
Karena bosan, Rania pun keluar dari kamar, kali ini ia berniat ingin pergi ke kantor suami nya, oleh karena itu wanita hamil itu sedang berada di dapur bersama Nadin dan juga Sandra.
"Kak, makan siang nya udah siap." ucap Sandra sembari menyodorkan rantang yang sudah berisi makan siang.
"Makasih ya untuk kalian berdua yang udah mau bantuin aku siapin bekal makan siang Delta." balas Rania sambil tersenyum hangat ke arah kedua gadis di depan nya.
"Itu sudah kewajiban kami kakak." balas kedua nya serempak.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Nanti kapan-kapan kita jalan lagi ya, tapi kali ini kamu harus ikut ya Nadin." ajak Rania kepada kedua gadis muda di depan nya.
"Baik kak, hati-hati di jalan." seru kedua nya sembari mengantar sang majikan ke depan rumah.
Hampir dua puluh menit, mobil yang di tumpangi Rania pun perlahan lahan memasuki pelataran perusahan suami nya. Malik selaku supir pribadi nya pun dengan sigap membukakan pintu.
"Makasih Malik, kau tak usah menunggu, mungkin aku akan kembali bersama suami ku." jelas Rania yang tak ingin merepotkan Malik.
"Baik Bu, saya pamit undur diri." balas Malik dengan membungkuk sopan.
Rania berjalan memasuki perusahan milik suami nya. Hampir tiga minggu berlalu sejak kejadian itu, ia baru berkunjung kembali ke kantor suami nya.
Setiap langkah demi langkah, karyawan yang berpapasan dengan nya selalu menyapa nya sopan, yang ia balas dengan anggukan ramah. Tidak terlewat dengan karyawan yang lajang saat melihat kedatangan istri atasan mereka yang kian hari semakin memancarkan pesona nya meski dengan keadaan perut yang tengah hamil besar.
Aura wanita hamil nya makin menonjol, saat ia mengenakan dress hamil, membuat siapa saja yang melihat nya sangat gemas dan juga iri ingin di posisi itu.
Rania yang baru saja keluar dari lift di mana lantai suami nya berada, mengerutkan alisnya heran. Di mana meja yang seharusnya di duduki oleh Galfin, kini di duduki oleh seorang wanita. Perasaan kesal dan cemburu kian menyeruak saat melihat penampilan wanita itu yang mengenakan rok span yang tidak sesuai untuk seorang sekertaris di tambah dengan kemeja yang kancing nya ia lepas dua dan memperlihatkan buah dada nya yang begitu menonjol.
Rania yang kesal pun berjalan melewati meja sekertaris tersebut, dan hendak membuka pintu ruangan suami nya. Namun suara dan pegangan tangan seseorang menghentikan pergerakan nya.
__ADS_1
"Tunggu, siapa anda yang seenak jidat nya berjalan masuk tanpa permisi dan hendak masuk ke ruangan Delta." suara wanita itu meninggi dengan cekalan tangan yang kian mengerat di pergelangan tangan Rania.
Rania mencoba meredam emosi nya, sungguh Delta harus menjelaskan siapa wanita ini, bisa-bisa nya wanita ini mengucapkan nama suami nya tanpa embel-embel Tuan. Sungguh tidak sopan bukan? Rania makin meradang saat wanita di depan nya menatap nya dari kepala hingga kaki dengan pandangan meremehkan.
Rania menepis kasar tangan wanita itu dan kembali membuka handle pintu ruangan suami nya. Melihat Rania yang mengabaikan keberadaan nya membuat wanita itu mengejar Rania yang sudah berhasil masuk ke ruangan atasan nya.
"Hei kau tidak boleh masuk sembarangan!" teriak sang wanita berlari mengejar langkah Rania dan kembali mencekal pergelangan Rania.
Mendapat perlakuan seperti itu lagi dan lagi, membuat Rania murka, ia pun menepis tangan wanita itu lagi, dan dengan gerakan cepat Rania menampar wanita itu.
Plakk
Delta yang baru saja ingin menginterupsi sang sekertaris untuk keluar, terhenti kala melihat sorot mata tajam istri nya.
Mendapat satu tamparan dari wanita hamil di depan nya membuat Jasmine meradang, ia pun hendak membalas apa yang di lakukan wanita hamil itu, tangan nya sudah mengudara, namun mendengar ancaman atasan nya urung ia lakukan.
"Istri? sejak kapan kau menikah, D?" tanya sang wanita dengan wajah terkejut.
"Perbaiki sopan santun mu kepada atasan saat bekerja!" ucap Delta datar, dan dengan gerakan tangan ia pun mengusir Jasmine dari ruangan nya.
"Sayang ayo duduk. Kenapa nggak bilang jika kamu mau kesini?" setelah Jasmine keluar.
"Apa aku perlu ijin dulu kesini?" tanya Rania masih dengan perasaan kesal nya.
"Maksudku bukan seperti it-" belum usai Delta berbicara Rania langsung menyelanya.
"Apa kau takut jika sewaktu waktu aku kesini dan memergoki kamu selingkuh, kan?" tuding Rania.
__ADS_1
"Siapa yang selingkuh, sayang? mana mungkin aku menduakan istri ku yang sangat aku cintai ini, terlebih sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ayah." ucap Delta lembut agar istri nya tidak berpikir macam-macam dan berimbas dia akan tidur di luar malam nanti.
"Apa kamu memecat Galfin? dan mengantikan ia dengan seorang wanita agar kamu bisa leluasa melihat buah dada nya yang menyembul itu?" cecar Rania kesal yang duduk membelakangi suami nya itu.
"Hei, dengarkan aku dulu." ucap Delta lagi sembari membalikkan tubuh istri nya agar menghadap ke arah nya.
"Apa? dia saja memanggil mu dengan sebutan D. Itu arti nya kalian dekat bukan?" suara Rania mulai meninggi mengingat panggilan wanita itu yang sok akrab dengan suaminya.
Delta menepuk jidat nya, sungguh ia kalah telak jika urusan adu mulut dengan istri kecil nya ini.
"Astaga, dengarkan aku dulu, okey. Nama nya Jasmine ia mengantikan Galfin untuk sebulan lama nya, karena saat ini Galfin sedang ke Turkey menyelesaikan beberapa masalah di sana. Jasmine teman kuliahku dulu." jelas Delta panjang lebar agar istri nya tidak berpikir aneh aneh.
"Meskipun kalian berteman, tidak seharusnya ia memanggil mu seperti itu, terlebih kau atasan nya!" jengkel Rania.
"Jangan bilang jika kau membiarkan ia yang terus memanggilmu seperti itu?" lanjut Rania.
"Tidak sayang, mungkin ia lupa. Sudahlah jangan bahas dia lagi."
"Setelah Galfin kembali, segera pecat wanita penggoda itu!" seru Rania penuh penekanan dan langsung di iya'kan oleh Delta yang tak ingin di perpanjang masalah yang tidak penting.
"Aku senang melihat mu cemburu." Delta mengecup perut buncit istri nya itu.
"Apa aku tidak boleh cemburu pada suami ku sendiri? apa kamu juga tidak akan cemburu jika aku bersama pria lain?" tantang Rania membuat aura Delta menjadi gelap dan dingin.
"Jangan berani-berani nya kamu dekat dengan pria lain. Bukan hanya pria itu yang akan ku hancurkan, kamu pun akan aku kurung di dalam kamar hingga kau tidak bisa melangkah sedikit pun!" seru Delta serius dengan wajah dingin nya. Dan itu membuat Rania bergidik ngeri.
"Sudahlah, aku lapar." seru Rania mengalihkan kegugupan nya kala melihat sorot mata tajam suaminya.
__ADS_1
Tau jika sang istri sedang mengalihkan pembicaraannya, Delta menghela napas pelan untuk meredakan emosinya yang tiba-tiba muncul kala ucapan sang istri.