jangan memperdulikan ucapan mereka, kakak pasti sudah menunggu kedatangan kita, ayo pergi, jika perlu tinggalkan saja dua pria jomblo ini di sini." ajak Gian. Dan mulai melangkahkan kaki nya menuju area luar bandara.


Gail yang terbiasa siaga, tampak menghentikan langkahnya kala menangkap siluet seseorang yang sudah dua puluh tahun lama nya ia cari keberadaan nya. Dengan cepat pula ia berlari mengejar orang tersebut, namun ia kala cepat dengan mobil yang membawa tubuh orang tersebut semakin menjauh dari area bandara.


"Shiitt! aku yakin, itu pasti Tuan Delta, ya aku tak mungkin salah mengenali nya,." gumam Gail yakin.


"Ada apa? kenapa kau terlihat panik?" tanya Gian.


"Sabotase CCTV yang ada di sini, waktumu 15 menit dari sekarang!" titahnya dan langsung di setujui oleh Gian.

__ADS_1


"Baiklah, kau akan segera mendapatkan rekamannya sebelum kita tiba di kediaman Kakak." balas Gian menyanggupi perintah sahabat sekaligus atasan nya itu.


****


Melihat kedatangan sang Ayah, senyum di wajah Ayla mengembang seketika. Dengan sedikit berlari, Ayla menghampiri tubuh renta Delta, melihat itu Delta ikut tersenyum sambil merentangkan tangan untuk menyambut Putri kesayangannya.


"Aku merindukanmu, Ayah. Sangat merindukan, Ay sayang Ayah." seru nya dengan bahagia.


"Ayah juga merindukanmu, Nak." balas Delta sambil mendekap erat tubuh sang putri penuh sayang.


Setelah melepas rindu dengan pelukan hangat penuh kasih sayang, kedua nya pun perlahan melangkah keluar menuju mobil. Tampak sosok Galfin sudah menunggu kedatangan kedua nya, pria dewasa itu sudah berdiri tepat di samping mobil, ada seutas senyum terukir di wajah Galfin kala melihat sahabat sekaligus Tuannya datang ke Negara yang selama ini di hindarinya.


"Ada apa? kenapa wajahmu di tekuk seperti itu? apa kau baru saja di putusin oleh pacarmu?" goda Galfin saat kedua nya sudah berdiri tepat di samping mobil.


Mendengar itu, Ayla mencebikkan bibir nya. Tak lupa juga, gadis cantik itu berhamburan memeluk sang Uncle penuh kerinduan, meski ia sendiri tau jika beberapa bulan ini sang Uncle diam-diam tinggal di unit sebelah apartemen nya.


"Uncle tau, Ay tadi bertemu pria tua jelek yang sangat mengesalkan, ingin rasa nya Ay mematahkan hidung mancung nya." jelas nya penuh kekesalan mengingat tingkah sombong pria tadi.


"Sudah jangan cemberut lagi, entar cantik nya hilang loh. Ayo kita pergi." bujuk Galfin sembari menuntun sang keponakan masuk ke mobil.


Setelah memastikan Ayla duduk, Galfin pun kembali menegakkan tubuh nya menerima pelukan sang sahabat.


"Gailel sedang melihat ke arah kita, pria itu juga yang sempat bersitegang dengan Ayla. Masuklah, sebelum ia menghampiri kita." bisik Galfin sembari menyunggingkan seutas senyum mengejek ke arah Gailel yang berdiri tak jauh dari mereka.

__ADS_1


Delta pun menganggukkan kepala, dan segera masuk ke pintu belakang, dengan cepat pula Galfin masuk dan menjalankan mobil itu dengan kecepatan tinggi meninggalkan bandara.


__ADS_2